001. antara cinta dan kekaguman

2K 127 8
                                    

Seperti kebanyakan anak-anak remaja seusianya, aku juga merasakan jatuh cinta. Tak pernah kukira bahwa cowok sempurna yang biasa kubaca di Wattpad dan novel itu nyata.

Jantungku berdebar begitu kencang ketika pertama kali melihat Rhun—sahabat Mas Gala, kakakku—yang datang ke rumah untuk mengerjakan tugas kuliah. Bagi aku—yang pada saat itu belum genap empat belas tahun—Rhun adalah sosok yang diidam-idamkan.

Dia pasti salah satu mahasiswa populer di kampusnya. Semua cewek pasti mengaguminya.

"Ah, gue gak percaya Mas Rhun itu ganteng. Mana buktinya coba?" Tamara, teman sebangkuku sekaligus teman dekat, membuatku bergetar. Tentu saja celetukannya itu membuat Clara dan Wina—dua teman dekat lainnya—bereaksi sama. "Bisa jadi kan itu foto comot dari Pinterest!"

"Oke, kalau gitu ... besok gue bawa foto kita berdua!" seruku penuh semangat.

Sorenya, setelah kejadian itu, aku datang ke kampus Mas Gala dan menerornya di telepon.

"Lo kenapa tiba-tiba ada di kampus sih? Gak ngasih tahu dulu pula? Mau ngapain? Hah? Minta foto bareng sama Rhun? Wah, udah gila nih kayaknya adek gue. Gak, gak bisa!"

Mas Gala ngomel-ngomel dari seberang telepon. Katanya dia sedang mengerjakan tugas makalah, sampai-sampai harus keluar dari perpustakaan agar tidak kena lempar buku sama orang-orang di sana.

"Ayo-lah, bantuin. Kalau Mas bujuk, Mas Rhun pasti mau deh."

"Lagi pula buat apa sih mendadak minta foto sama dia? Ngibul ya lo sama teman-teman kalau udah punya pacar anak kuliahan? Wah, kacau sih pertemanan anak SMP zaman sekarang."

Ya, memang benar pacaran sama anak kuliah terlihat keren di mata teman-teman. Namun, siapa juga anak kuliahan yang naksir anak SMP? Aku memang naksir berat sama Rhun, tetapi kalau membayangkan jadi pacarnya, rasanya aku tidak berani. Mungkin suatu saat nanti, jika aku sudah memantaskan diri.

"Kalau gak mau bantuin ... gue bakalan ngadu ke mama kalau kemarin Mas Gala bolos mata kuliah Menggambar Teknik karena ngajak cewek nonton bioskop!"

"ANJING!" umpatnya kasar. "Ini pasti Si Kafka Titisan Setan nih yang ngadu."

Kafka adalah sahabat baik Mas Gala, sekaligus teman sebangkunya di SMP. Hubungan mereka sempat renggang ketika harus berpisah saat masuk SMA yang berbeda. Namun, ketika mereka masuk universitas dan jurusan yang sama, mereka akhirnya dekat lagi. Aku sudah lama mengenal baik Kafka. Kami sering bertukar pesan singkat.

Bagi keluargaku, Kafka adalah mata-mata.

"Apa lo nyebut nama gue titisan setan?" kata Kafka, entah dari mana ia muncul. Adu mulut antara keduanya pun terjadi. Sebenarnya sejak tadi aku tidak benar-benar mendengar ucapan kakakku, tetapi ketika suara tawa Rhun terdengar, aku mulai pasang telinga baik-baik.

"Gimana nih, Rhun? Lo mau nggak?"

"Ya, boleh aja kok. Khusus buat adek lo."

Mendengar jawaban Rhun langsung memberikan kebahagiaan tak terkira untukku. Sampai-sampai tubuhku melompat kegirangan di depan Fakultas Teknik. Beberapa orang melihat tingkah anehku itu, tetapi aku lebih memilih tidak peduli.

Sesuai penjelasan Mas Gala, aku disuruh menunggu di Kantek. Aku duduk di bangku panjang dekat Somay Ujang. Setelah tugas selesai, aku akan segera menghampirinya.

Lumayan lama aku menunggu. Dari pesan satu piring somay sampai bubur ayam. Ice tehku juga sudah tandas tanpa tersisa. Sekumpulan cewek-cewek cantik—yang aku yakin bukan dari Fakultas Teknik—yang tadi bergosip heboh bahkan sudah pergi. Hanya ada tiga pria berambut gondrong—yang mirip mahasiswa abadi—duduk di hadapanku.

Aku mengenakan seragam SMP yang mencolok sehingga mereka bergunjing, lalu tertawa.

Aku tidak peduli. Namun, ketika salah satu dari mereka menggeser kursi plastiknya mendekat, nyaliku mendadak menciut.

"Mau nungguin siapa adik manis?"

Sebagai anak SMP, aku tidak mahir menyembunyikan rasa takutku. Bagai bahan candaan, pria itu makin berani. Di dalam hati, aku mengutuk Mas Gala yang tak kunjung datang.

"Bri nunggu di sini?" Suara familiar itu meruntuhkan ketakutanku. Tanpa menjawab, aku langsung lari ke belakang punggung Rhun. "Eh, Bang. Maaf ini adek gue."

Suara berat itu menahan amarahnya, tetapi masih sopan untuk ukuran orang yang ingin mengobrak-abrik seisi kantin. Padahal aku sudah menantikan adegan dramatis pemeran protagonis pria yang melindungi wanitanya. Sayang ... mereka berakhir saling sapa dan ketiga pria itu dengan sopan meminta maaf telah bertingkah lancang.

Ah, tetapi tunggu dulu. Bukankah tadi Rhun bilang aku adalah adiknya? Rasa kesal sudah tak tertahankan lagi sehingga membuatku menekuk wajah sampai ketiga pria tadi tak terlihat batang hidungnya lagi.

"Yuk!" ajaknya. Aku pun hanya terdiam terpaku melihat kedua lesung pipi Rhun ketika tersenyum. "Halo, Bri? Kita jadi foto bareng nggak?" Rhun menggoyangkan kedua telapak tangannya.

Aku tersadar dan langsung berbicara tergagap-gagap. Sepenuhnya aku sudah menyadari bahwa Rhun sangat tampan. Namun, ketika melihat dari jarak sedekat ini, ketampanannya bertambah seratus ribu persen. Kok bisa ya makhluk ganteng begini bisa temenan sama dedemit? (aka. Mas Gala)? Kalau Kafka masih masuk akal karena dia memang keren dan paling tinggi lagi di antara mereka.

Sial, sial, sial!!!! Dalam keadaan penting layaknya hidup dan mati, kenapa cobaan datang? Lama menunggu kedatangan Mas Gala, ponselku jadi mati karena kehabisan baterai. Untungnya saja Rhun membawa ponsel sehingga kami foto dari kameranya.

Dengan degup jantung tidak karuan, aku berfoto dengan Rhun. Kami selfie mengenakan kamera depan. Jaraknya sangat dekat sekali sehingga alih-alih tersenyum—seperti yang dilakukan Rhun—aku terpana memandang wajah pria itu.

"Ini udah oke belum?" tanyanya, yang tedeng aling-aling. Aku menjawab "Ya" tanpa melihat hasilnya. Bahkan jika di foto itu bibirku mangap lima sentimeter dan tampak bodoh, aku tidak akan rela menghapusnya.

"Nanti kirim aja ke Mas Gala ya, Mas."

"Lho, kenapa harus ke Gala? Mas aja nanti kirim ke Bri. Sini nomornya."

Suaranya itu lho, lembut sekali kalau ngobrol sama aku. Sebagai anak baru gede, mudah sekali untukku merasa GR. Jadi, belum apa-apa saja, senyumku sudah selebar daun kelor. Lalu dengan senang hati aku memberikan nomorku. Lagi pula ini kesempatan bagus agar bisa berkomunikasi terus dengan Rhun. Aku tinggal cari cara mencari topik pembicaraan saja.

"Makasih ya Mas Rhun. Mas nggak tanya itu fotonya buat apa?"

Rhun tersenyum lagi, mengelus pucuk kepalaku lembut. "Gak perlu kok. Apa pun alasannya, Mas Rhun sudah izinin Bri buat simpen foto ini. Mau Bri lihatin ke teman-teman juga boleh."

Lihat saja, attitude-nya berbeda sekali dengan Mas Gala yang galak dan cerewet. Padahal Rhun bukan kakakku, tetapi bisa mengerti posisi aku sebagaimana mestinya. Meskipun masih SMP, aku tetap punya privasi.

"Kamu pulang naik gojek? Eh, tapi hapenya mati ya? Mas Rhun anterin aja deh kalau gitu."

Seharusnya kalau di Wattpad atau novel, aku harus menolak dan jual mahal. Tetapi untuk kesempatan yang berharga ini—kapan lagi semobil sama cowok ganteng—aku memilih untuk diantarin pulang.

"Terus Mas Gala gimana?"

"Tugas kita masih banyak. Ya, sekalian aja keluar deh buat beliin mereka makan malam. Lagi pula, rumah Bri nggak jauh dari sini."

Sore itu, aku seperti merasakan salju turun di Jakarta yang terik ini. Tak pernah aku tahu bahwa ada kupu-kupu terbang di perutku—membuat aku tak pernah luput memandangi Rhun.

Di sisi lain, Rhun tahu itu. Tetapi ia tidak marah. Karena baginya, aku adalah adik kecil yang manis.





**to be continued**

nothing sweeter (selesai)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang