29. kenangan berharga yang di simpan Kafka

438 58 2
                                    

"Saya mau lebih serius sama Bri, Om. Memang hubungan ini baru berjalan setahun, tetapi kami sudah saling mengenal sejak lama, sejak Bri masih SMP. Saya tahu bagaimana Bri, dan tidak ada alasan untuk tidak menyukainya."

Rhun berbicara dengan suara yang mantap, tapi lembut. Ayah tersenyum lebar, terlihat jelas rasa bangga dalam matanya. Ibu pun tersenyum hangat, seperti memberikan restunya dalam diam. Ruang tamu yang biasanya ramai obrolan kini terasa lebih khidmat, seolah semuanya menyadari bahwa ini bukan momen biasa.

"Om bersyukur dengan niat baik Rhun," ujar Ayah sambil mengangguk. "Tidak hanya dengan Bri, keluarga kita pun sudah lama saling mengenal. Om kenal Prof Margono sebelum kamu dan Gala bersahabat."

Ayah Rhun, Prof Margono ternyata dulunya adalah kakak kelas ayah di sekolah menengah. Mereka sempat terpisah, tetapi takdir mempertemukan lagi saat reuni akbar. Kini, hubungan mereka semakin terjalin lewat persahabatan anak-anak mereka.

"Tetapi, Rhun," lanjut Ibu dengan nada lembut, "Bri kan masih punya kakak. Kita tanyakan dulu pendapat Gala, ya, apakah ia rela dilangkahi adiknya?"

Semua mata tertuju pada Mas Gala yang duduk di seberangku, tepat di sebelah Ibu. Mas Gala yang tadi terlihat hanya tertunduk lesu, mengangkat wajahnya perlahan. Wajahnya tampak biasa saja, tetapi matanya menyimpan sesuatu yang tidak semua orang bisa lihat—perasaan yang tampak rumit, meski ia berusaha menyembunyikannya.

Pandangan Gala beralih kepadaku dan Rhun bergantian, lalu ia menarik napas sejenak sebelum tersenyum kecil. Dengan suara yang terdengar stabil tapi sedikit tertahan, Gala berkata, "Briana adalah adikku satu-satunya, Bu. Dan Rhun... dia sahabat yang sangat berarti bagi Gala. Kalau mereka bahagia bersama, gak ada alasan buat Gala menghalangi niat baik ini."

Ayah, Ibu, dan Rhun hampir serentak mengucapkan, "Alhamdulillah." Senyum Rhun melebar, penuh rasa syukur, dan aku bisa merasakan tangan Rhun yang menggenggam jemariku dengan hangat.

Namun di sudut mataku, aku melihat Mas Gala menunduk kembali, sedikit menghindar dari tatapan kami semua. Tangannya mencengkeram ujung bantal sofa, mungkin menahan sesuatu yang tidak ingin ia tunjukkan.

"Kalau begitu, insyaAllah bulan depan keluarga saya akan datang ke sini, Om, Tante. Kebetulan bulan ini Papi masih ada seminar di beberapa kampus di Eropa," lanjut Rhun, suaranya tulus saat menatap Ayah dan Ibu.

Aku hanya bisa menahan napas, merasa antara tidak percaya dan bahagia karena restu ini kini ada di depan mata. Namun di tengah kebahagiaan ini, aku masih merasakan atmosfer yang terasa sedikit canggung. Ada sesuatu yang membuat suasana tak sepenuhnya lega.

Sesuatu yang mungkin tak terpikirkan oleh siapa pun di sini... kecuali Mas Gala.

Saat tanganku digenggam oleh Rhun, aku menoleh padanya dan melihat senyumnya yang hangat. Namun, ketika aku memalingkan wajah lagi, tak sengaja pandanganku bertemu dengan Mas Gala.

Di balik senyumnya yang terlihat tenang, aku bisa menangkap sekilas perasaan yang tampak berkecamuk—sesuatu yang begitu dalam, mungkin sebuah kesedihan atau beban yang ia pendam rapat-rapat.

Namun, dalam sekejap, Mas Gala memalingkan pandangannya lagi, seolah ingin menutup rapat perasaannya sendiri.

Hanya aku yang menangkap sekilas getaran hatinya yang tersembunyi, seolah ada jarak yang tak terucap di antara kami, jarak yang tak kumengerti.

**

"Gue masih simpen nih foto lo sama Mas Rhun waktu di kantek!" seru Tamara yang antusias—diikuti oleh Clara dan Wina. "Gue save soalnya Rhun ganteng banget! Hahahaha."

Kabar tentang Rhun yang ingin melamarku sudah sampai ke telinga mereka sehingga malam minggu ini aku sempatkan untuk berkumpul bersama. Lagi pula Rhun sedang sibuk degan proyek villa barunya.

nothing sweeter (selesai)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang