"Oke kalau lo maunya begitu. Jangan salahin gue kalau besok-besok nyokap ga kasih izin lo main keluyuran lagi!" Ancam Mas Gala dari seberang telepon sana. Aku mengeram kesal, lalu tanpa basa-basi langsung mematikan sambungan teleponnya.Rhun yang sedang duduk di kursi kemudi melirikku sekilas sebelum akhirnya memandang lurus ke depan kaca. Ia sempat tersenyum miring seolah-olah telah menang taruhan. Pria lima tahun lebih tua dariku itu menelepon Mas Gala dan memberi tahu bahwa aku sedang di acara pembukaan kafe baru—yang ternyata proyek bikinannya. Entah apa yang dia bicarakan sehingga mampu membuat Mas Gala marah.
Aku dan Deka sudah pacaran lima bulan dan aku tidak memberi tahu satu pun keluargaku. Bukan mau backstreet, tetapi aku merasa belum perlu saja. Lagi pula selama ini mereka tidak bertanya.
"Ayo cepat jalan keburu malam!" kataku kesal.
"Kamu marah?"
"Ya, menurut Mas Rhun gimana? Deka udah mau anterin aku pulang ke rumah. Terus tiba-tiba Mas Gala telepon biar aku pulang sama Mas Rhun saja!" Aku tidak bisa lagi bicara dengan tenang.
"Dia sudah sempat minum."
"Tapi dia gak mabuk."
"Tetap saja. Kalau di tengah perjalanan terjadi sesuatu gimana?"
Bibirku mengatup, berusaha mencari balasan yang mampu membungkam mulutnya. "Emang Mas Rhun gak? Bisa aja kan sebelum aku datang ke sana Mas Rhun juga minum-minum."
"I swear to God. I don't even drink," balasnya—masih dengan intonasi yang tenang. "Kalau aku beneran minum, aku ga bakal bawa mobil ke sini. I'm drive btw..."
Malam itu aku begitu kesal dan Rhun dan melupakan perasaanku. Yang kupikirkan hanyalah Deka. Ia pasti sangat kecewa padaku karena pulang bersama pria lain. Ditambah, Deka tahu pasti bahwa Rhun adalah cinta pertamaku. Well, sebelum pacaran aku berteman baik dahulu dengannya. Layaknya teman curhat, aku pun mencurahkan isi hatiku. Terlebih tentang Rhun yang sudah punya pacar baru.
Sepanjang perjalanan aku hanya diam. Rhun juga tampaknya tidak ingin membuka percakapan dan hanya fokus menyetir.
Setelah sampai rumah, aku tak lupa bilang terima kasih.
"Ya, sama-sama. Besok-besok kalau keluar jangan malam-malam, Bri." Rhun sama sekali tidak melihatku. Ia masih sama pada posisinya. Kedua tangan yang menggenggam setir, dan pandangan yang menatap lurus ke jalanan.
Mendadak aku mengurungkan niatku keluar mobil. Maksudnya apa sih? Kenapa dia kayak melarang ini dan itu, padahal bukan siapa-siapa. Sementara dia bebas pergi kapan dan dengan siapa saja.
"Aku rasa itu bukan urusan Mas Rhun. Aku sudah dewasa."
Mendengar jawabanku membuat terkekeh kecil. Entah apa dianggapnya lucu. Aku kira dia akan bicara omong kosong selayaknya pria yang menganggap dirinya superior dan dewasa. Ia menoleh ke arahku dengan senyum yang berbeda. Aku bisa melihat itu dari wajahnya yang tenggelam di remang-remang minim pencahayaan lampu. "Kalau begitu, bisa tolong buka block WhatsApp dan Instagramku?"
Sial, kenapa dia straight to the point banget sih. Ya, aku memang memblock dan hide dia di Instagram. Tetapi kenapa harus bilang secara langsung begini yang bikin aku otomatis salah tingkah dan berakhir mati kutu. "Itu ... eum ..."
"Buka, ya?"
"Ya, nanti."
"Sekarang."
"Nanti."
"Aku orangnya butuh kepastian dan gada jaminan setelah ini, atau besok, bahkan minggu depan kamu buka block-nya."
Aku berdecak pelan dan menghembuskan napas panjang. Buru-buru tanganku merogoh ponsel di mini bag yang dipangku di paha. Aku membuka kunci ponsel, lalu dengan lihai mengotak-atik aplikasi yang disebutkan Rhun tadi. "Nih, sudah. Puas?"

KAMU SEDANG MEMBACA
nothing sweeter (selesai)
ChickLitBriana selalu percaya bahwa cintanya pada Rhun-sahabat kakaknya-bukan sekadar cinta monyet. Sejak remaja, ia yakin pria itu adalah takdirnya. Bertahun-tahun kemudian, takdir kembali mempertemukan mereka di perusahaan yang sama. Kini, Bri punya kesem...