25. ucapan manusia yang menyakitkan hati

499 62 0
                                    

"Iya, Sayang gapapa kok. Kamu fokus kerja aja dulu, ya. Ini aku baru aja keluar lift, mau langsung ke ruangan Mbak Dena nih. Oke, nanti aku kabarin ya pas jam makan siang."

Aku langsung menutus sambungan telepon. Hari-hari seperti ini sudah biasa di antara hubungan kami. Rhun sedang sibuk ke luar kota untuk pekerjaan dan aku sudah mulai terbiasa meskipun awalnya sering uring-uringan juga.

Bagaimana pun, kami menjalani hubungan ini masih seumur jagung. Aku masih belajar untuk memahami Rhun yang lima tahun lebih tua dibandingkan aku.

"Mbak...." Aku mengetuk pintu ruangan Mbak Dena. Kemudian, ia pun menyuruhku untuk duduk. "Mbak manggil saya?"

Mbak Dena mengangguk, lalu terkekeh kecil. "Jangan tegang gitu dong ah. Sama Mbak ini kok."

Mbak Dena memang atasanku di kantor, tetapi dia juga teman baik Rhun. Kami pernah beberapa kali bertemu di luar jam kantor. Misalnya bulan lalu ketika suami Mbak Dena membuka coffee shop tak jauh dari apartemen Rhun. Sejak saat itu, hubunganku dan Mbak Dena jadi makin dekat.

"Tetap aja, Mbak. Di sini kan Mbak Dena atasanku, hehehe."

"Lucu bener deh pacar Rhun ini!" ujarnya yang entah kenapa membuatku tersipu malu. Padahal sudah hampir setengah tahun kami berpacaran, tetap saja rasanya mendebarkan hanya karena mendengar namanya. "Oke jadi langsung aja, ya!"

"Baik, Mbak."

"Kemarin aku, Bu Rini, sama manajemen rapat membahas tentang produktivitas kerja. Ya, kamu tahu, kan, selain salary, banyak hal yang buat karyawan betah. misalnya tentang lingkungan dan suasana kerja. Nah, menurut kamu, Bri ... bagaimana suasana kerja sekarang? Kamu ada ide atau masukan gak buat tim lebih nyaman bekerja?"

Aku berpikir sejenak. "Kalau menurutku, suasana kerja di sini sudah cukup nyaman, tapi rasanya masih ada ruang untuk membuat semua tim merasa lebih didukung. Beberapa teman sering bilang kalau mereka merasa lebih produktif kalau ada lingkungan yang lebih fleksibel dan apresiatif."

Mbak Dena menatapku penuh minat. Aku melanjutkan, "Mungkin kita bisa buat program yang memungkinkan tiap departemen menyampaikan ide atau kebutuhan mereka. Misalnya, dengan sesi diskusi bulanan bersama perwakilan tiap tim, supaya kita bisa tahu apa yang bisa kita lakukan untuk meningkatkan suasana kerja."

"Itu ide yang bagus, Bri. Kamu mau memimpin diskusi ini? Mungkin bisa mulai minggu depan, kumpulkan masukan dari tiap divisi."

Aku mengangguk setuju karena bagiku tugas seorang HR tidak hanya secara administratif saja tetapi juga memastikan lingkungan kerja aman dan nyaman. Kalau secara teori sih, dua aspek itu akan menunjang produktivitas untuk perusahaan.

Beberapa hari kemudian, aku mulai melakukan diskusi kecil dengan beberapa rekan di tim desain. Ruangan meeting yang biasa sepi kini penuh dengan obrolan, sesekali diikuti gelak tawa.

"Terima kasih ya sudah menyempatkan waktunya!" aku membuka dengan senyuman. "Sesuai arahan Mbak Dena kita mau diskusi soal ide-ide yang mungkin bisa bikin lingkungan kerja kita lebih nyaman dan mendukung performa ke depannya."

Alex, yang duduk di pojok, langsung angkat tangan. "Kalau dari tim desain sih, rasanya bakal lebih enak kalau ada ruang santai. Soalnya kalau lagi mumet, kadang kita perlu rehat sebentar buat nemuin ide baru."

"Gak cukup apa itu ruangan aquarium tim lo?" sahut Parto, salah satu tim marketing.

"Kalau bisa gue bobok, gue bobok dah itu ruangan Aquarium. Udah sepi kayak kuburan, orangnya fokus serius. Mana bisa gue kayak kalian saling bagi gosip," balas Alex dengan wajah Santai, dan semua tertawa. "Maksud gue ruangan khusus rehat, Par. Kalau di ruangan sih bukan rehat namanya. Ngeliat meja Pak Danu atau RHUN, yang gue inget revisi klien mulu."

Ketika nama Rhun disebut, semua orang bersorak "Ciyeeeeee" secara bersamaan. Hal itu membuat pipiku merah karena menahan malu.

"Udah dong... Yuk lanjutin diskusinya."

Pada akhirnya—meskipun aku mau diam-diam dulu—kedekatan aku dan Rhun makin terendus orang kantor. Mereka pernah beberapa kali memergoki aku dan Rhun pulang bersama atau pernah juga sedang jalan-jalan di mall. Belum lagi mulut Rico dan Alex yang ember.

Lita dari procurement mengangguk. "Gue setuju sih. Kadang kalau lagi ngurus order besar, rasanya tegang banget. Kalau ada spot khusus buat rehat, mungkin bisa bantu biar nggak terlalu stres."

Tino, perwakilan dari marketing, menambahkan, "Di marketing, kita sering ada deadline ketat. Mungkin sesi apresiasi tiap bulan juga bisa, semacam penghargaan kecil buat yang pencapaiannya bagus. Jadi, kita merasa lebih dihargai dan termotivasi buat kejar target."

Aku mencatat semua ide itu sambil tersenyum. Senang rasanya mendengar teman-teman terbuka dan antusias dengan gagasan ini. Mungkin awalnya aku ragu apakah ide ini akan diterima, tapi ternyata mereka benar-benar menyambut baik.

Setelah meeting selesai, aku langsung bergegas ke toilet. Namun, ketika aku hendak membuka pintu wc, obrolan tiga karyawan yang sedang berbincang membuatku mengurungkan niat.

"Caper banget gak sih si Bri itu?" ujar salah satu dari mereka.

"Ember. Dari dulu gue gak pernah suka ngeliat dia. Sok kecantikan, gatel, sok ramah. Kayak fake gitu gak sih anaknya?"

"Soalnya kalau gak gathel, Rhun gak bakalan ngelirik, Shay." Kemudian mereka cekikikan. "Tadi juga pas ngajak Alex meeting, suaranya kayak dimanja-manjain gitu. Jijik bener gue."

Deg. Leherku seketika panas menjalar ke mataku. Aku ingin menangis, dadaku begitu sakit. Apakah itu pendapat mereka tentangku?

"Lagian ya dia itu masuk ke sini juga karena Mbak Dena. Mereka kan udah kenal sebelum dia masuk sini. Ingat, Dena itu temen dekat Rhun."

Aku menggeleng cepat. Tidak. Aku masuk kerja di sini karena usahaku. Aku tidak pernah mengenal Mbak Dena sebelumnya.

"Padahal si Ririn anak Trisakti yang magang itu juga potensial, kan? Eh malah milih orang yang gak punya pengalaman. Lulusan UI sih, cumaaaa BIG NO deh."

Aku tidak menyangka bahwa ucapan manusia bisa semenyakitkan ini. Ketika mereka keluar, aku baru bisa menghela napas.

Tidak, aku tidak ingin menangis. Aku bukan perempuan lemah. Tetapi nyatanya, aku masih manusia. Siapa yang tidak sakit hati dibicarakan sebegitu kejamnya?

Tanganku merogoh ponsel di saku celana. Kemudian aku menghubungi seseorang untuk menjemputku pulang detik ini juga. Aku bisa bilang tidak enak badan dan izin pulang. Biar saja jika ada yang bilang aku pengecut. Setidaknya untuk hari ini saja aku ingin kabur dari sini.

Aku ingin menjaga diriku sendiri.

"Halo," jawab seseorang di seberang telepon sana. "Halo, Bri, ada apa? Kok diem aja?"

"Mas," kataku tak bisa menahan tangis yang ingin pecah.

"Bri, halo, kamu nangis? kamu kenapa? kamu di mana?" Kafka terdengar sangat khawatir.

"Mas, bisa jemput aku gak di kantor? Aku mau pergi dari sini."

"Kamu kenapa? Rhun mana?"

"Jangan bilang Mas Rhun, please aku mohon, Mas. Untuk kali ini aja, tolongin aku."

Ada jeda sejenak, lalu suara Kafka kembali terdengar. "Sepuluh menit lagi aku sampai sana. Kamu jangan khawatir, ada aku, Bri."

**to be continued**

nothing sweeter (selesai)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang