33. Proyek Tidak Terduga

442 57 16
                                    



"Ngelamun aja, Bri." Mbak Ira datang bersama Rangga, sementara Syifa memang ada urusan luar kota. "Lagi mikirin apa sih?"

Jam makan siang kali ini kami memutuskan untuk makan di warung padang samping gedung. Tetapi karena mereka masih ada urusan pekerjaan, jadi aku yang datang duluan.

"Lagi mikirin tunangannya yang sibuk kali," jawab Rangga asal. Ia menarik kursi dan duduk di sebelahku sambil memasang ekspresi menggoda.

Aku tersenyum tipis karena kenyataannya aku memang sedang memikirkan Rhun.

Setelah kejadian itu, Rhun hanya beberapa kali menghubungiku. Itu pun bukan membahas tentang hubungan Mas Gala dan Gami. Hanya memberi kabar umum seperti, "Sedang apa?" atau "Aku lagi ada urusan kantor." Aku merasa, perlahan, ada jarak di antara kami.

Aku tahu Rhun pasti terguncang. Bagaimana tidak? Mantan kekasih yang begitu membekas—entah karena cinta atau rasa sakitnya—kini hadir lagi dalam lingkarannya. Bukan hanya sebagai masa lalu, tetapi sebagai bagian dari sahabatnya. Dan sahabatnya adalah kakak dari tunangannya.

Aku tahu ini rumit, tetapi apakah aku harus terus mengerti dirinya? Kenapa Rhun tidak pernah berusaha memahami posisiku? Aku tahu betapa hancurnya dia saat Gami pergi dulu. Aku juga ada di sana, melihat bagaimana dia mencoba bangkit. Namun saat ini, aku yang harus melihat keduanya berada di dunia yang sama lagi.

"Dapet proyek gede tuh Rhun," sambung Rangga setelah memesan makanan.

Aku mendongak. "Oh ya?"

"Proyek kolaborasi sama Tatanama."

"Wuih, keren," sahut Mbak Ira antusias. "Yang proyek perumahan smart home itu gak sih?"

"Correct!" Rangga mengetukkan ibu jari dan telunjuknya, seperti seorang pemandu kuis. "Tatanama lagi butuh mitra buat menyediakan furnitur multifungsi dan desain interior yang mendukung teknologi sesuai konsep. Ya, lo tahu sendiri, reputasi Good Livin dalam desain furnitur modern paling oke di Indonesia ini."

"Emberan!" Mbak Ira setuju. "Eh, enak ya jadi Bri. Nanti desain interior rumah lo pasti bakalan dikerjain sama Rhun. Untung dia tunangan lo, bukan sekadar desainer biasa. Jadi hemat deh!" goda Mbak Ira tekekeh.

Aku hanya tersenyum tipis sembari mengangguk. Dulu juga aku sering membayangkannya. Rumah yang akan kita tempati begitu nyaman dan penuh cinta karena ada hasil karya Rhun. Namun entah kenapa, kali ini aku takut untuk membayangkannya.

Aku takut ekspektasiku, menghancurkanku.

Kemudian mereka tidak banyak menyinggung proyek itu lagi, tetapi satu hal yang aku tahu, Rhun sedang benar-benar sibuk. Mungkin ini alasan dia jadi semakin sulit dihubungi.

Aku memanfaatkan informasi itu untuk membalas pesan Ibu yang sudah menanyakan lagi kapan pertemuan kedua keluarga diadakan untuk membahas hari-H pernikahan.

"Diskusi dulu dengan Rhun, Bu. Nanti aku kabari."

Prof Margono ingin pernikahan digelar akhir tahun, tetapi waktu terasa mepet untuk mempersiapkan hari bahagia itu. Dan sejujurnya, aku bahkan merasa kami belum benar-benar mendiskusikan ini.

Tepat ketika aku baru masuk ruangan setelah makan siang, aku tidak sengaja menabrak seseorang.

"Maaf, saya tidak sengaja—"

Mata kami bertemu, dan aku tidak bisa menyembunyikan keterkejutanku.

Perempuan dengan setelan blouse merah muda itu tersenyum ke arahku. Mata almond-nya selalu mengingatkanku pada kali pertama kami bertemu di rumahku.

"Hai, Briana."

Dia Gami.
Gami, ada di sini.

Aku mencoba membuka mulut untuk membalas, tetapi kata-kata terasa tersangkut di tenggorokanku.

"Aku datang untuk urusan proyek," ujarnya. Aku langsung teringat pada proyek smart home yang dibicarakan Rangga saat makan siang. Kemudian, aku melirik nametag perusahaan Gami.

Tatanama Corporate Architecture Firm. Gami Anastasya

"Nanti kita bisa bicara nanti." Suaranya terdengar halus, tetapi aku tahu apa yang tersirat di baliknya.

Aku hanya bisa diam terpaku. Melihat Gami berjalan mendahuluiku. Kemudian di depan sana, Pak Danu dan Rhun sudah menyambut kedatangan Arsitek cantik itu dengan senyum lebar.

**

Ruang tengah apartemen Rhun tidak seperti biasanya—terdengar suara tawa dan banyak cinta. Kali ini, ruangan ini begitu sunyi. Sebelum akhirnya aku-lah orang pertama yang memecah kesunyian itu.

"Kamu udah tahu ini sebelumnya?" suaraku lemah, aku bahkan membelakangi tubuh Rhun yang duduk di seberang sana.

"Demi Tuhan, aku baru tahu saat itu juga, Bri." Rhun membalas dengan suara tegas, tetapi pelan.

"Terus kamu terima proyek itu?"

Rhun berdecak lidah, tidak mampu menutupi rasa frustrasinya. "Apa aku bisa nolak? Itu pekerjaanku."

Yang diucapkannya tidak salah. Aku tahu aku yang berlebihan, aku yang sangat ketakutan.

"Aku gak tahu kenapa semuanya jadi gini, Mas." Aku membalikkan tubuh, memberanikan diri menatapnya yang juga sedang menatapku. "Aku tahu kamu sedih dan pasti kaget. Semuanya begitu tiba-tiba. Beberapa minggu ini aku merasa ada jarak di antara kita. Ya, aku sadar itu, makanya aku gak pernah nuntut apa pun sama kamu. Tapi, apa, kamu juga gak ngertiin perasaanku? Aku juga sedih!"

Rhun memejamkan mata, lalu menunduk lesu. Mungkin fisiknya lelah, tetapi bathinnya lebih lelah dari apa pun.

"Kenapa kamu diem aja? Apa gini sikap kamu sebenarnya?"

"Justru aku mikirin kamu, mikirin kita!" jawab Rhun frustrasi. "Aku cuma bingung sama diri sendiri, Bri. Aku gak tahu harus respons kejadian ini kayak gimana?"

Aku terdiam, dadaku begitu sesak.

"Hubungan kita saling terkoneksi. Betapa pun aku memutus kesedihan itu, pada akhirnya bakalan ketemu lagi."

"Kamu sedih dikhianati sama sahabat kamu atau sedih bertemu dengan seseorang yang ternyata masih kami cintai?"

"Bri, kamu ngomong apa sih? Kok jadi ngelantur gitu?" Nada Rhun tidak terima. Tetapi melihatnya seperti itu, seperti melihat diriku sendiri.

Ketika aku bertemu dengan Rhun di toilet waktu itu—saat aku masih jadi kekasih Deka. Keterkejutannya pada Gami sama persis ketika aku bertemu dengannya lagi setelah bertahun-tahun lamanya tidak berjumpa.

Aku menelan ludah kasar, kemudian bangkit dari kursi, mengemas tas dan beberapa barang yang aku bawa.

Rhun ikut bangkit, lalu mengekoriku. Ketika aku ingin memencet password, tangannya mencegahku.

"Kita harus bicara. Bukan kayak gini akhir yang aku pengen."

"Terus kamu pengen apa?!" bentakku tidak tahan lagi. "Sebelum kamu bisa jawab pertanyaanku tadi, jangan harap kita bicara lagi!"

Rhun terdiam.

"Apa benar kamu sedih karena dikhianati? Atau sedih karena bertemu lagi dengan seseorang yang ternyata masih kamu cintai?" ulangku lagi. "Kamu gak bisa bohong, Mas. Karena jauh sebelum kamu, aku udah pernah ngerasain kayak gini."

Kemudian tanpa pikir panjang, aku langsung memencet password, lalu pergi dari situ. Air mataku mengalir, aku mengusapnya dengan perasaan sesak. Perasaanku makin sedih, saat menyadari Rhun sama sekali tidak mengejarku.

***

author's note;

gimana guys, siapa yang paling sakit di sini menurut kalian? 😓

nothing sweeter (selesai)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang