Ketika sedang sibuk magang dan skripsi, Mas Gala pernah bilang akan membayar tuntas kesibukan mereka dengan pergi berlibur bersama setelah acara kelulusan. Namun sayang, semua jauh dari apa yang diharapkan.
Tiga hari sebelum acara kelulusan, tiba-tiba Gami minta putus. Tentu saja Rhun—yang setengah mati mencintainya—tidak mau. Ia berusaha menemui Gami, tetapi batang hidungnya tidak pernah kelihatan. Di kosan, atau di tempat-tempat favoritnya. Gami bahkan tidak datang ke acara wisudanya sendiri.
"Dia bener-bener menghilang?" tanyaku pada Kafka. Ia-lah satu-satunya yang bisa ditanya. "Terus liburan kalian?"
"Karena udah Gala booking tempatnya dari jauh-jauh hari ... Rhun juga tahu diri-lah. Tapi di sana doi mabuk sama ngerokok mulu. Stress berat kayaknya setelah di putus sepihak."
"Memangnya mereka punya masalah apa? Padahal selama empat tahun pacaran sering berantem pun ... mereka gak pernah sampai putus begitu."
Kafka mengangkat kedua bahunya. "Sejujurnya aku juga penasaran sih, Bri. Tetapi—" ucapannya tertahan begitu saja, mungkin perlu berpikir sebaiknya bicara lebih atau tidak. "Ya udah-lah, itu urusan pribadinya, Rhun. Kalau makin di cari tahu, takutnya dia jadi gimana gitu. Asal kamu tahu aja, Rhun itu paling sensitif perasaannya dibandingkan aku dan Gala."
Setelah lulus kuliah, Rhun bekerja di Good Livin. Perushaan berbasis teknologi (marketplace) dibidang furniture dan design yang baru dirintis tiga tahun lalu. Belakangan Livin Good juga membuka jasa layanan konsultasi bangunan. Cocok dengan jurusannya yang seorang Sarjana Arsitektur.
Mas Gala masih cari-cari pekerjaan, kadang ikut ayah kerja di perusahaan keluarga. Sementara Kafka melanjuti dunia yang sama sekali tidak ada kaitannya dengan kuliah.
Sebelum Matahari Terbenam, film debute-nya mendapat sambutan positif dari masyarakat. Nama Kafka melambung, dan kini jadi salah satu actor pendatang baru yang patut diperhitungkan.
"Bri, Bri ... Anjir ini Mas Kafka yang sering jemput lo gak sih?" Tamara menodong layar ponselnya untuk aku lihat. Selain menjadi aktor, punya vibes ice prince dan tubuh yang tinggi membuatnya dipilih menjadi salah satu Brand Ambasador salah satu merek kenamaan.
Aku mengangguk setelah melihat pose foto Kafka di sebuah artikel sosial media.
"Makin ganteng. Kok lu ga naksir dia aja?"
Andai bisa request, aku akan lebih bisa menerima Kafka jadi kakak kandung ketimbang Mas Gala yang rese dan menyebalkan. "Gue cuman anggep Mas Kafka kayak kakak gue sendiri. Mana mungkin naksir. Lagi pula kalau dia udah setenar gini, gue juga tahu diri kali."
Kafka memang baik dan bisa diandalkan. Kalau Mas Gala mendadak ga bisa jemput, biasanya dia yang jemput ke sekolah. Pernah suatu ketika Rhun juga ikut menjemputku, lalu berakhir dengan keadaan yang canggung. Entah kenapa, aku akan selalu jadi orang lain setiap berada di dekatnya.
Kesibukan membuat kami jarang bertemu. Sebulan, dua bulan, dan akhirnya kami bertemu lagi ketika perayaan ulang tahun ke tujuh belas sekaligus hari perayaan kelulusanku. Mereka kompak datang dengan memberikan macam kado.
"Happy sweet seventeen. You're look stunning," ujar Kafka sembari memberikan kado padaku. "Gemes banget sih ... tahu-tahu udah gede aja nih bocil."
Ayah merayakan ulang tahunku dengan mewah dan meriah di salah satu hotel bintang lima di Jakarta Pusat. Selain teman-teman sekolah, keluarga besar juga banyak yang datang.
"Asli coy bener. Perasaan baru kemarin ini bocah sering gue jahilin. Eh udah gadis aja sekarang." Mas Gala tiba-tiba saja muncul dari belakangnya.
Wajahku memberengut kesal. "Bukannya kebalik, ya? Lo kok yang sering gue kerjain."
Mas Gala melotot dan berkacak pinggang. "Adik durhaka lo ... ngomong sama Rhun, Kafka aja aku kamu. Sama kakaknya sendiri malah gue-elu. Awas aja kalau nge-chat kangen kalau gue udah di Ausie."
Setelah sulit mencari kerjaan ke sana-kemari-sebenarnya pernah ada beberapa lamaran yang diterima, tetapi sayang kakakku itu kurang cocok dengan perusahaan yang dilamarnya. Disuruh melanjutkan usaha ayah, dia malah ogah. Katanya pengen cari pengalaman dulu. Lalu berakhir coba apply dan diterima di Universitas Queensland, Australia.
"Never!" Tegasku dengan memanyunkan bibir yang langsung disambut gelak tawa Kafka.
Rhun datang masih mengenakan pakaian kantor setengah rapih-setelan kemeja dan celana bahan. Dahinya berkeringat dengan napas tak teratur, seperti orang yang habis lari marathon. Di tangan kanannya ia membawa sebuket bunga lili putih, sementara tangan kirinya menjinjing goodie bag yang kuyakini sebuah kado.
"Bri, selamat ulang tahun. Aku belum telat kan?" ucapnya sembari mengelap keringat mengenakan pergelangan tangannya.
"Acara tiup lilin sama potong kuenya udah. Tetapi acaranya masih berlanjut kok. Jadi, Mas Rhun gak telat-telat banget."
Rhun menghela napas lega. "Aku habis ada proyek di Anyer dan kena macet tadi. Untungnya pakai shuttle kantor jadi bisa minta turun di lampu merah deket sini."
"Hah? Terus dari lampu merah ... mas ke sini jalan kaki?"
Rhun mengguk, lalu terkekeh sendiri. "Yaaa it is. Tetapi syukurlah acaranya belum bubar." Ia tersenyum manis, nyaris membuatku menggila untuk memuja-muja ketampanannya. Kemudian tangannya mengulurkan hadiah yang sejak tadi dipegang. "Selamat ulang tahun, Princess. I hope today is will be the happiest day for you."
Rasanya debaran itu masih ada, bahkan dalam waktu yang berjalan cukup lama. Aku mamatung menatap dalam kedua matanya. Aku tak tahu apakah hatinya masih terluka karena kehilangan kekasihnya, atau mungkin rasa itu benar-benar sudah tak ada lagi sehingga aku punya kesempatan-meskipun kecil.
"Woy, baru dateng lu?" seru Mas Gala yang menghampiri kami. Lalu aku buru-buru menerima kado dan bunga yang diberikan.
Setelah itu kami berpisah lagi. Rhun, Kafka, dan Mas Gala lebih senang ngobrol di luar hotel untuk merokok. Sementara aku tidak bisa begitu saja kabur karena masih harus meladeni tamu yang lain.
Hari demi hari berlalu, aku merasa sedih karena nyaris tidak punya kesempatan untuk bertemu dengan Rhun setelah Mas Gala berangkat ke Australia. Lagupula aku juga disibukan dengan dunia perkuliahan.
Mana dia jarang aktif lagi di Instagram. Aku jadi benar-benar tidak tahu bagaimana kabarnya.
Kalau Mas Kafka kadang suka random ngajak keluar ketika ada waktu kosong. Kadang juga bisa aku manfaatkan untuk meneraktir makanan dan mengerjakan soal kuliah. Tetapi sayangnya setelah makin terkenal, kita jadi susah pergi ke mana-mana tanpa dikenali. Terakhir kali bahkan sempat ada rumor bahwa Kafka sedang berkencan dengan seorang wanita di bioskop malam-malam. Padahal perempuan itu adalah aku.
Mas Gala langsung marah-marah. Ia sudah mengultimatum Kafka agar lebih berhati-hati lagi. Pasalnya, fans-nya banyak fanatik. Jangankan pacar, lawan mainnya di sebuah film saja di bully habis-habiskan karena kelihatan caper.
"Masa sih Mas Gala khawatirin aku?"
"Serius. Kalau gak percaya ... nih baca aja chatnya."
"Chat di grup?" kataku hati-hati-sangat berharap itu percakapan di grup chat agar bisa mengetahui kabar Rhun.
"Bukan, PM kok. Grup udah jarang aktif. Terakhir nge-chat mungkin minggu lalu. Itu pun Rhun nanyain tempat dinner yang romantis di Yogyakarta."
"Hah?" Aku lumayan terkejut. Tetapi buru-buru langsung mengubah ekspresi seperti biasanya. "Gaya betul dia udah punya cewek baru. Udah bisa lupain Kak Gami?"
Lagi-lagi Kafka mengangkat kedua bahunya. "Eum-dia gak cerita tentang cewek sih. Cuman bilang buat referensi. Gatau deh referensi buat apaan. Ya, mungkin bisa jadi sih referensi ngajak nge-date. I'm happy for him kalau gitu. Tahu sendiri gimana galaunya dia putus dari Gami."
Aku dan Kafka sedang ngobrol sambil makan malam di hotel bintang lima, lebih privat biar tidak banyak orang yang tahu. Padahal semua makanannya yang dipesan enak-enak dan aku suka. Tetapi mendengar ucapan Kafka barusan, membuat aku mendadak tak berselera makan.
Apa iya dia punya cewek baru? pikirku.
**to be continued**

KAMU SEDANG MEMBACA
nothing sweeter (selesai)
ChickLitBriana selalu percaya bahwa cintanya pada Rhun-sahabat kakaknya-bukan sekadar cinta monyet. Sejak remaja, ia yakin pria itu adalah takdirnya. Bertahun-tahun kemudian, takdir kembali mempertemukan mereka di perusahaan yang sama. Kini, Bri punya kesem...