009. Keluar dong, aku udah di depan nih!

794 73 8
                                    


Di masa kesibukan menjadi mahasiswa tingkat akhir, membuatku tidak punya waktu untuk diri sendiri, mau pun bersama Deka. Ia sama sibuknya. Sibuk KKN, sibuk praktikum, dan sibuk mengejar mata kuliah yang tertinggal. Sebagai pacar, aku bisa mengerti.

Aku senang kita saling memahami.

"Kamu jadi kan jemput aku sore ini? Please jangan batalin lagi ... aku udah beli tiketnya."

Namun belakangan, sikapnya mulai berubah.

Aku berbicara dengan Deka. Sudah dua kali dia membatalkan janji tiba-tiba. Padahal dia sudah janji untuk menyempatkan waktu. Kadang ada kalanya aku juga capek terus menerus untuk memahami. Seolah-olah hanya aku saja yang berjuang dengan hubungan ini.

"Iya, sayang. Ini aku udah otw kok ke parkiran. Lima belas menit lagi aku sampai ke fakultas kamu."

Film yang akan aku tonton sudah lama menjadi watchlist. Sudah tayang dari dua minggu yang lalu, tetapi baru sempat aku tonton sekarang.

Sebenarnya bisa saja aku menonton midnight bersama teman-teman yang lain, tetapi Deka meminta agar menonton dengannya saja.

Hujan lebat sore ini, dan sudah satu jam setengah Deka tidak juga kunjung datang. Berkali-kali aku menelepon, tetapi tidak diresponnya. Aku tanya ke satu, dua teman dekatnya, tetapi mereka bilang Deka sudah cabut kelas dari beberapa waktu lalu.

Pandanganku tertuju pada sepatu open toe shoes warna hitam yang aku pakai—sudah basah karena hujan. Jari-jari kakiku sudah memucat.

Harusnya aku pergi aja, dan langsung pulang ke rumah. Namun, rasanya hari itu berat sekali untuk melangkah. Aku masih menunggu sambil berharap Deka akan segera datang.

Suara petir saling bersautan, sementara aku masih duduk di bangku dekat pintu masuk fakultas. Berdiam diri.

Entah hatiku yang terlalu sensitif atau tindakan Deka memang sudah keterlaluan sehingga membuat cairan bening itu tiba-tiba saja keluar. Dadaku sesak, panas menjalar sampai tengkuk leher. Aku malu jika menangis di sini.

Sialnya air mata tidak bisa di kompromi.

Suara jarum jam besar di hadapanku berbunyi. Tik,tik,tik. Suaranya makin lama makin jelas bersamaan dengan langkah kaki. Samar-samar pandanganku menatap ke arah pintu masuk. Seorang pria yang tingginya kira-kira 183cm meter—yang sangat aku kenal sosoknya—berada di sana. Ia begitu lega melihatku.

"Kalau janjian sama orang ... tetapi lima belas menit orang itu gak datang tanpa adanya kabar ... gak dosa kok buat pulang," ujarnya seolah-olah tahu apa yang sedang terjadi. Tubuhku langsung menghambur memeluknya tanpa ragu, kemudian Kafka mengelus punggungku lembut. "Udah ... jangan nangis."

"Mas Kafka tahu dari siapa kalau aku di sini?"

Ia diam cukup lama, membuatku curiga setengah mati. Aku melepas pelukannya, lalu menatapnya penuh curiga.

Ia bergumam sebelum akhirnya bilang, "Aku gak bisa bohong sama kamu," katanya dengan tersenyum, mungkin mencoba menghiburku. "Aku ke sini karena Rhun yang nyuruh. Dia—lihat Deka di mall."

"Hah? Jadi dia udah duluan ke sana?"

"Dia memang udah di sana. Tetapi sama cewek lain, Bri."

Rasanya seperti jarum yang menusuk-nusuk seluruh hatiku. Perih dan sakit. Hanya itu yang bisa aku gambaran—padahal mungkin jauh lebih kompleks dari itu.

Jika di hadapanku adalah Mas Gala dan Rhun, mati-matian aku pasti menahan agar air mataku tak keluar. Tetapi di depan Kafka—seperti yang dia minta—aku tak akan takut untuk menunjukan sisiku yang lain. Entah sisi terkuat, atau pun sisi terapuh. Seperti ini.

**

"Kita putus!"

Itu adalah kata-kata terakhirku pada Deka. Setelah kejadian itu, malamnya ia benar-benar ke rumah dengan wajah babak belur. Deka bilang itu ulah Rhun.

Andai saja Kafka tidak menjelaskan dengan rinci perihal apa yang terjadi, mungkin aku akan langsung menyalahkannya. Pada kenyataannya, Rhun pun sama terluka.

Berawal dari adu mulut, lalu berakhir saling serang.

"Lo pantes dapetin itu! Dasar cowok kurang ajar!" kataku membalas aduannya.

Jelas aku harus membela Rhun, karena ia melakukan hal yang sama untuk diriku.

Perempuan yang sedang bersamanya adalah Olive. Aku sudah mencium gelagat mencurigakan dari keduanya.

Deka bilang mereka adalah teman lama. Tetapi lama-lama makin terlihat aneh. Aku merasa Olive terlalu genit dan interaksi mereka terlalu intens untuk ukuran pertemanan.

Bodohnya aku percaya saja dengan ucapan manisnya.

"Oke. Gue juga udah muak hampir dua tahun pacarana sama lo. Yang lo sayang bukan gue, Bri. Selalu ada bayang-bayang Rhun di hubungan kita."

Jujur aku muak dengan omong kosong Deka. Kenapa dia selalu membawa Rhun setiap pertengkaran kita. Kenapa ia tidak bisa melihat usahaku untuk menerima dirinya sebagai pacar.

Selama ini aku selalu berusaha menjadi apa yang dia mau dan menjahui Rhun sebisaku. Terkadang mungkin sifat childishku muncul. Tingkah aneh dan memalukan seperti curhat di close friend yang isinya hanya ada Rhun—aku sengaja menulis hal-hal yang ingin aku sampaikan, tetapi tak berani aku ungkapkan. Atau pun hal-hal aneh lainnya agar bisa tahu keadaan Rhun. Tetapi selama ini pula, aku benar-benar tidak bertatap muka.

Rhun juga sepertinya tahu tentang pertengkaran aku dan Deka di kafe itu. Kalau aku menyukainya. Sehingga ia pun menjaga jarak di antara kami.

Antara aku dan Rhun hanya sebatas lihat "view" di Instagram atau pun whastapp story. Tidak lebih dari itu. Karena aku ingin berusaha melupakanya meskipun sulit dan aku menghargai pacarku pada waktu itu.

"BREAK UP! DAMN I HATE YOU!" tulisku di Instagram story kusus closed friend. Semua kulakukan begitu implusif. Sama sekali tidak menimbang bahwa hanya Rhun yang bisa melihatnya.

Otakku tidak bisa berpikir jernih sebab yang hanya bisa aku lakukan hanyalah menangis dan menangis. Menangis karena kesal, menangis karena marah.

Sampai sebuah DM instagram masuk. Rhun melihat dan membalas postingan yang beberapa waktu lalu aku posting.

"Kalau Deka bikin kamu sedih, aku yang bakalan bikin kamu happy malam ini. Sini keluar rumah, aku sudah di depan."

Perasaan aneh ini tidak bisa ditebak. Kemarin aku bertekad melupakan dan menjauhinya. Tetapi sekarang, kakiku berjalan menuruni anak tangga menuju pintu depan rumah, sesuai perintah Rhun.

Entah sudah berapa kali, aku jatuh pada pesonanya. Bahkan segala usahaku selama ini runtuh tak bersisa ketika melihatnya berdiri sambil tersenyum dihadapanku.

"Wanna hang out with me?"

**to be continued**

nothing sweeter (selesai)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang