Seokjin mengetuk pintu dihadapannya. Ditangan kanannya ada sebuah mangkok yang berisikan rameyeon. Seokjin menunggu sebentar, tak lama pintu didepannya terbuka. Menampilkan wajah sumringah Jungkook.
"Hyung..."ucapnya sambil tersenyum. Seokjin balas tersenyum.
"Aigoo... Apa kau tidak akan membiarkanku masuk?"tanya jin. Jungkook tersadar.
"Ahh... Mian. Ayo masuk Hyung"ajaknya.
Seokjin lalu meletakkan rameyeon diatas nakas dan mengambil tempat duduk diatas kasur.
"Woah, Hyung tau saja aku sedang lapar"ucap Jungkook langsung mengambil mangkok rameyeon dan melahapnya.
"Kenapa kau tidak ikut makan malam bersama?"selidik seokjin.
"Aku sibuk belajar Hyung"ucap Jungkook di sela-sela makannya. Seokjin melirik meja belajar Jungkook.
"Kalau kau sibuk belajar seharusnya ada banyak buku dimejamu. Tapi mejamu bersih sekali ya..."ucap seokjin tajam. Jungkook menelan salivanya kasar.
"Berhenti memusuhi saudaramu, kookie"ucap seokjin lembut. Jungkook terdiam.
"Aku tau, yang kau lakukan ini merupakan bentuk kemarahanmu karena aku yang tidak diperlakukan secara adil dengan mereka. Tapi tidak seperti ini caranya"sambung seokjin.
"Jadi aku harus bagaimana Hyung? Diam saja saat melihatmu disindir mereka?! Begitu? Aku marah Hyung. Karena aku tidak bisa berbuat apa-apa untukmu"desis Jungkook kesal. Seokjin tersenyum kecil.
"Mereka hanya butuh waktu kookie, kita hanya perlu bersabar"ucap seokjin sambil mengusap rambut Jungkook yang berantakan. Jungkook kembali melanjutkan makannya.
"Kau terlalu baik Hyung"gumam Jungkook yang masih bisa didengar seokjin. Namun, seokjin memilih diam. Matanya sibuk menatap sekeliling. Ia lalu menemukan sesuatu yang menarik.
"Kookie... Kau ingin menjadi idol?"tanya seokjin sambil menunjuk poster yang tertempel di dinding bagian atas meja belajar Jungkook. Jungkook terdiam sebentar, ikut menatap poster tersebut. Ia lalu menarik nafas panjang.
"Entahlah Hyung, aku masih bingung"ucap Jungkook sambil menatap mangkuknya yang sudah kosong. Seokjin menatapnya lamat.
"Tadi kelas kami mengadakan sesi konseling, Choi ssaem bertanya tentang universitas, jurusan dan sebagainya. Rata-rata temanku sudah menemukan tujuannya..."
"Tapi kau belum?"ucap seokjin. Jungkook menatapnya dan tersenyum.
"Kau sangat mengenalku Hyung"ucap Jungkook membuat seokjin mendengus.
"Yeah... Kau bahkan menghabiskan waktu dua jam untuk memilih ice cream rasa anggur atau pisang, apalagi masalah universitasmu"ucap seokjin terkekeh ringan. Jungkook menghembuskan nafas frustasi. Ia merogoh kantong celananya, mengeluarkan sebuah kartu nama dan memberikannya kepada seokjin.
"I-ini?"
"Saat pulang sekolah, aku bertemu dengannya. Seperti yang Hyung ketahui, wajah tampanku ini memikat banyak orang. Jadi dia terpikat dan menawariku menjadi trainee di agensinya"jelas Jungkook.
Mengabaikan ucapan narsis Jungkook, Seokjin menatap kartu nama itu. Hybe label. Sebuah agensi ternama yang sudah melahirkan banyak idol yang mendunia.
"Bukankah ini impianmu dulu?"tanya seokjin. Ia teringat dengan ucapan Jungkook yang masih berusia sepuluh tahun kala itu.
"Hyung masih mengingatnya?"tanya Jungkook tak percaya.
"Tentu saja. Kau sangat ingin menjadi idol sampai sibuk meminta eomma untuk memasukkanmu kursus menari dan bernyanyi waktu itu kan?"terang seokjin mengundang tawa Jungkook.
"Benar. Dulu aku sangat menyukainya"kenang Jungkook.
"Memangnya sekarang tidak lagi?"tanya seokjin. Jungkook terdiam sesaat.
"Seiiring berjalannya waktu, aku menyadari sesuatu Hyung. Ternyata bukan karena aku suka bernyanyi dan menari yang membuatku ingin menjadi idol" ia lalu menatap seokjin dalam.
KAMU SEDANG MEMBACA
Brother in law
FanfictionKim seokjin. seorang namja yang merasa hidupnya adalah sebuah kutukan. Lahir dengan mengorbankan nyawa ibunya, dituduh membunuh ayahnya, berusaha menahan sakit akibat hujatan orang orang disekitarnya. Akankah dia bisa bertahan?
