part 24

66 8 0
                                        

Langkah kaki mereka terdengar pelan, namun berat, menyusuri jalan setapak menuju rumah. Udara malam menempel di kulit seperti kabut dingin, membungkam setiap kata yang ingin keluar. Seokjin berjalan di depan, bahunya sedikit membungkuk, satu tangannya sesekali menekan bagian punggungnya yang terasa dingin.

Jimin mengikutinya dalam diam. Matanya terus memandangi punggung Seokjin yang terbalut jaket, berharap bisa membaca semua jawaban yang disembunyikan lelaki itu hanya dari gerakan tubuhnya. Tapi yang dia temukan hanyalah tembok—diam, kokoh, dan tak tergoyahkan.

Begitu mereka masuk, Seokjin langsung menuju kamarnya. Jimin tak tahan lagi. Dia melangkah cepat, menahan pintu kamar sebelum Seokjin sempat menutupnya sendiri.

"Hyung…" Jimin memanggil dengan ragu. Nada suaranya pelan, tapi bergetar. "Bisakah kau menjelaskan apa yang terjadi?"

"Oh! Akhirnya kau memanggilku Hyung" Ucapnya pelan. Seokjin tak menoleh. Dia sibuk melepas jaket, gerakannya hati-hati karena rasa dingin yang menjalar di punggungnya.

"Apakah itu penting sekarang?!" Jimin mencoba lagi, kali ini lebih keras. "Aku lihat, hyung. Beka luka itu. Dan aku… aku ingat itu perbuatan eomma kan?"

Seokjin akhirnya menoleh, tapi tatapannya datar, nyaris dingin.
"Jangan katakan apapun, Jimin. Aku akan buktikan kalau aku tidak bersalah."

"Bukti? Dengan bersikap diam seperti ini?!" Jimin berteriak.  Frustrasi menyelinap di suaranya. "Hyungdeul sudah—"

"Aku punya cara untuk itu." Seokjin berucap tegas, tapi terdengar letih. "Yang penting kau jangan ikut campur."

"Jangan ikut campur? Hyung, aku… aku tidak akan diam saja saat tahu kau menderita seperti ini"
Dia mendekat, suaranya menurun menjadi nyaris berbisik. "Sejak appa meninggal, eomma pasti nyiksa Hyung makin parah, kan? Ini gak adil untukmu"

Seokjin menghela napas panjang, menunduk. "Luka ini… nggak ada hubungannya sama kematian appa."

Kalimat itu hanya membuat dada Jimin semakin sesak. Bukan karena jawaban itu menenangkan, tapi justru karena Seokjin mengatakannya dengan wajah yang begitu keras kepala—wajah seseorang yang menanggung beban sendirian.

"Kenapa sih kau bersikap seperti ini? Selalu menyelesaikan semuanya sendiri?!"

Seokjin menatapnya, tatapan itu dalam tapi rapuh. "Karena ini urusanku, bukan urusanmu"

Jimin membeku. Kata-kata itu menusuk, bukan karena dingin, tapi karena jimin tahu—Seokjin sedang berusaha melindunginya. Dan itu membuat rasa bersalah merayap semakin kuat di dadanya.
.
.
.
.
.

Jimin berdiri mematung di depan pintu kamar Seokjin yang baru saja tertutup. Napasnya berat, tapi bukan karena mabuk—kepalanya kini jernih, malah terlalu jernih untuk menelan semua kata-kata barusan. Dia masuk ke kamarnya, menyalakan lampu, lalu melangkah menuju kamar mandi.

Air hangat mengguyur tubuhnya, tapi tak cukup untuk menghapus rasa sesak di dadanya. Bekas suara Seokjin, tatapannya, dan luka di punggungnya terus berputar di kepala Jimin.

Begitu selesai mandi dan mengeringkan rambut, terdengar ketukan di pintu.

Tok… tok… tok…

Jimin menghela napas, lalu membuka pintu.

Di balik pintu berdiri Seokjin, mengenakan kaos putih lengan pendek dan celana satin gelap, rambutnya masih sedikit basah dengan handuk kecil disampirkan di pundaknya. Wajahnya terlihat segar, seperti seseorang yang tanpa beban.

Di tangannya, ada sebuah paperbag. Seokjin mengangkatnya sedikit.
"Ini… hadiah ulang tahunmu. Maukah kau menerimanya?" Tanya Seokjin pelan.

Jimin menerima paperbag itu, sedikit bingung. Di dalamnya ada dua kotak kecil berbalut kertas sederhana. Seokjin menunjuknya sambil tersenyum tipis.
"Yang satu milik Taehyung. tolong berikan ke dia, ya."

Brother in lawCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang