Part 27

64 8 1
                                        

Dengan napas masih memburu dan mata yang masih basah, Seokjin meraih map cokelat kedua. Tangannya bergetar saat membuka, takut dengan apa yang akan ia temukan.

Di dalamnya, terdapat beberapa lembar kertas dengan tulisan tangan yang lebih anggun daripada tulisan ayahnya, dan setumpuk foto.

Seokjin mengambil foto-foto itu lebih dulu. Begitu matanya jatuh pada gambar pertama, dadanya langsung terasa sesak. Foto itu sama persis dengan yang ditunjukkan Mark kemarin—foto ibu tirinya duduk berdua dengan pria yang dikenalnya sebagai Dongwoo, supir truk dari insiden delapan tahun lalu.

Tangannya beralih ke foto lain. Ada banyak—dengan lokasi berbeda, waktu berbeda. Semuanya memperlihatkan ibu tirinya dan Dongwoo dalam satu bingkai. Tapi yang membuat Seokjin membeku adalah tulisan di balik foto-foto itu. Ada tanggal. Ada catatan kecil dibalik lembar foto itu.

Pertemuan: membahas rencana.”
“Topik: memastikan Seokjin keluar dari garis pewaris.”
“Langkah selanjutnya: mengatur insiden kecelakaan.”

Seokjin terdiam. Helaan napasnya pecah, bibirnya bergetar. Jadi benar… semua pertemuan itu memang untuk membuatku celaka…

Matanya jatuh ke lembaran kertas dengan tulisan tangan. Ia mengenali goresan huruf itu.
Tulisan ibu tirinya.

Seokjin-ah… jika kau membaca ini, berarti aku sudah tidak ada lagi. Ada banyak yang ingin kujelaskan, tapi waktuku habis. Pertama, dengarkan baik-baik—aku tidak pernah berselingkuh. Sampai kapanpun, cintaku hanya untuk ayahmu. Kau boleh membenciku, dan aku tahu aku jelas tidak pernah jadi ibu yang baik bagimu. Tapi kau harus tahu satu hal: aku tidak pernah berpihak pada Haneul Corp. Semua yang kulakukan… hanyalah untuk bertahan.”

Tangannya mengepal. Air matanya jatuh, kali ini bercampur rasa marah dan bingung.

Di dalam map ini, terdapat beberapa bukti-bukti kecurangan Haneul Corp—transaksi, dokumen rahasia, dan saksi yang bisa menyeret Dongwoo ke pengadilan. Semua ada di sini. Dan di flashdisk juga. Jika kau menginginkan kebenaran, gunakan ini. Aku tahu, aku terlalu banyak membuatmu menderita… tapi percayalah, aku tidak pernah mengkhianati ayahmu.”

Seokjin terhenti, matanya menatap kata-kata terakhir yang membuat tubuhnya merinding.

Jika kau ingin tahu alasanku… mengapa aku melakukan semua itu, mengapa aku bersikap seperti iblis terhadapmu… buka file di flashdisk itu. Semua jawabannya ada di sana.”

Tangan Seokjin melemah. Ia meletakkan kertas itu di meja, lalu menatap flashdisk kecil yang kini terasa seperti benda paling berat di dunia.

Dadanya naik-turun, pandangannya kosong.
Eomma… apa yang sebenarnya kau sembunyikan dariku?

Seokjin menatap flashdisk itu lama sekali, sebelum akhirnya ia menoleh ke arah komputer tua di sudut ruangan. Debu menempel di layar, seakan tak pernah disentuh lagi sejak ayahnya pergi. Dengan tangan bergetar, ia mengibaskan debu lalu menekan tombol power. Layar berkedip-kedip, menyalakan kembali kenangan yang selama ini ia kubur.

Saat komputer itu perlahan menyala, ponselnya bergetar di atas meja. Seokjin refleks meraihnya. Nama pamannya tertera di layar.

Yeoboseyo?” suaranya pelan, masih tersengal.

“Jin-ah!” suara paman terdengar tegang, hampir berbisik namun penuh tekanan. “kau masih berada di ruangan itu? Cepat keluar! Sekarang juga!”

Seokjin terdiam, jantungnya mendadak berdegup kencang. “Kenapa, samchon?”

“Ada orang suruhan Namjoon yang melihatmu masuk ke ruang kerja ayahmu. Dia sudah lapor, dan Namjoon langsung berangkat ke perusahaan! Kalau dia sampai menemukanmu di sana—” suara pamannya tercekat, “—kau akan habis. Jangan banyak bertanya, pokoknya segera pulang ke rumah. Cari jalan lain, asal jangan bertemu Namjoon.”

Brother in lawCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang