Seokjin merapikan dasinya. Hari ini ia mengenakan kemeja berwarna biru muda dengan dasi warna hitam. Rambutnya yang biasa tertutup topi kini tergerai bebas. Seokjin memperhatikan pantulannya sendiri di cermin. Ia merapikan rambutnya agar jatuh menutupi dahinya. Merasa cukup, ia lalu berbalik. Menyandang ranselnya yang berisi berkas-berkasnya untuk mulai magang. Ia lalu membuka pintu kamar.
Saat ia menutup pintu, matanya bersitatap dengan netra jimin. Jimin menatapnya dalam lalu bergegas mendatangi seokjin. Ia menyerahkan kunci ruang kerja so hee. Jin sedikit terkejut. Dengan cepat merebut kunci tersebut.
"Seingatku, kunci ini ada pada yoongi hyung, kenapa bisa ada padamu?"curiga jimin. Jin terdiam.
"Apa kau memeriksa kamar itu setelah mengantarku ke kamar kemarin?"tanya jin. Alis jimin berkerut.
"Kenapa? Masih ada hal yang kau sembunyikan diruangan itu?" Jin memandang jimin kesal.
"Kenapa kau selalu menjawab pertanyaanku dengan pertanyaan?"
"Kau duluan yang membalas pertanyaan ku dengan pertanyaan!" Balas jimin tak terima. Jin menghela nafas.
"Sudahlah, terimakasih sudah mengembalikan kuncinya kepadaku jim" Ucap jin hendak berlalu dari sana, jimin menarik lengannya.
"Kau masih ingat punya hutang penjelasan denganku kan? Kuharap kau menjelaskan nya secepat mungkin!" Desis jimin pelan. Seokjin tersenyum miring.
"Memangnya kalau aku mengatakan sesuatu, apa kau akan percaya?" Ucapnya menantang jimin. Jimin menaikkan sebelah alisnya, merasa tertantang.
"Tergantung apakah ceritamu masuk akal atau tidak" Jin mendengus.
"Kau tidak akan percaya. Karena ceritaku ini... Tidak masuk akal bagimu"
Setelah berkata seperti itu, jin meninggalkan jimin sendirian di lorong. Ia turun kebawah. Melihat yoongi, namjoon, hoseok, dan jungkook yang sedang sarapan di meja makan. Seokjin tersenyum kearah hoseok dan jungkook yang melambaikan tangan kearahnya.
"Hei pembunuh!"
Langkah seokjin terhenti. Ia lalu menarik nafas perlahan dan menatap yoongi yang memandangnya dengan aura permusuhan.
"Apa kau segitu inginnya ingin memegang kendali atas perusahaan appa?" Seokjin menutup mata, bisa merasakan nada sindiran dalam ucapan yoongi. Ia menatap yoongi.
"Apa maksudmu hyung? Tentu saja dia menginginkan nya, dia kan anak kandung appa! Tidak seperti kita yang hanya anak tiri!" Namjoon membalas ucapan yoongi. Jin menggigit ujung bibirnya kuat, berusaha menahan emosi yang bergejolak dihatinya.
"Hahaha, kau benar namjoon, mungkin dia berfikir malah kita yang sembarangan mencuri perusahaan appa, jadi dia akan berusaha mempertahankan perusahaan appa agar berada di tangan yang tepat. Bukan begitu?"
"Ditangan yang tepat maksud hyung itu adalah di tangan pemilik sah! Hyung! Kau harus menekankan bagian itu!" Ucap namjoon dan dibalas kekehan sinis oleh yoongi.
"Yaahh, kau benar"
"Tapi hyung, apakah seorang pembunuh bisa menjadi penerus? Bukankah seorang pembunuh harus bertanggung jawab dulu atas kesalahannya? Baru bisa memimpin suatu perusahaan?" Seokjin mendecak kesal. Lelah dengan drama yang mereka buat.
"Tidak bisa begitu namjoon, kita tidak punya bukti untuk menjebloskan pembunuh itu ke penjara! Makanya sampai sekarang dia masih berkeliaran bebas!"
"Karena itu! Ku tegaskan berkali-kali kalau aku bukan penyebab appa meninggal! Silahkan cari bukti apapun itu, kalau kalian sudah menemukannya, kalian bisa menyeret ku ke penjara kapan saja!" Teriak seokjin. Ia mengepalkan tangan kirinya yang bergetar hebat dan menyembunyikan nya di belakang pakaian. Menatap balik kearah yoongi dan namjoon yang mendenguskan nafas kesal. Seokjin masih bisa merasakan telapak kirinya yang bergetar. Ia menarik nafas dalam-dalam. Berusaha mengontrol emosinya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Brother in law
FanfictionKim seokjin. seorang namja yang merasa hidupnya adalah sebuah kutukan. Lahir dengan mengorbankan nyawa ibunya, dituduh membunuh ayahnya, berusaha menahan sakit akibat hujatan orang orang disekitarnya. Akankah dia bisa bertahan?
