Part 26

46 8 1
                                        

Begitu pintu kamar menutup di belakangnya, Seokjin merebahkan tubuh ke kasur. Pandangannya kosong menatap langit-langit. Percakapan dengan samchoon tadi terus berputar di kepalanya, terutama satu kalimat—

karena… So Hee noona yang memintanya.”

Seokjin mengerjap, jantungnya berdetak lebih cepat. Tangannya mengepal di atas dada. Eomma… yang mengusirku… yang menyiksaku… yang merelakan kematian appa begitu cepat… kenapa dia menyuruhku kembali?

Keningnya berkerut, berusaha menolak logika yang terasa tak masuk akal. Air matanya menetes perlahan, campuran marah dan bingung. Ia menatap nakas di samping tempat tidurnya, tempat map coklat yg diberikan mark berada.

“kenapa harus sekarang, setelah kau meninggal? … apa maumu eomma?” bisiknya serak.

Seokjin menggigit bibirnya. Ia merasa seperti kembali terjebak di masa lalu, tapi kali ini ada sesuatu yang berbeda—ibu tirinya meninggalkan jejak, seakan memang sengaja membimbing Seokjin menemukan kebenaran.

“Apakah semua ini… sudah direncanakan darimu sejak awal, eomma?”

Matanya terpejam rapat. Ia tahu esok hari, begitu kesempatan datang, ia harus membuka file di flashdisk itu. Hanya di sanalah jawaban bisa ditemukan.
.
.
.
.

***

Keesokan harinya, setelah pertemuan panjang dengan Mark, Jisoo, dan Yeonjun, Seokjin berangkat magang seperti biasa. Dari luar ia tampak tenang, seperti mahasiswa yang fokus dalam magang, mencatat apa yang diperlukan dan membantu anggota lain, tetapi di dalam kepalanya hanya ada satu hal penting—ruangan ayahnya di lantai delapan.

Ruangan itu sudah lama disegel oleh pamannya, dengan dalih untuk menjaga privasi almarhum. Tapi bagi Seokjin, tempat itu adalah rumah keduanya. Saat ia berusia lima belas tahun, setiap kali cambuk ibunya mendarat di punggungnya dan ia tak mampu mehanannya, ia akan bersembunyi di sana. Ruangan itu sunyi, berbau kayu, penuh buku, dan dingin oleh AC yang jarang dimatikan—namun justru di sanalah ia merasa paling aman.

Hari itu keberuntungan seakan berpihak padanya. Seluruh staf sibuk menghadiri rapat bulanan di lantai bawah,  sehingga koridor lantai delapan kosong. Ia menelan ludah, memastikan tidak ada CCTV aktif yang mengarah ke pintu itu, lalu dengan cepat memasukkan pin di pintu masuk ruangan tersebut.

Klik.
Pintu terbuka.

Begitu ia melangkah masuk, kehangatan aneh menyergap. Aroma kayu tua bercampur wangi samar pengharum ruangan yang dulu sering dipakai ayahnya. Matanya berkunang-kunang oleh ingatan—tawa ayahnya saat memanggil namanya, pelukan hangat yang membuat semua sakit cambuk sirna seketika.

Appa…” bisiknya, sebelum air mata jatuh tanpa bisa ia cegah.

Namun ia menghapusnya cepat-cepat. Aku tidak boleh larut. Aku datang bukan untuk menangis.

Seokjin mulai menyisir ruangan itu. Setiap rak buku ia periksa, setiap map ia buka. Tidak ada yang mencurigakan—hanya laporan keuangan, agenda bisnis, dan kontrak biasa. Hingga ia sampai ke meja besar di ujung ruangan.

Tangannya menyusuri permukaan meja itu, lalu berlutut dan menarik laci paling bawah. Hatinya berdegup kencang. Laci itu berat, lebih berat dari biasanya. Ia menarik dengan seluruh tenaganya… dan di dalamnya ia menemukan sebuah brankas kecil, terbuat dari besi abu-abu tua.

Brother in lawCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang