Menjelang siang, apartemen seokjin menjadi lebih ramai dibandingkan biasanya. Di ruang tamu, meja persegi itu diisi oleh dua cangkir coklat panas dan dua cangkir kopi dengan uap yang masih mengepul. Seokjin duduk di sofa panjang dengan yeonjun disampingnya. mark duduk di sofa single, sementara Jisoo-peserta terakhir yang datang atas permintaan seokjin, memilih duduk dilantai. Mereka kompak mengelilingi meja tersebut. Suasana hening sejenak. Tidak ada yang berani memulai percakapan, ketiganya mengamati ekpresi khawatir seokjin. Mark menghela nafas lalu memulai bicara dengan mengeluarkan beberapa foto dan kertas-kertas dari map yang dibawanya.
"ini identitas sopir truk yang hampir menabrak mobilmu delapan tahun yang lalu. Namanya park dongwoo. Kau megenalnya?"tanya mark sambil menunjukkan foto seorang lelaki paruh baya, mungkin seusia ayahnya sebelum meninggal.
"dan truk yang dikendarainya bukan sembarang truk... truk itu memiliki logo perusahaan logistik di bawah naungan Haneul corp"
seokjin mengamati gambar-gambar tersebut. mulai dari gambar truk yang hampir menabrak mereka, logo perusahaan disamping truk, dan foto lelaki yang menjadi supir truk pada hari itu. cengkramannya pada kertas tersebut menguat, membuat kertas tersebut kusut.
Jisoo yang ikut memperhatikan logo tersebut membesarkan matanya.
"Haneul Corp... aku pernah mendengarnya dari appa. Mereka juga salah satu pesaing perusahaan ayahmu, jin. selalu berusaha merebut kontrak besar, walaupun mengggunakan cara yang kotor"
seokjin masih diam. Matanya terpaku pada logo perusahaan di dokumen yang diberikan mark. Napasnya memburu. Yeonjun yang menyadari perubahan ekspresi seokjin mengelus bahunya perlahan. Mencoba memberi ketenangan.
Ingatan seokjin kembali ke masa remajanya, saat ia berusia lima belas tahun dan sering ikut ayahnya mendatangi berbagai acara, ia mendatangi sebuah pesta besar dimana ia berdiri kikuk di pojokan karena tidak mengenal siapapun, lalu ia memperhatikan ayahnya beradu mulut dengan orang yang sekarang ia pandangi wajahnya di foto. Lalu saat seokjin ingin mencari udara segar di taman, ia tak sengaja melihat orang itu sedang berbicara serius dengan ibu tirinya.
"... aku pernah melihatnya" bisik seokjin lirih.
"di pesta, waktu aku berusia lima belas tahun. Dia berselisih pendapat dengan appa. Lalu aku juga melihatnya berbicara dengan eomma"
Keheningan menekan ruangan. Itu berarti eomma yang dimaksud seokjin disini adalah so hee-ibu tiri seokjin, karena ibu kandungnya sudah meninggal sesaat setelah melahirkan seokjin.
Yeonjun mencondongkan tubuhnya. Tangannya kembali mengelus punggung seokjin.
"kau yakin jin? ingatanmu benar-benar jelas?"tanya yeonjun pelan.
Seokjin mengangguk perlahan, meski wajahnya memucat. Mark menghela nafas, lalu mengeluarkan beberapa foto lagi dari map dan meletakkannya diatas meja persegi, agar semua orang dapat melihatnya.
"ini juga yang berhasil kudapatkan dari CCTV setempat, sulit mengetahui waktu tepat kejadiannya karena itu sudah bertahun-tahun yang lalu, kemungkinan besar semua ini terjadi sebelum kecelakaan mobilmu"ucap mark.
Kali ini foto dongwoo sedang duduk di cafe, lalu berjalan keluar hotel... bersama dengan wanita yang berpakaian dress hitam dengan topi bundar menutupi wajahnya, Jisoo spontan menutup mulutnya dengan tangan sambil menatap seokjin khawatir. Meskipun wajah perempuan itu tertutup sebagian, tidak mungkin seokjin tidak mengenali siapa wanita itu.
"itu... ibu tirimu jinnie"ucap jisoo lirih.
Seokjin meremas foto itu dengan tangan bergetar. "kau yakin sumber ini dapat dipercaya?" tanyanya dengan suara serak.
KAMU SEDANG MEMBACA
Brother in law
FanfictionKim seokjin. seorang namja yang merasa hidupnya adalah sebuah kutukan. Lahir dengan mengorbankan nyawa ibunya, dituduh membunuh ayahnya, berusaha menahan sakit akibat hujatan orang orang disekitarnya. Akankah dia bisa bertahan?
