Hyung... Hyung... Kau berkelahi lagi!?"
Seokjin berbalik. Menatap jungkook yang sedang menatapnya dengan pandangan kecewa.
"Ani, aku kena tinju nyasar tadi kookie" Ucap jungkook. Jungkook terlihat tak percaya tapi lebih memilih mengabaikan. Sudah terlalu lelah dengan tingkah laku saudaranya yang satu ini. Ia menatap sekeliling, memastikan hanya ada mereka berdua disana, ia lalu menyerahkan sebuah kunci pada seokjin.
"Ini hyung, bukankah kau bilang menginginkannya? Aku berusaha membujuk yoongi hyung untuk mendapatkan ini" Bisik jungkook. Seokjin menerimanya. Menatap kunci tersebut dengan pandangan yang sulit diartikan.
"Gomawo, kookie" Ucapnya pelan.
"Kapan kau ingin masuk ke sana hyung? Mau aku temani?"
"A-ah, tidak perlu. Aku akan pergi sendiri. Saat ini aku masih cukup sibuk, jadi aku akan pergi nanti-nanti" Ucap seokjin. Jungkook mengangguk paham.
"Oh iya hyung, kapan kau akan memperkenalkan ku dengan temanmu itu? Aku sudah tidak sabar" Seokjin teringat jisoo lalu meringis, menyadari bahwa banyak hal yang telah terjadi belakangan ini, membuatnya melupakan janjinya dengan jungkook.
"Oh iya, aku juga lupa karena terlalu sibuk belakangan ini. Mungkin akhir pekan nanti? Aku akan tanya padanya kalau dia luang" Ucap seokjin. Jungkook mengangguk. Ia berjalan masuk ke kamar seokjin. Membuat seokjin mengerutkan kening, heran.
"Kenapa kau masuk ke kamarku?" Tanya seokjin.
"Aku hanya penasaran hyung, memangnya kau sedang sibuk sekali ya? Bagaimana dengan kuliahmu?" Tanya jungkook. Ia lalu duduk di kasur seokjin.
"Karena sebentar lagi waktunya magang, jadi aku harus menyelesaikan beberapa laporan dasar dan tinjauan penelitian"
"Wah wah, sepertinya sulit sekali ya"
"Tidak juga kalau kau sudah terbiasa, kenapa kau terdengar seperti ayahku saat mengatakan itu?!" Canda jin. Jungkook tertawa.
"Apakah mirip hyung? Aku sedang berusaha nih"
"Sama sekali tidak mirip. Nada bicara appa tidak menyebalkan seperti nada bicaramu!" Balas seokjin.
"Wah, kau jahat sekali hyung, aku tak bisa berkata-kata karenamu" Seokjin tersenyum. Mengenang kembali ayahnya.
"Rasanya sudah lama sekali ya... " Gumam seokjin. Jungkook tersenyum ikut mengenang.
"Yaa... Lama sekali hyung"
"Aku ingat sekali saat kalian pertama kali datang kerumah ini"
"Saat itu aku berumur 5 tahun kan hyung? Berapa umurmu saat itu?"
"Mungkin sekitar 10 tahun" Ucap seokjin. Ia terdiam, tiba-tiba, sekelebat ingatan buruk menghampiri nya. Seokjin mengerutkan kening, tiba-tiba kepalanya menjadi sakit.
Seokjin bangkit dari duduknya. Ia menatap jungkook.
"Kookie, aku akan segera mengerjakan tugasku. Bisakah kau meninggalkanku sekarang?" Tanya seokjin. Jungkook mengangguk.
"Anyeong hyung" Pamitnya.
Seokjin menutup pintu kamar. Ia menggigit ujung bibirnya. Mencoba mengingat kembali kejadian 15 tahun yang lalu. Bayangannya terlalu buram, ia tidak bisa mengingat detailnya. Bahkan kepalanya kembali sakit. Seokjin menghela nafas. Sepertinya ia harus segera masuk kedalam ruangan itu.
***
Pukul 2 pagi. Saat ia merasa semua orang sudah tidur dirumah itu. Seokjin memantapkan hatinya melangkah menuju ruangan itu. Tangannya dengan perlahan memasukkan kunci pada gagang pintu.
Seokjin bisa merasakan debaran jantungnya yang menggila. Ia menarik nafas perlahan. Setiap detik berjalan sangat lambat menurutnya. Bulir-bulir keringat jatuh membasahi keningnya.
Dengan sangat perlahan, ia menggerakkan kenop pintu, pintu terbuka perlahan. Seokjin menatap sekitar. Ruangan itu gelap. Seokjin kembali menarik nafas. Ia meraba-raba dinding, mencari sakelar lampu. Setelah dapat, ia menghidupkan nya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Brother in law
FanfictionKim seokjin. seorang namja yang merasa hidupnya adalah sebuah kutukan. Lahir dengan mengorbankan nyawa ibunya, dituduh membunuh ayahnya, berusaha menahan sakit akibat hujatan orang orang disekitarnya. Akankah dia bisa bertahan?
