Apakah sakit?"
seokjin menoleh. menatap jisoo yang sedang menatapnya khawatir. seokjin tersenyum.
"disini lebih menyakitkan soo-ya, sangat menyakitkan"ucapnya sambil menyentuh dadanya sendiri. jisoo menggigit ujung bibirnya. ia ikut duduk di kursi taman, perlahan tangannya menarik seokjin. membawanya kedalam pelukan yang hangat. seokjin menutup mata. merasakan sensasi kehangatan yang selalu ia rasakan saat berada dalam pelukannya.
"kau harus kuat seokjin"ucapnya parau. air matanya mulai menetes.
"yaa... kau dengar semuanya?"tanya seokjin. ia bisa merasakan bahu jisoo bergetar.
"jahat sekali dia! kalau dia bukan adikmu aku sudah membantingnya tadi!" ucap jisoo disela-sela tangisnya. seokjin terkekeh.
"berhentilah menangis"ucapnya.
"dasar bodoh! aku menangis karena kau tidak menangis, aku menangis menggantikanmu!" ucap jisoo. seokjin terdiam.
"tidak apa-apa untuk menangis sesekali seokjin. jangan memendamnya sendirian. bukankah itu terlalu berat untuk kau tanggung sendirian? kau masih punya aku"ucap jisoo. seokjin tak menjawab, tapi ia memeluk jisoo semakin erat.
"gomawo soo-ya"ucap seokjin pelan. jisoo tersenyum kecil sambil menepuk bahu seokjin perlahan.
jisoo teringat sesuatu, ia merogoh tasnya.
"dekatkan wajahmu"ucap jisoo. ia membuka bungkus pleter luka dan menempelkannya pada ujung bibir seokjin. seokjin tersenyum.
"jja~ ayo kita ke kelas. jaehyuk-ssaem pasti sudah menunggu"ajak jisoo. mereka berjalan beriringan menuju kelas.
***
"kau langsung pulang?"jisoo bertanya.
"eum, aku mau menyusun laporan dari tugas terakhir semester ini dulu, setelah itu aku akan pergi bekerja"ucap seokjin sambil membereskan buku-bukunya.
"bukannya kau bilang sudah berhenti?" tanya jisoo heran.
"aku berhenti dari toko roti, tapi aku masih bekerja di cafe"jelas seokjin. jisoo mengangguk paham. mereka berjalan keluar dari kelas.
"oh iya, kau tau tugas akhir jurusan seni?"tanya jisoo.
"ohh, musik gabungan?"
"mereka memberitahumu?"seokjin menggeleng lalu tersenyum parau.
"mereka memberitahu yoongi tapi aku mendengarkan"
"mau datang dan menonton?"
"tentu saja, kau juga datangkan?"
"iya! aku akan merekam penampilan mereka. adik kita satu kelompok lho, kau tau?"ucapan jisoo membuat seokjin berhenti melangkah.
"tidak. Tapi mungkin itu yang di maksud rose dengan kerja kelompok dengan mereka saat aku bertemu dengannya kemarin"ucapnya pelan.
"wajar sih, rose juga memberitahuku, tentu saja mereka senang. meskipun ada sedikit masalah"ucap jisoo sambil nyengir.
"masalah?"ulang seokjin. jisoo mengangguk.
"hm... entah kenapa sepertinya rose dan jimin tidak akur. rose sering mengeluh tentang sifat jimin yang menurutnya menyebalkan"mendengar cerita itu membuat seokjin tertawa.
"benarkah? rose yang penyabar itu? mengeluhkan jimin?"tanya seokjin heran. jisoo mengangguk.
"aneh sekali, menurutku sikap jimin cukup perhatian. apa yang membuatnya bertingkah menyebalkan didepan rose ya?"ucap seokjin sambil berpikir.
KAMU SEDANG MEMBACA
Brother in law
FanfictionKim seokjin. seorang namja yang merasa hidupnya adalah sebuah kutukan. Lahir dengan mengorbankan nyawa ibunya, dituduh membunuh ayahnya, berusaha menahan sakit akibat hujatan orang orang disekitarnya. Akankah dia bisa bertahan?
