"Kukira aku sudah paling cepat?"
Seokjin mendengus. Ia menatap jisoo yang tersenyum manis kearahnya. Seokjin menggeser tubuhnya. Membiarkan jisoo masuk ke ruangan guru untuk menyerahkan tugasnya sementara seokjin menunggunya di taman.
"Jadi ada cerita apa saja kemarin?"tanya jisoo sembari ikut duduk disamping seokjin.
Seokjin mengangkat tangan kirinya. Membuat mata jisoo membola.
"Kau terluka?!"heboh jisoo. Seokjin mengangguk.
Ia lalu menceritakan semua kejadian yang dialaminya pada jisoo. Secara jelas dan rinci. Membuat jisoo tertegun.
"Kau ... Mendengarkan ku?"tanya seokjin. Jisoo tergagap. Lalu cepat-cepat mengangguk.
"Aku senang"ucap jisoo.
"Wae? Kau senang melihatku terluka"tanya seokjin masih tak paham. Ia menatap jisoo yang tersenyum kearahnya.
"Ani, aku senang karena Kau tidak menanggung semua bebanmu sendiri lagi seokjin, aku ... Sangat senang"membuat mata jisoo berkaca-kaca. Ia mendesah dan berusaha menghalau air matanya yang akan turun. Membuat seokjin tersenyum tipis.
"Eii, melihat kau menangis seperti ini.. apa seharusnya aku tidak usah menceritakannya?" Goda jin.
"Ani! Kau harus terus menceritakannya kepadaku! Apapun itu!"paksa jisoo. Membuat seokjin tersenyum.
"Gomawo, jisoo-ya~, aku tidak tau akan bagaimana kalau tidak bertemu kau dan yeonjun Hyung"ucap seokjin. Jisoo menggeplak kepalanya pelan.
"Aish, aku benci suasana seperti ini. Kau dan muka sendumu itu sangat tidak cocok"ucap jisoo mengundang tawa seokjin.
"Kalau begitu mau ke game center? Sudah lama kita tidak kesana"ajak jin.
"Haruskah? Bagaimana dengan lukamu? Apa tidak masalah?"tanya jisoo menatap tangan seokjin khawatir.
"Tak masalah, asal kau yang menyetir"ucap seokjin sambil nyengir. Membuat jisoo merengut.
"Baiklah, kajja. Aku akan menjadi sopirmu untuk hari ini, tuan"ucap jisoo sambil mengatupkan bibirnya. Seokjin tertawa lagi.
•∆•
Seokjin merengut. Ia benar-benar kalah telak. Disampingnya jisoo tertawa senang. Merasa puas melihat wajah tak berdaya seokjin yang biasanya akan sangat sombong mengagungkan kemenangannya.
"Bagaimana tuan? Apa kau sudah puas?" Seokjin kembali mendengus mendengar ejekan jisoo.
"Kau hanya beruntung, tanganku sedang terluka. Kalau tidak aku pasti sudah memenangkan semuanya"ucap seokjin tersungut-sungut. Jisoo kembali tertawa.
"Aish, sudahlah. Aku ke toilet dulu"ucap seokjin lalu berjalan meninggalkan jisoo. Jisoo masih tertawa sampai seokjin hilang dari pandangannya.
Ponselnya berdering, jisoo menggeser kan ikon hijau untuk mengangkat panggilannya.
"Yeobseyo?"
"..."
"Ne, aku sedang di game center dengan seokjin"
"..."
"Jjinjja?"
Jisoo mengedarkan pandangannya. Matanya bertemu dengan mata rose yang tersenyum kearahnya. Jisoo melambaikan tangan lalu mematikan panggilan. Ia berjalan menghampiri rose.
"Kau sendiri?"tanya jisoo.
"Ani, aku bersama Jennie, taehyung, dan Jimin"ucap rose sambil melirik Jimin yang berada disampingnya. Jimin dengan wajah datarnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Brother in law
FanfikceKim seokjin. seorang namja yang merasa hidupnya adalah sebuah kutukan. Lahir dengan mengorbankan nyawa ibunya, dituduh membunuh ayahnya, berusaha menahan sakit akibat hujatan orang orang disekitarnya. Akankah dia bisa bertahan?
