"anyeong yeonjun hyung..."seokjin masuk sambil tersenyum. yeonjun meyambutnya didepan pintu.
"ayo masuk"ajaknya. mereka berjalan menuju ruang tamu. diatas meja sudah tersedia kotak peralatan medis milik yeonjun. seokjin mengambil tempat duduk di sofa dengan yeonjun yang duduk disampingnya.
perlahan, yeonjun membuka perban milik seokjin, seokjin memperhatikan dalam diam. yeonjun begitu fokus dengan luka seokjin. setelah meneliti, yeonjun mengangguk.
"sepertinya lukanya sudah mengering, baiklah! biar aku buka jahitannya"ucap yeonjun. dia lalu menyuntikkan obat bius ke tangan seokjin. tangannya mulai bekerja dengan teliti.
"hyung, aku sangat bahagia"ucap seokjin untuk mengalihkan rasa sakitnya.
"wae?"tanya yeonjun. mata dan tangannya tetap fokus membuka jahitan seokjin.
"ternyata hobi mempercayaiku, dia bahkan membantuku mengatasi panic attack ku"cerita seokjin. yeonjun berhenti sebentar, lalu menatap seokjin yang sedang tersenyum lebar. yeonjun tersenyum kecil.
"baguslah, bebanmu jadi berkurang" ucap yeonjun kembali melajutkan kegiatannya.
"rasanya seperti mimpi hyung, aku tidak percaya bisa kembali ke rumah itu" ucap seokjin.
"ani, kau tidak bermimpi seokjin-ah, tunggulah sebentar lagi, kebahagiaan akan berlomba-lomba menghampirimu, kau berhak bahagia. ingat itu!" ucap yeonjun. seokjin menatapnya penuh haru.
"gomawo hyung"ucapnya tulus. yeonjun ikut tersenyum.
"jja! selesai anak nakal, jahitanmu sudah dibuka"ucap yeonjun. seokjin melihat telapak tangannya. luka sebesar lima senti itu sudah terlihat cukup baik dimatanya? mungkin?
"gomawo hyung, waahh, rasanya sudah lama sekali aku tidak menggunakan tanganku dengan baik. rasanya aneh" ucap seokjin.
"lain kali berhati-hatilah! aku tau kau sangat menyayangi dongsaeng mu, tapi keselamatanmu lebih utama"peringat yeonjun.
"ani, kalaupun waktunya bisa terulang kembali, aku akan tetap melakukannya seperti ini hyung"
"aish, terserahmu! kau selalu pandai membalas ucapanku"ucap yeonjun sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal. seokjin tertawa lebar.
"ngomong-ngomong kemana hyung akan pergi besok?"tanya seokjin.
"busan"
"ahh... itukan dekat hyung"
"tetap saja keluar kota"
"yahh, aku tak pernah bisa melawan ucapanmu hyung"balas seokjin. yeonjun tertawa.
"berapa hari kau akan pergi hyung"
"sekitar seminggu? wae? kau takut akan merindukanku?"
"ani! aku berharap kau akan pergi satu bulan!"
"ya! tidakkah itu terlalu kejam? kau mengusirku? dari kotaku sendiri?!"
"ugh! yeonjun hyung mulai lagi dengan drama favoritenya"gumam seokjin yang masih bisa didengar oleh yeonjun.
"mwo?!"ucap yeonjun murka.
"a-ani, hyung aku lapar... kau punya seusatu yang bisa dimakan?"ucap seokjin mengalihkan pembicaraan.
"kau sudah makan malam? aku hanya punya kimbap"ucap yeonjun.
"sudah, tapi aku lapar lagi. kimbap juga enak hyung. isian apa?"tanya seokjin. yeonjun bangkit dan berjalan menuju dapur.
"ikan salmon"ucap yeonjun kembali dengan membawa sepiring kimbap yang sudah terpotong rapi. ia meletakkan piringnya diatas meja didekat sofa.
KAMU SEDANG MEMBACA
Brother in law
FanfictionKim seokjin. seorang namja yang merasa hidupnya adalah sebuah kutukan. Lahir dengan mengorbankan nyawa ibunya, dituduh membunuh ayahnya, berusaha menahan sakit akibat hujatan orang orang disekitarnya. Akankah dia bisa bertahan?
