Keesokan harinya
Auditorium fakultas seni
Suara riuh penonton dan dentingan alat musik memenuhi udara. Lampu-lampu panggung berkilau, memantulkan cahaya ke setiap sudut auditorium. Dibelakang panggung, suasana justru jauh lebih meriah, perasaann panik, cemas dan serba terburu-buru.
Rose berlari kecil dari ruang ganti sambil menekan ponselnya ke telinga, wajahnya pucat. jennie dan taehyung berdiri tak jauh darinya. saling bertukar pandang bingung.
"bagaimana Rose?"desak jennie.
Rose menutup telepon dengan tangan gemetar. "Nari... dia kecelakaan mobil dalam perjalanan kesini. dan sekarang ada di rumah sakit" suara rose bergetar, begitu pula dengan sekujur tubuhnya. ia benar-benar panik sekarang.
Taehyung memijit pelipisnya spontan. "gilaa.. waktu kita tinggal satu jam lagi. Tanpa penampilan piano, nilai kita gak bakal sempurna"
Mereka benar-benar serba salah. Di satu sisi merasa kasihan terhadap nari, disisi lain mereka juga khawatir tentang bagaimana penampilan mereka akan berjalan nanti.
Jennie menatap sekitar "apa gak ada orang yang bisa gantiin? Siapa aja, asalkan bisa main piano?"
Rose menggeleng cepat "semua anak fakultas seni sibuk sama penampilannya masing-masing. kita gak punya cadangan pemain"
Saat suasana sedang panas-panasnya, pintu belakang terbuka. Menampilkan wajah ceria jisoo diikuti seokjin dibelakangnya yang membawa kantong belanjaan berisi air mineral untuk menyemangati mereka.
"apakah kalian siap mengguncang panggung hari ini?~"ucap jisoo ceria, mencoba mencairkan suasana tegang diantara mereka.
Rose yang melihat keberadaan seokjin langsung berlari menghampiri seokjin dan menggengam kedua tangannya penuh harap.
"oppa!" serunya kencang. Nafasnya terengah-engah. "tolong... bantu kami mainkan piano..." ucapnya pelan. Jennie yang berada disebelahnya mengangguk setuju. Hanya seokjin harapan mereka satu-satunya. Seokjin mengerutkan alis, bingung.
"apa maksudnya itu? ini kan tugas akhir kalian, mengapa melibatkanku?"tanya seokjin heran.
"nari, yang bertugas memainkan piano kecelakaan, sehingga dia gak bisa tampil hari ini. Dan kami gak punya pengganti karena semua orang sibuk latihan untuk tampil"
"t-tapi aku..."
"jebal, kami sudah latihan bebulan-bulan untuk ini oppa! kalau tidak ada yang memainkan piano nilai kami akan berkurang. Nari gak bisa datang, oppa tidak perlu memperkenalkan diri, kami akan minta izin dan menjelaskan semuanya ke ssaem, oppa hanya perlu memainkan piano dari belakang layar" ucap Rose memotong ucapan seokjin.
Belum sempat seokjin menjawab, Jimin melangkah cepat kearah mereka, matanya penuh penolakan.
"dia gak boleh ikut campur!"suara Jimin dingin, nyaris mendesis. "kita bakal cari cara lain!" ucapnya penuh ketegasan. Ia benar-benar tidak ingin seokjin ada di penampilan mereka, walaupun sebagai pengganti.
Rose menatap Jimin kesal. "jim! kita gak punya waktu! tiga puluh menit lagi giliran kita. kau mau tampil setengah- setengah di penilaian akhir?"
Jimin mengangkat dagu, menatap tajam seokjin. "aku gak mau dia menyentuh bagian dari kerja keras kita"ucap Jimin keras kepala. Taehyung menghela nafas kesal. Ia mencoba bersabar.
Jennie dan Taehyung ikut maju, menatap Jimin dengan pandangan memohon. Mereka benar-benar tidak punya pilihan lain. "jim..." ucap Taehyung pelan sambil mengusap bahu jimin. Berharap agar saudaranya mampu mengendalikan emosinya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Brother in law
FanfictionKim seokjin. seorang namja yang merasa hidupnya adalah sebuah kutukan. Lahir dengan mengorbankan nyawa ibunya, dituduh membunuh ayahnya, berusaha menahan sakit akibat hujatan orang orang disekitarnya. Akankah dia bisa bertahan?
