part 22

88 7 5
                                        

   Bunyi AC berdengung pelan di ruangan divisi seokjin. ia duduk didepan layar kantor miliknya, menatap lembar excel yang kosong dengan template arsip minggu lalu di jendela sebelahnya. tangannya menggenggam mouse erat-erat, matanya sibuk mempelajari lembar excel minggu kemarin.

   Template-nya terlihat rapi dan sistematis. ada kolom tanggal. jenis dokumen, nomor referensi, divisi pengirim, dan tatus pengarsipan. seokjin menarik nafas panjang. Satu per satu file pdf dan scan dokumen ia buka. Ia salin informasi penting ke template secara pelan, teliti dan takut salah. Seokjin mengeceknya berulang kali.

   Seokjin menarik nafas lega, ia mengusap peluh yang membanjiri keningnya padahal ruangan itu berada di suhu 16 derajat, kegugupan membuat seokjin banjir keringat. selesai batinnya. ia mengecek keseluruhan file dari awal lalu mengirimkannya ke wookie. 

   Seokjin merenggangkan tubuhnya, ia melirik jam dinding. pukul empat, akhirnya setelah dua minggu magang disini, ia selesai lebih cepat dari waktu bekerja. Ia menata sekeliling, eunji dan sang-ho belum kembali, begitu pula dengan jinwoo dan wookie. Seokjin berfikir, apa yang harus dia lakukan sekarang? seokjin teringat ruangan kerja ayahnya dulu, yugyeom berkata kalau ruangan kerja ayahnya sengaja dikosongkan. untuk mengenang sekaligus menjaga barang-barang penting peninggalan ayahnya. Setelah menimbang keputusan sejenak, ia mengambil ponselnya, mencoba menghubungi yugyeom.

    "yeobseyo... samchoon?"

   "seokjin? ada apa?"

   "samchoon, apa ruangan appa dikunci?"

   "kau ingin masuk? ruangannya diberi pin diluar, paswordnya tanggal lahir ayahmu, pastikan tidak ada orang disekitarmu saat kau membuka pintunya"

   "baiklah samchoon, terimakasih informasinya"

   "semoga kau menemukan apapun yang kau cari, seokjin"

  Seokjin terdiam, dalam hati ia juga berharap hal yang sama. Ia benar-benar ingin semua ini selesai. Seokjin benar- benar lelah menghadapi tingkah yoongi dan namjoon yang semakin terang- terangan membencinya. Ia mematikan panggilan, lalu berjalan mantap menuju lantai enam, ruangan kerja ayahnya dulu. 

   Seokjin menatap pintu ruangan tersebut lamat-lamat, ia mengedarkan pandangan, memastikan tidak ada orang disekitarnya. Tepat saat ia akan menyentuh pin ruangan tersebut seseorang menginterupsinya.

   "seokjin? sedang apa kau disini?" seokjin terkesiap, cepat-cepat membalikkan badan. Menatap jinwoo yang sedang menatapya dengan pandangan bertanya-tanya.

   "a-aku ingin mencarimu h-hyung, tadi timjang-nim memintaku membuat laporan administrasi minggu ini dan aku ingin memintamu untuk memeriksa dokumen yang kubuat. karena biasanya kau ada di lantai ini setelah belanja kebutuhan kantor, kupikir akan lebih baik kalau aku mencarimu langsung disini" ucap seokjin sambil mencoba bicara setenang mungkin.

   "oohh, kemarilah. Kau memasuki ruangan yang salah, itu adalah ruangan presdir yang lama. Tidak ada yang boleh masuk kesana"ucap jinwoo. seokjin mengangguk dan berjalan menuju jinwoo.

   "kenapa tidak ada yang boleh masuk hyung?"

   "Sajang-nim melarangnya, karena presdir sebelumnya tewas karena kecelakaan dan Sajang-nim menggantikannya menjadi presdir di perusahaan ini" seokjin terdiam.

   "Sajang-nim sebelumnya... seperti apa orangnya hyung?"

  Mereka berjalan kembali ke ruangan mereka.

   "beliau orang yang baik, beliau sangat ramah dan perhatian kepada setiap karyawannya, ia mengayomi dan tidak menuntut para pekerjanya dengan keras. oh, dan beliau sangat murah senyum"

Brother in lawCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang