Setelah tiga hari berlalu, seokjin memastikan beberapa barang penting yang akan dibawanya kerumah. Setelah yakin, seokjin mengunci kopernya. Ia tidak membawa banyak barang, lagipula tidak ada yang akan menempati apartemen ini jadi seokjin bisa kembali kapanpun sesuka hatinya.
"Jja~, mari bertemu soo-ya..."seokjin keluar dari apartemennya. Ia menyandang tas nya lalu memakai headphone nya. Tangannya sibuk memperbaiki mantel agar menutupi tubuhnya dengan sempurna. Salju semakin dingin. Tapi seokjin menyukainya. Dinginnya mampu menghangatkan hati seokjin.
10 menit kemudian, seokjin sampai. Saat berjalan memasuki kelas, jisoo sudah duduk dengan tenang di sana.
"Anyeong~"sapa seokjin.
"Ah, anyeong~, tumben sekali aku datang lebih dulu dibanding kau"ucap jisoo.
"Ada beberapa hal yang perlu kuurus dulu tadi"
"Kau jadi pindah hari ini?"tanya jisoo. seokjin mengangguk.
"Jam Lima nanti, yugyeom samchoon akan datang menjemputku"ucap seokjin.
"Aku sungguh tidak sabar"ucap jisoo senang. Seokjin tersenyum. Ponsel nya berbunyi. Sebuah notifikasi masuk.
Oppa, kami ada di Seoul sekarang... apa jisoo eonnie bersamamu?
Seokjin tersenyum. Ia menatap jisoo yang sibuk membuka buku.
Ne, dia bersamaku sekarang. Seokjin mengetikkan balasan.
Tak lama, balasan lain muncul.
Kami ingin memberinya kejutan oppa, aku dan rose akan mendaftar di kampus yang sama dengan kalian, sementara Lisa juga mendaftar di SMA choman. Tapi jangan bilang kalau kami sudah kembali ke seoul.
Baiklah, apa yang kalian rencana kan?
Kami akan memberinya kejutan, oppa bisakah kau membawa jisoo eonnie ke taman tempat kita biasa bertemu pukul 12 nanti?
Tentu saja. Kelas kami juga sudah selesai jam segitu.
Yess! Sampai bertemu nanti oppa!
Seokjin mengakhiri obrolannya.
"Siapa yang mengirimimu pesan? Kau terlihat bahagia?" Tanya jisoo.
"Ani, bukan siapa-siapa"
.
•∆•
Saat ini, jisoo dan seokjin sedang berada di kantin kampus. Mereka asyik menikmati makan siang bersama.
"Oh ya, apakah kau masih berhubungan dengan Lisa?"tanya seokjin. Jisoo mengangguk.
"Tentu saja! Mereka memberiku kabar setiap hari"
"Woah.. padahal waktu antara seoul dan Amerika kan berbeda, apa tidak sulit berkomunikasinya?"tanya seokjin.
"Tidak. Karena aku merindukan mereka dan mereka merindukanku, maka tidak ada yang menjadi penghalang"ucap jisoo yakin. Seokjin mengangguk.
"Ahh, kau tau? Kemarin Jennie dan rose tampil di acara kampus mereka, mereka mengirimiku videonya. Keren sekali" jisoo mengeluarkan ponselnya lalu memberikan nya kepada seokjin.
Seokjin menyaksikan penampilan Jennie dan rose yang menyanyi sambil bermain gitar.
"Mereka berbakat sekali"puji seokjin sambil sesekali menyuap makanannya.
"Ya kan! Aku senang mereka akhirnya dapat melupakan kenangan buruk mereka disini"
KAMU SEDANG MEMBACA
Brother in law
FanfictionKim seokjin. seorang namja yang merasa hidupnya adalah sebuah kutukan. Lahir dengan mengorbankan nyawa ibunya, dituduh membunuh ayahnya, berusaha menahan sakit akibat hujatan orang orang disekitarnya. Akankah dia bisa bertahan?
