17

11.9K 790 52
                                        

Hari demi hari kecemasan Joseph terus tumbuh. Salahkan saja semuanya pada sahabatnya yang selalu menakutinya.

Siapa lagi kalau bukan Jasper. Bahkan pria itu selalu mengirimkan pesan mengejek jika Athea tidak akan pernah membalas perasaannya begitu kenal orang lain.

Walaupun kesannya bercanda, tetap saja Joseph khawatir jika hal tersebut akan terjadi. Oh, ia adalah pria yang sudah berumur 20 tahunan berbeda dengan sang empu yang memasuki usia SMA.

Joseph yang cemas tiada hari membujuk Athea untuk sekolah di rumah saja. Itu artinya membatalkan sang pemuda cantik untuk sekolah di luar.

Tentu saja, setiap hari Joseph akan menerima penolakkan. Seperti saat ini, mereka sedang berbaring di kamar tidur utama.

Hari sudah malam. Matahari sudah lama tenggelam digantikan oleh cahaya rembulan. Kamar Joseph memiliki jendela yang besar sehingga mereka bisa menghabiskan waktu mengamati keindahan langit malam.

Athea bersandar manja pada bidang dada Joseph. Sekali-kali jari kecilnya bermain dengan jemari Joseph yang besar.

Joseph sendiri menikmati kebersamaan mereka. Ia sudah tidak ragu lagi untuk menghirup leher pemuda cantik itu.

"Sayang, bagaimana jika dipikirkan lagi hm? Athea masih bisa sekolah di rumah seperti biasanya, mau ya...?" ucap Joseph.

Joseph mempererat pelukan mereka. Sangat pas tubuh ramping Athea berada dalam dekapannya.

"Athea tidak mau kakak. Athea ingin sekolah. Bertemu teman baru." Ucap Athea masih mencoba sabar.

Ia bahkan sudah tidak dapat menghitung lagi berapa kali Joseph membujuknya dalam seharian ini.

Joseph selalu tidak ingin kalah. Ia mengecup tengkuk leher sang adik. Menghirup aroma wangi yang selalu menyambutnya di ranjang.

Athea tidak menolaknya. Ia tidak pernah menolak sentuhan sang kakak. Katanya, ini adalah tanda sayang yang memang wajar dirinya dapatkan.

Terkadang, perutnya geli seperti ada kupu-kupu yang menggelitik disana setiap kali Joseph menyentuh atau menciumnya.

"Adik kakak ini sudah tidak sayang lagi ya? Kalau Athea sekolah, kakak akan kesepian..." ucap Joseph memelas.

Huh.

Hembusan nafas lelah Athea keluarkan untuk sekian kali. Athea membalikkan badan. Menatap kearah manik mata indah sang kakak. Wajah cemberut kakaknya begitu menggemaskan bagi Athea.

Cup.

Athea mencium pipi Joseph. Tangan kecilnya ia bawa mengelus rahang tajam Joseph.

"Kakak kan kerja juga. Kita masih bisa bertemu kakak. Ayolah kak, Athea benar-benar ingin sekolah. Bukan berarti Athea tidak sayang lagi sama kakak." Ucap Athea tersenyum lembut.

Joseph menghela nafas. Dirinya juga merasa percuma membujuk sang adik yang sudah bertekad ingin sekolah. Salahkan dirinya yang menawari hal itu dulu.

"Baiklah..." ucap Joseph menyerah.

Sudah seharusnya ia membuang rasa khawatirnya yang berlebih. Jujur saja, ia masih tidak bisa membayangkan jika Athea bertemu dengan seseorang selain dirinya. Sungguh, ia bahkan tidak rela jika sang adik memiliki rasa pada seseorang di masa depan.

Mata Joseph dan Athea bertemu. Malam ini seperti malam sebelumnya. Mereka selalu menikmati momen spesial ini bersama. Tidak ada yang mengganggu. Hanya ada mereka berdua.

Joseph mengecup bibir pemuda cantik itu dengan lembut. Bibir yang sudah ia cium hampir setiap hari tidak pernah membosankan. Joseph ingin melakukan hal lebih. Memasuki sarang baru yang selalu ia jaga hanya untuk dirinya.

Di Balik Kisah BukuCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang