17. Menetralisir Kegelisahan

43 14 9
                                        

Panji terkekeh kecil seraya menimpali. "Enggak cuma kamu sayang, Papa juga mau sih punya cucu lucu dan menggemaskan.

Celine yang mendengar hal tersebut menyatukan alisnya dengan cara mengerutkannya. "Maksudnya apa, Pa?" tanya Celine spontan karena terkejut bukan main.

Jesslyn terkekeh kecil seraya berbicara dengan nada yang seakan mengejek Celine. "Mama dan Papa juga kan mau punya cucu, Cel. Enggak bisa apa kalau kamu nikah dekat-dekat ini?"

"Untuk apa?"

"Untuk Mama, dong," ada jeda sebelum akhirnya Jesslyn kembali melanjutkan, "untuk Papa juga pastinya.."

Mama katanya?

Celine kembali menyantap makanannya yang sebentar lagi akan habis. Gadis itu tidak memiliki niat untuk membahas persoalan pernikahan tersebut.

Panji yang merasa istrinya diabaikan kemudian ikut berbicara. "Celine masih kecil juga, sayang," ada jeda sebelum akhirnya Panji kembali melanjutkan, "lagipula kuliahnya belum selesai dan Celine masih membutuhkan sosok orang tua dari kita," lanjut Panji seraya menatap anak semata wayangnya.

Celine yang mendengar hal tersebut tersenyum miris, gadis itu merasa bahwa kedua orang tua didepannya ini tidak Celine butuhkan lagi karena sejak awal mereka memang tidak ada kontribusi apapun selain uang.

Lagipula, untuk apa membahas pernikahan disaat Celine tidak boleh memiliki teman laki-laki?

"Celine juga belum kepikiran untuk menikah dulu, Pa."

Jesslyn ikut menatap Celine dan kembali berucap. "Kenapa? Umur kamu udah lumayan loh," ada jeda sebelum akhirnya Jesslyn kembali melanjutkan, "Eh sekarang umur kamu berapa, Cel?"

"Dua puluh dua."

"Wah! Masih muda banget, ya! Dulu waktu Mama seumuran kamu udah kerja sih, udah lulus kuliah juga."

Celine menipiskan bibirnya tersindir karena jelas sekali jika Jesslyn menyindirnya. Memang benar, Celine telat 1 tahun dibanding teman-temannya yang sudah mulai menyusun skripsi dan bimbingan dengan dosen pembimbingnya masing-masing. Sedangkan Celine masih harus mengejar beberapa mata kuliah yang masih tertinggal dan mengulanginya kembali.

"Itu kan dulu, bukan sekarang!" sunggut Celine seraya menyantap makanannya yang terakhir. "Celine pulang duluan, Pa."

Panji yang melihat Celine membereskan barang-barangnya, membuat pria paruh baya itu berdeham dan berbicara. "Pulang bersama-sama dengan Papa dan Mama!" titah Panji seakan tak terbantahkan.

Celine berniat ingin membantah, namun ketika melihat raut wajar Panji yang terlihat dingin membuat niat Celine untuk pulang terlebih dahulu langsung terkubur rapat-rapat.

"Jawab Papa, Celine!" ucap Panji sarkas, pria paruh baya tersebut tidak suka jika lawan bicaranya tak menjawab seakan tak menghargainya.

Celine tersentak sedikit terkejut mendengar suara Panji yang terdengar lebih tinggi dari biasanya. Gadis itu menjawab dengan suara cicitan karena merasa terbentak, terlebih didepan ibu tiri yang amat gadis itu benci.

"Iya Pa, Celine mengerti," ada jeda sebentar karena Celine menarik napas dalam kemudian kembali melanjutkan, "Celine turutin apa mau Papa," lanjut gadis itu.

Panji yang mendengar hal tersebut tersenyum senang karena anak semata wayangnya menuruti perintahnya. Sedangkan Jesslyn yang terduduk tepat disamping Panji lantas menyeringai penuh arti karena wanita paruh baya tersebut berhasil membuat Celine merasa tersuduti. Jesslyn yakin, setelah pulang dari restaurant ini, pasti Celine akan kumat seperti biasanya didalam kamarnya.

***

Dimas berada diujung springbed tempat ia biasa tertidur dimalam hari. Pria itu menatap lekat-lekat botol-botol kosong bekas obat-obat yang selama ini ia konsumsi dan disembunyikan didalam laci yang terkunci agar tidak ada yang tau siapapun dari anggota keluarganya. Berbagai macam telah Dimas coba mulai dari obat insomnia, obat gangguan pencernaan, hingga obat penenang. Dan pada obat penenang itu lah pria itu terus menerus membelinya sehingga lebih dari tiga botol telah ia konsumsi.

Relationshit! [TERBIT-OPEN PO✅]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang