S1 Eps. 12 - Hierarchy

237 40 1
                                        

_____________________________

Happy Reading!
_____________________________


Hari ketiga Arashi tinggal di komplek Moona, dia mulai beradaptasi dengan tempat itu. Bukan suatu hal yang asing ketika ritual penghormatan untuk matahari selesai, orang-orang sudah berlalu-lalang mengerjakan tugas mereka. Terdengar seperti sesuatu yang aneh tetapi warga di sini sangat rajin bergotong-royong dalam hal apapun, entah itu mengangkut buah dan sayur, membersihkan halaman, memikul karung-karung yang entah apa isinya, atau bahkan menghias sudut-sudut tertentu di lingkungan komplek. Namun dipastikan semua orang punya perannya masing-masing.

Kecuali Arashi.

Sudah dua hari berlalu dan Arashi hanya bisa memantau dari depan kabinnya. Bagaimana para gadis mulai membawa keranjang berisi sayur-mayur ke dapur, atau para lelaki yang menyapu halaman dan merawat tanaman. Pakaian mereka normal seperti pakaian yang dikenakan Alvaro dan beberapa anggota lain. Dia tidak menemukan orang-orang berpakaian lusuh yang kemarin malam mengamati kalungnya. Entah kemana perginya mereka.

"Arashi!"

Gadis berambut indigo itu menoleh. "Naina?"

Senyum terbit di bibir Naina ketika ia berjalan mendekati Arashi. "Ku lihat kau belum memiliki tugas ya? Ayo ikut aku. Kalau Tuan Arjun tahu kau tidak melakukan apapun, bisa bahaya."

Arashi beranjak dari duduknya. Kening gadis itu mengerut. "Tuan Arjun itu pemimpin di sini, ya?"

"Iya. Dia itu Lunar. Pemimpin di camp Moona."

Jawaban Naina mengingatkan Arashi perihal status Alvaro sebagai wakil pimpinan. "Sepertinya aku belum pernah melihatnya."

Naina mengangguk. "Tuan Arjun memang jarang menemui anggota Moona karena dia punya banyak agenda di luar camp. Makanya urusan di sini sering dipegang oleh Paman Braga atau Alvaro."

Arashi mengikuti langkah gadis bermata biru itu dari belakang. Rasa penasaran muncul di benaknya. "Kalau dia sering keluar dari sini, apa itu artinya kalian juga bebas keluar? Maksudku seperti kau, Bibi Sera atau ya... Callista."

"Tidak sebebas itu juga," sergah Naina. Mereka tiba di sebuah kabin yang pintunya terbuka. Di depan pintu, ada sebuah palang bertanda 'ruang administrasi'. Layout kabin ini agak berbeda dari yang lainnya karena ketika Arashi menjejak masuk, kabin itu benar-benar hanya difungsikan layaknya kantor. Ada kursi kayu beserta meja kaca di tengah ruangan, sebuah lemari kayu besar di sudut kabin, kertas-kertas tempel di dinding, dan sebuah kipas angin kuno di langit-langit.

"Hanya orang-orang VIP saja yang bisa keluar sesuka hati. Kau tahulah, Tuan Arjun, Paman Braga, Iqbal, dan Alvaro." Naina berjalan menuju dinding yang ditempeli oleh kertas beragam warna. "Sementara anggota yang lain akan diawasi dan sang pengawas sangat bertanggung jawab penuh terhadap siapapun anggotanya yang akan keluar camp."

"Pengawas?"

Naina menoleh. "Kau tidak tahu? Apa Alvaro belum memberitahumu?" Jemarinya menunjuk salah satu kertas yang tertempel di dinding. "Pengawas Nightfall itu Rezkay, anaknya Bibi Sera sementara pengawas Devotion itu Ghara."

Arashi makin bingung. Gadis itu mengamati kertas yang berisi tabel hierarki beserta nama-nama yang jumlahnya banyak. "Nightfall, Devotion, apa itu? Kenapa banyak sekali istilah aneh di tempat ini?"

"Arashi, Moona itu punya kasta."

"Kasta?" tanya Arashi terkejut. "Kasta maksudnya... tingkat status sosial begitu? Di sini? Di komplek dalam hutan ini?"

𝐌𝐎𝐎𝐍𝐀: 𝐓𝐡𝐞 𝐈𝐧𝐜𝐞𝐩𝐭𝐢𝐨𝐧Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang