_____________________________
Happy Reading!
_____________________________
•
"Moonbeam sudah menjadi kasta terbawah Moona sejak kelompok ini terbentuk. Iqbal mengatakan padaku kalau saat dia masih kecil, anggota Moonbeam sudah ada, tapi sejak kepemimpinan ayahnya, Moonbeam semakin banyak karena mereka berkembang biak. Sejujurnya, keadaan mereka~ agak miris. Moona tidak memberi mereka pendidikan, tempat tinggal, dan makanan yang layak. Bahkan... mereka kadang berhubungan sedarah. Oleh karena itu, keturunan Moonbeam banyak yang cacat dan sakit."
Perkataan Naina di malam itu masih terbayang-bayang di benak Arashi bahkan setelah sebulan berlalu. Meski telah menjadi anggota resmi Moona, Arashi tidak berhenti untuk mencari cara keluar dari sana. Tujuannya masih sama. Hanya saja kini emosinya lebih terkontrol agar orang-orang berhenti curiga.
Hari itu, di masa-masa panen, camp Moona sedang disibukkan untuk persiapan perayaan. Tentu membutuhkan waktu dan pasokan makanan yang banyak. Biasanya, hanya kasta Moonbeam dan Divine yang bekerja mengurusi ladang. Namun kali ini, beberapa orang dari kasta Nightfall dan Devotion dipilih secara khusus untuk membantu tugas mereka.
Sebagai seseorang yang punya koneksi dengan Divine, Arashi dan Naina terpilih tanpa ragu. Mereka ditugaskan untuk memetik buah—tugas paling mudah—untuk ditata dalam festival nanti.
"Berapa banyak strawberry yang dibutuhkan? Kenapa kita tidak memetik jeruk saja?" Arashi bertanya saat mereka berjalan menuruni jejak setapak kebun strawberry. Jarak kebun ini hanya sekitar satu kilometer dari camp.
Naina dengan lihai mencabuti beberapa strawberry seolah sudah terbiasa dengan tugas itu. "Jeruk itu tugas orang lain. Kita hanya di sini saja."
"Oh," cetus Arashi. Tangannya menyentuh sebuah strawberry, mengamati. "Orang-orang Divine tidak mengawasi ya?"
"Mereka sedang mengawai Moonbeam di kebun wortel."
Jawaban Naina membuat Arashi menaikkan alis. "Ah, kebetulan sekali. Biasanya mereka selalu mengintili. Hari ini kita bebas ya~"
Naina berdiri, menoleh. "Ayo cepat, petik beberapa lalu kita segera kembali. Aku masih punya tugas lain."
Dengan tidak semangat, Arashi menurut. Dia mendatangi beberapa petak dan mulai memetik. Buah-buah merah itu ia kumpulkan di keranjang kecil dengan rapi.
Sekitar 15 menit berlalu, tanpa sadar langkahnya sudah mencapai ujung kebun, dan apa yang Arashi temukan di ujung sana membuatnya mematung di tempat.
Rumah penduduk.
Sebuah desa dengan pemukiman di bawah sana.
Namun, jalan menuju tempat itu cukup curam dan berbukit. Hampir mirip seperti jurang. Kelebihannya hanya struktur tanahnya tidak selicin wilayah lain.
Arashi menggenggam keranjang erat. Apakah ini adalah kesempatan? Karena untuk keluar dari Moona dan menyelamatkan perbudakan Moonbeam, harus ada seseorang yang berani melakukan langkah pertama.
Dia menimang-nimang pilihan. Namun sadar bahwa kejadian buruk akan hadir jika waktu tidak dihargai, Arashi memutar tubuh, berlari ke arah Naina yang berjongkok mengamati strawberry.
"Naina! Naina! Berdiri! Cepat!"
Kepanikan Arashi membuat gadis itu kebingungan. "Kenapa?"
"Ayo pergi dari sini." Arashi menatapnya serius. Tangannya menggenggam bahu Naina. "Ini kesempatan kita karena Divine tidak ada di sini!"
KAMU SEDANG MEMBACA
𝐌𝐎𝐎𝐍𝐀: 𝐓𝐡𝐞 𝐈𝐧𝐜𝐞𝐩𝐭𝐢𝐨𝐧
Romance𝓓𝓪𝓻𝓴 𝓡𝓸𝓶𝓪𝓷𝓬𝓮 𝓢𝓽𝓸𝓻𝔂 [𝗪𝗮𝗿𝗻𝗶𝗻𝗴❗: Mengandung beberapa scene kekerasan] "𝗪𝗵𝗲𝗻 𝘆𝗼𝘂'𝗿𝗲 𝘀𝘁𝘂𝗰𝗸 𝗶𝗻 𝘁𝗵𝗲 𝗰𝗿𝘂𝗲𝗹𝗲𝘀𝘁 𝗿𝗲𝗮𝗹𝗶𝘁𝘆." . Arashi Grace Starvy mengikuti acara tahunan kampus yang diadakan di kaki gunun...
