S1 Eps. 15 - Hidden Reasons

218 29 3
                                        

_____________________________

Happy Reading!
_____________________________


"Kau beruntung. Ayahku pergi lagi jadi dia tak tahu tentang masalah ini."

Malam semakin larut, tetapi Iqbal dan Alvaro belum berniat untuk menyudahi percakapan mereka sejak pergi dari kabin Arashi. Gadis itu sudah beristirahat. Naina ada di sampingnya, jadi Alvaro tidak mencemaskannya lagi.

Dua anggota Divine itu sedang berdiri di atas jembatan kecil yang melintasi mata air. Penerangan seadanya dari lentera yang digantung di salah satu pacak menemani mereka dalam kegelapan malam.

"Apa ada kemungkinan Arashi akan dihukum?" Alvaro melontarkan tanya setelah cukup lama membisu.

"Itu keputusan Lunar." Iqbal menoleh. "Oh ya, kau juga belum minta izin untuk membawa gadis itu ke sini, loh." Lelaki itu menyeringai. "Kalau Ayah tak setuju, Arashi bisa saja dikembalikan ke kota atau kemungkinan terburuk...," suaranya memelan, "dia akan 'dihilangkan' karena sempat jadi saksi mata."

"Aku tidak akan membiarkan itu terjadi," pungkas Alvaro. Tangan kanannya mengepal. "Nanti setelah Tuan Arjun kembali, aku akan menemuinya secara pribadi."

"Kau tahu kau tidak perlu sejauh ini hanya untuk gadis asing itu." Mata Iqbal melirik. Ada banyak ekspresi tak terbaca dari rautnya. "Kau tidak mencintainya 'kan?"

Alvaro diam.

"Kau tidak mencintai dia sama seperti aku mencintai Naina."

"Hah, jangan bicara omong kosong." Sudut bibir Alvaro melengkung sinis. Lelaki itu memandang Iqbal serius. "Semua orang yang punya mata juga tahu kau tidak memandang Naina seperti itu. Kau bersamanya karena kau punya kontrol terhadapnya."

"Lalu apa bedanya denganmu?" Iqbal terkekeh. Dia menundukkan tubuh, mengistirahatkan lengannya di pegangan jembatan. "Kau juga membawa Arashi ke sini karena ingin mengontrolnya kan?"

"Siapa yang mengatakan itu?"

"Oh ayolah, lalu alasan apa lagi yang membuatmu menyelamatkannya dari ritual dan membawanya kemari?" tanya Iqbal. "Alvaro, kau~ ingin punya kontrol juga atas dirinya."

Alvaro memandang kedalaman air di bawah kaki mereka. "Kalau niatku seperti itu, aku tidak akan memperlakukannya sebaik itu."

"Lalu apa alasannya? Hal klise seperti cinta pandangan pertama? Bullshit." Kekehan kecil meluncur dari bibir Iqbal. "Kau hidup bertahun-tahun di Moona dengan Callista, kuliah di Adelaidne selama beberapa tahun dan dekat dengan Amelie, tapi tak ada satupun dari mereka yang membuatmu tertarik." Dia memiringkan kepala. Maniknya yang ditimpa cahaya kecil dari pancaran lentera mengamati Alvaro lekat. "Lalu kau mau bilang kalau kau men~cin~ta~i Arashi? Junior yang baru kau temui di family gathering itu? Cih, tidak mungkin. Kau pasti punya tujuan."

Lidah Alvaro berdecak sebal. "Apapun tujuanku, aku tidak punya niat jahat padanya. Toh, aku belum tahu apakah aku bisa bersama Arashi selamanya atau tidak, tapi untuk sekarang aku mau dia ada di sampingku."

"Lemah." Iqbal mencebik. "Kau punya kontrol terhadapnya setelah dia menginjakkan kaki di Moona tapi kau memilih untuk jadi lemah." Tubuh Iqbal berbalik. Lelaki itu menengadah ke langit, pada saksi bisu percakapan mereka malam ini. Iqbal mengigit bibir getir. Sorot matanya berpendar redup dalam minim cahaya. "Alvaro, biar kuberi tahu, jangan membiarkan dia menginjak-injak harga dirimu. Kau lupa apa yang terjadi jika kita terlalu memberi kebebasan pada pasangan kita? Kau lupa apa yang terjadi pada ibuku dan juga ibumu?"

𝐌𝐎𝐎𝐍𝐀: 𝐓𝐡𝐞 𝐈𝐧𝐜𝐞𝐩𝐭𝐢𝐨𝐧Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang