_____________________________
Happy Reading!
_____________________________
•
"Bara?!" Manik Arashi membelalak. "Itu Bara kan?" Tanpa sadar kakinya maju, hendak menempuh langkah menemui temannya. "Bar–hmph!"
Tubuh Arashi menegang kala Alvaro membekap mulutnya dari belakang. Kejadian ini memicu ingatan Arashi kembali terhadap malam tragedi di vila kaki gunung Rosenca. Kesadaran menghentaknya keras. Tangan Alvaro yang melingkari pinggangnya ia pukul sekuat tenaga untuk lepas, tapi justru entah karena tubuhnya yang ringan atau tenaga lelaki itu terlalu besar, Alvaro berhasil menyeretnya mundur, membawanya masuk ke kabin gadis itu.
Begitu mereka menjejakkan kaki di sana, Alvaro melepaskan cengkeramannya bersamaan dengan tangannya yang menutup pintu dengan keras. Lonjakan suara membuat Arashi terkejut. Namun seketika, amarah gadis itu meluap.
"Apa yang kau lakukan?!" jerit Arashi. "Itu Bara! Temanku! Aku mau menemuinya!"
Alvaro memandangnya serius. Dia menempelkan jari telunjuk ke bibir, isyarat diam. "Jangan berisik. Lunar hari ini ada di camp. Semua otoritas kembali padanya jadi jangan coba-coba buat masalah." Matanya mengamati penampilan Arashi. "Kau sedang marah. Aku tidak akan membiarkanmu melakukan hal bodoh di luar sana."
"Hal bodoh–" Arashi meraup wajah frustrasi. Gurat kemarahan menghiasi wajahnya. "Aku hanya mau melihatnya! Kenapa kau kejam sekali denganku?" Gadis itu mengeluh. "Alvaro, ku pikir dia sudah tiada, sekarang saat aku tahu Bara masih hidup, semangatku muncul kembali. Jadi aku harus menemuinya."
Arashi berderak maju. Jaraknya dengan Alvaro sudah menipis tapi lelaki itu tak kunjung mundur. Dia justru menyilangkan tangan di depan dada. Alvaro menurunkan pandang. Seolah menantang Arashi untuk berani menyingkirkannya dari daun pintu.
"Pergi."
"Tidak."
"Alvaro, aku masih bicara baik-baik."
"Aku tidak mau kau membuat masalah di depan Lunar," jawab lelaki itu. "Tuan Arjun tidak semurah hati itu."
"Lalu kau mau menyekapku di sini selamanya?! Begitu maumu?!"
Alvaro memiringkan kepala. "Kalau aku tak punya pilihan lain, maka jawabannya iya."
Bibir Arashi mengatup. Suara gadis itu tak keluar lagi. Dia justru bersitatap dengan Alvaro sengit. Tangannya mengepal di sisi tubuh. Demi menghalau kemarahan luar biasa itu, Arashi berjalan menuju jendela, mencoba mengintip dari sana tetapi karena arahnya berbeda, dia tak dapat melihat jelas di mana Bara berada.
"Bara...," gumam Arashi. Jemarinya mencengkram teralis besi jendela. Maniknya meliar keluar melalui kaca jendela gelap. Sedetik kemudian, sesuatu membuatnya tersadar. Dia kembali memandang Alvaro dengan tatapan menusuk. "Di mana temanku yang satunya? Rana? Di mana dia?!"
Lelaki itu tak menjawab.
"Alvaro!"
"Aku tidak tahu."
"Tidak mungkin! Kau kira aku percaya padamu?!"
Alvaro mengerang sebal. "Bukan aku yang berencana menangkap teman-temanmu itu. Iqbal-lah di balik semua ini, jadi dia yang tahu ke mana satu temanmu lagi."
Jantung Arashi mencelos. Iqbal? Laki-laki gila yang berani membakar orang di tiang itu? Seolah darah terkuras habis di tubuhnya, Arashi linglung. Dia hampir rubuh ke lantai tapi beruntung tangannya masih berpegangan pada teralis jendela.
KAMU SEDANG MEMBACA
𝐌𝐎𝐎𝐍𝐀: 𝐓𝐡𝐞 𝐈𝐧𝐜𝐞𝐩𝐭𝐢𝐨𝐧
Romance𝓓𝓪𝓻𝓴 𝓡𝓸𝓶𝓪𝓷𝓬𝓮 𝓢𝓽𝓸𝓻𝔂 [𝗪𝗮𝗿𝗻𝗶𝗻𝗴❗: Mengandung beberapa scene kekerasan] "𝗪𝗵𝗲𝗻 𝘆𝗼𝘂'𝗿𝗲 𝘀𝘁𝘂𝗰𝗸 𝗶𝗻 𝘁𝗵𝗲 𝗰𝗿𝘂𝗲𝗹𝗲𝘀𝘁 𝗿𝗲𝗮𝗹𝗶𝘁𝘆." . Arashi Grace Starvy mengikuti acara tahunan kampus yang diadakan di kaki gunun...
