_____________________________
Happy Reading!
_____________________________
•
Apa keputusan ini sudah benar?
Di kabinnya, Arashi terus mondar-mandir. Ritual harian telah selesai, tetapi imbas permintaan gilanya cukup menghebohkan anggota Moona yang lain.
Terutama Naina.
Kedatangannya ke kabin Arashi pasca ritual membawa serta senyum semringah di wajahnya. Di tangan Naina ada sekeranjang kain berwarna-warni yang mirip dengan pakaian-pakaian tradisional. Dia sengaja membawakan banyak kostum untuk dipilih Arashi malam ini.
"Sesuai syarat Lunar, kau harus melakukan ritual khusus anggota baru beberapa jam lagi." Naina yang masih tersenyum lebar, menyusun beberapa potong baju di atas ranjang Arashi. "Sudah lama kami tidak menyambut anggota baru."
Gurat wajah senang itu mengusik sudut hati Arashi. Pandangannya turun, pada beberapa kain berwarna yang dijahit dengan bagus membentuk tudung, atasan pas badan, dan rok semata kaki.
"Naina, kau tidak perlu membawa semua ini."
"Ini harus!" tekan Naina. Dia terkikik geli. "Dengar, saat kau resmi menjadi anggota Moona, kau bisa naik kasta loh! Dulu aku juga ada di Nightfall, lalu karena terus berusaha, sekarang aku bisa masuk kasta Devotion."
"Memangnya apa keuntungan naik kasta?"
"Banyak." Naina menyahut kalem. Dia masih memilah-milah pakaian. "Tugas kita lebih dari sekadar tugas kebersihan. Kita bisa menyiapkan keperluan ritual, mengatur menu harian, bahkan bisa ikut mengatur jual beli komoditas."
Kata-kata itu menggelitik telinga Arashi, memaksanya bertanya lebih jauh. "Jual beli? Di mana?"
"Di pasar," jawab Naina. "Moona kan berdagang. Hasil panen, hasil ternak, kami menjualnya di pasar khusus. Selain itu, kalau melalui perantara Lunar, hasil komoditas camp bisa dijual di kota lain juga! Bulan lalu bisa sampai ke Darkensight."
Jika bisa berdagang, maka kemungkinan untuk bertemu orang luar akan.... Arashi mengerjap. Informasi ini menawarkan suatu harapan di bawah puing-puing asa yang hampir punah. "Kau sendiri pernah ikut berdagang?"
"Pernah. Sekali saja sih, dengan Iqbal." Gadis berambut cokelat itu menarik tangannya setelah selesai menyusun pakaian yang harus dikenakan Arashi untuk ritual. "Kau tahu, meski Devotion boleh berhubungan dengan pelanggan dalam hal jual beli, tetap saja harus ada pengawas di sisi kami. Entah itu Ghara, atau salah satu dari anggota Divine."
Ah, sial. Hampir saja Arashi berharap lebih. Kalau diawasi seperti itu, kesempatan apapun terlihat tidak mungkin ada. Apalagi, dia pernah melarikan diri. Otomatis aksesnya keluar dari camp meski sudah jadi anggota Devotion sekalipun akan tetap dibatasi.
Terutama oleh laki-laki yang sejak tadi berdiri bak patung di ambang pintu kabin, mengawasi interaksinya dengan Naina seperti sorot lapar singa pada rusa.
Sudut mata Arashi melirik Alvaro. Lelaki itu tak jua mengeluarkan suara meski dia sudah menguping di sana sejak tadi.
"Menyenangkan, bukan?" Naina menepuk pundak Arashi. "Kalau kau lulus tes malam ini, kau akan diberi pelatihan selama beberapa bulan sebelum kemudian resmi menjadi anggota Nightfall!"
Arashi menaikkan alis. "Apa kau dulu juga melewati semua ini?"
"Benar!" Mengangguk, Naina kembali melengkungkan senyum. "Saat itu, caranya lebih mudah karena aku adalah kekasih Iqbal."
KAMU SEDANG MEMBACA
𝐌𝐎𝐎𝐍𝐀: 𝐓𝐡𝐞 𝐈𝐧𝐜𝐞𝐩𝐭𝐢𝐨𝐧
Romance𝓓𝓪𝓻𝓴 𝓡𝓸𝓶𝓪𝓷𝓬𝓮 𝓢𝓽𝓸𝓻𝔂 [𝗪𝗮𝗿𝗻𝗶𝗻𝗴❗: Mengandung beberapa scene kekerasan] "𝗪𝗵𝗲𝗻 𝘆𝗼𝘂'𝗿𝗲 𝘀𝘁𝘂𝗰𝗸 𝗶𝗻 𝘁𝗵𝗲 𝗰𝗿𝘂𝗲𝗹𝗲𝘀𝘁 𝗿𝗲𝗮𝗹𝗶𝘁𝘆." . Arashi Grace Starvy mengikuti acara tahunan kampus yang diadakan di kaki gunun...
