S1 Eps. 16 - The Manipulative Ones

208 26 8
                                        

_____________________________

Happy Reading!
_____________________________

  
   
Alvaro menggebrak pintu kabin khusus kasta Divine di siang hari itu. Iqbal yang baru saja menggantung sebuah lukisan melirik sebal. Ketegangan di antara mereka tidak jua usai sejak kemarin malam. Biasanya, emosi Alvaro sudah mereda jika hari telah berganti. Namun sejak pagi, entah apa yang merasuki laki-laki itu karena terus saja mencoba memancing kemarahan Iqbal.

"Apa lagi?" Iqbal memutar tubuh. Matanya menyipit tajam.

"Aku dengar dari Callista, Moonbeam sudah berhasil menangkap teman-teman Arashi?" Rahang Alvaro mengetat. "Apa yang akan kau lakukan dengan mereka?"

"Kenapa?" Iqbal tersenyum sinis. Dia berjalan menuju meja kaca satu-satunya yang terletak di sudut kanan ruangan. "Sesuai peraturan di Moona, calon peserta ritual yang kabur akan mendapat hukuman."

"Kau–" Tenggorokan Alvaro tercekat. Berusaha meredam kemarahan yang menguasai tubuhnya, lelaki berambut hitam itu menyugar rambut. Nada suaranya turun satu tingkat. "Dengar, aku tahu akan ada konsekuensi yang mereka terima, tapi beritahu aku, sanksi nomor berapa yang akan kau berikan pada dua orang itu?"

Iqbal mengerjap. Ah, dia belum memikirkan itu. Di Moona, selain daftar ritual, mereka juga menciptakan daftar sanksi. Ada enam tingkatan sanksi dari yang terendah sampai tertinggi.

"Kalau dilihat dari masalahnya, maka mereka bisa dikenakan sanksi tingkat kedua," jawab Iqbal.

Alvaro menghela napas. Alisnya merapat ke tengah, menciptakan garis halus di dahi. "Jika kau sudah memilih sanksi tingkat dua, maka jangan coba-coba menggantinya saat malam nanti."

"Oh, tapi itu tergantung dengan persetujuan Lunar?" Iqbal menyeringai. "Kenapa sih? Kenapa kau sangat peduli pada anak-anak itu? Kau mulai melewati batas."

"Urusan ini masih ada di bawah pengawasan Divine," ungkap Alvaro. "Tidak ada yang melewati batas."

"Ada. Kau." Pinggang Iqbal bersandar di tepian meja. "Alvaro, aku tidak tahu apa yang kau rencanakan, apa yang kau pikirkan ketika kau memutuskan membawa Arashi ke sini, tapi ingat satu hal." Mata Iqbal menyorot tajam. "Jangan merusak Moona. Semua ini, tempat di mana kau berpijak, orang yang memberimu kehidupan, itu semua adalah Ayahku, Arjun Vichai. Jadi, jangan coba-coba menggigit tangan orang yang memberimu makan. Dan~" senyum di sudut bibirnya terukir culas. "Aku lah yang akan jadi Lunar selanjutnya. Jangan berpikir posisi itu untukmu."

Manik Alvaro menyipit. Sudut bibirnya turun. "Dari semua hal yang sudah terjadi, semua masalah yang muncul sejak misi Adelaidne, kau benar-benar tidak memikirkan apapun selain pewarisan tahta, huh?" Alvaro terkekeh kecil. Lelaki yang berdiri di ambang pintu itu menaikkan dagu, menatap Iqbal dengan kilat serius. "Kau lupa ya? Naina bisa saja kabur kalau kau terus-terusan begini."

Netra Iqbal menggelap.

Alvaro tersenyum. "Aku tidak mau bertengkar denganmu. Sejak awal, sebagai anggota Divine, kita berjanji untuk tidak mengurusi urusan masing-masing kan? Jadi berhentilah menanyakan apa niatku atau apapun yang ada di hatiku karena itulah yang namanya... melewati batas."

Belum sempat Iqbal membalas ucapan itu, Alvaro sudah membalikkan badan dan pergi dari sana, meninggalkan sang putra Lunar yang kini mengepalkan tangan geram.

𝐌𝐎𝐎𝐍𝐀: 𝐓𝐡𝐞 𝐈𝐧𝐜𝐞𝐩𝐭𝐢𝐨𝐧Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang