_____________________________
Happy Reading!
_____________________________
•
Rencana Arashi untuk memperlakukan Alvaro sebaik mungkin sebenarnya berjalan lancar karena seminggu ke depan, tak ada konflik berarti yang muncul. Arashi 'seolah' sudah tenang dan menerima nasib seperti Naina dulu. Begitulah anggapan beberapa orang di Moona, tapi di suatu hari ketika Arashi sibuk membersihkan podium Lunar— tugasnya sebagai Nightfall —di siang hari, dari gerbang utama camp Moona, dua orang anak muda datang, berjalan masuk ke camp dengan santai.
Arashi mengintip dari balik podium. Keningnya mengernyit. Itu Callista dan Rezkay.
Callista sempat bertegur sapa dengan Jared sebelum melangkah menuju dapur umum. Itu bukan hal yang dapat mengonfrontasi Arashi, tapi saat manik abu gadis berambut indigo itu bergulir ke arah Rezkay, dia membeku.
Rezkay sedang bertegur sapa dengan Ghara, sang pengawas Devotion. Sebuah gestur biasa, tetapi bukan itu yang menjadi masalah di sini.
Dipenuhi emosi memuncak, Arashi beranjak dari podium dan berjalan lebar-lebar menuju Rezkay. Begitu remaja yang lebih muda darinya itu menoleh, Arashi langsung merenggut kerah baju yang Rezkay gunakan.
Aksinya membuat laki-laki itu terkesiap, sementara Ghara melebarkan mata kaget. "Arashi, apa yang kau lakukan?!"
Gerakannya tidak berhenti. Arashi menarik Rezkay mendekat. Tubuh lelaki itu cukup ringan sampai-sampai ia hampir terjungkal karena sentakan Arashi. Netra abu gadis itu mengamati pakaian luar yang dikenakan Rezkay sebelum ia menggumam geram. "Dari mana kau dapat jas almamater Universitas Adelaidne?"
Rezkay mengerjap. "Aku kan... kuliah di sana."
"Apa?!"
Ghara menaikkan alis. "Kau tidak tahu? Bukan hanya kau dan Alvaro yang kuliah di sana. Rezkay dan Callista juga. Mereka ada di tahun pertama."
Kepalan tangan Arashi mengeras di kerah jas Rezkay. Dia mengigit bibir gusar. Beraninya.... Setelah meracuni mahasiswa Adelaidne, mereka masih berani menempatkan anggota Moona di sana?
"Kenapa? Ada masalah dengan itu?" Rezkay bertanya. Dia menarik tubuhnya agar lepas dari jeratan Arashi. "Apa yang salah denganmu?"
Arashi menarik tangan pelan. Gadis itu menunduk. Napasnya memberat, jantungnya berdetak kencang seolah darah mengalir di tubuhnya dengan cepat. Dia sangat amat marah, tapi tak bisa meledak di depan kedua orang itu. Tangannya lalu mengepal keras di samping tubuh. Arashi melirik jas Rezkay— bersumpah dalam hati kalau dia akan merobek benda itu jika tak ada orang di sekitar —sebelum kemudian berlalu dari sana dengan langkah tegas.
Tujuannya kali ini bukan kembali ke podium Lunar, bukan juga ke camp Nightfall, ataupun kabinnya.
Melainkan pergi ke kabin Alvaro.
Ketika Arashi tiba dan menemukan keberadaan lelaki itu di depan kabin, tanpa basa-basi Arashi menamparnya dengan keras.
Alvaro terkejut. Otomatis menyentuh pipi kirinya. "Arashi, kau–"
"Kenapa Callista dan Rezkay kuliah di Adelaidne?" Tak tahan dengan kemarahan yang mengaliri nadi, Arashi meremas baju bagian depan Alvaro. "Kalian sudah meracuni puluhan mahasiswa Adelaidne, kenapa masih meletakkan anggota Moona di sana?! Apa kalian mau membuat tragedi kedua?!"
"Arashi, itu tak ada kaitannya dengan ritual–" sadar ucapannya mungkin akan memantik emosi lain, Alvaro membelokkan pembicaraan. "Mereka kuliah di sana karena kami punya akses mudah. Ada anggota Moona di kampus itu yang bisa membantu kami mendaftar tanpa seleksi."
KAMU SEDANG MEMBACA
𝐌𝐎𝐎𝐍𝐀: 𝐓𝐡𝐞 𝐈𝐧𝐜𝐞𝐩𝐭𝐢𝐨𝐧
Romance𝓓𝓪𝓻𝓴 𝓡𝓸𝓶𝓪𝓷𝓬𝓮 𝓢𝓽𝓸𝓻𝔂 [𝗪𝗮𝗿𝗻𝗶𝗻𝗴❗: Mengandung beberapa scene kekerasan] "𝗪𝗵𝗲𝗻 𝘆𝗼𝘂'𝗿𝗲 𝘀𝘁𝘂𝗰𝗸 𝗶𝗻 𝘁𝗵𝗲 𝗰𝗿𝘂𝗲𝗹𝗲𝘀𝘁 𝗿𝗲𝗮𝗹𝗶𝘁𝘆." . Arashi Grace Starvy mengikuti acara tahunan kampus yang diadakan di kaki gunun...
