S1 Eps. 11 - The Power She Holds

240 36 0
                                        

_____________________________

Happy Reading!
_____________________________


"Hei!"

Suara seseorang menghancurkan lamunan Arashi. Gadis itu menoleh, mendapati Sera berdiri di ambang pintu, tengah menatap marah ke arahnya yang menggenggam pisau. Kedatangan wanita itu juga berhasil menarik perhatian Alvaro yang kini memusatkan perhatian pada penanggung jawab dapur itu.

Sera melontar tanya. "Apa yang ingin kau lakukan dengan pisau itu?"

Pertanyaannya membuat Alvaro memutar tubuh ke belakang. Mata lelaki itu membulat kala menyaksikan Arashi tengah mengayun-ayunkan pisau di tangan.

"Kenapa?" Arashi menjawab santai sementara jantungnya sudah berdebar tak karuan. "Aku suka main pisau. Apa aku tidak boleh memegangnya?"

Mata Sera memicing. "Atau kau berniat menusuk Alvaro dari belakang?"

Tuduhan Sera membuat sorot Alvaro pada Arashi kian dalam. Gadis bermanik abu itu masih tenang. Dia bahkan berani bertukar pandang dengan Alvaro meski tak ada niat dalam dirinya untuk melepaskan pisau dari tangannya.

"Bibi Sera yang terhormat, aku memang suka bermain dengan pisau karena hobiku adalah memasak." Arashi melempar pelan pisau dapur itu ke lantai. "Jangan terlalu menganggap ku rendah seperti itu. Jika aku berniat menusuk Alvaro, aku tidak akan menusuk dari belakang."

Arashi melangkah pelan mendekati Alvaro. Tatapannya penuh arti. "Aku akan menusuknya dari depan supaya dia tahu siapa orang yang sudah membunuhnya."

Netra keduanya masih bersinggungan selama beberapa detik sampai Arashi memutuskan untuk berpaling. "Sudahlah, aku keluar dari sini."

Arashi berjalan melewati Sera dengan santai. Sera sendiri sudah tidak berkomentar lagi. Wanita itu lebih memilih untuk masuk ke dapur dan melakukan tugasnya. Sementara Alvaro menyusul Arashi sembari membawa makanan yang sudah ia ambil untuk gadis itu.

"Ini makananmu," katanya.

Arashi menghentikan langkah, melirik tidak suka ke arah Alvaro sebelum mengambil piring dari tangannya. Gadis itu tak dapat menolak. Apalagi aroma lezat makanan di hadapannya sangat menggugah selera. Alvaro benar, Arashi sangat menyukai ayam.

"Kenapa kau sangat peduli padaku?" tanya Arashi asal. Dia mencomot potongan ayam dari piring. "Maaf ya, tapi aku tidak semudah itu bisa luluh. Sekalipun kau dulu adalah senior yang aku hormati, image-mu di mataku sudah rusak."

Alvaro menurunkan pandang, pada gerak tangan Arashi di atas piring. "Aku sudah bilang kalau aku menyukaimu, kan."

Arashi melirik sebal. "Hanya orang aneh yang bisa secepat itu jatuh cinta pada seseorang. Cinta pada pandangan pertama itu omong kosong. Apa yang kau lihat dariku? Tubuh? Senior Amelie bahkan lebih proporsional. Wajah? Dia juga jauh lebih cantik. Sifat?" Dia terkekeh getir. "Bohong. Aku bahkan sudah bilang aku bisa saja membunuhmu. Seharusnya perasaan bodoh mu itu bisa hilang."

Alvaro menyugar rambut. Lelaki itu menarik napas sebelum memandang Arashi serius. "Kau~ hanya belum mengenalku. Apa yang aku rasakan pada Amelie dan dirimu itu berbeda. Kau tidak bisa menghakimi seseorang atas perasaan yang dia punya. Kau–" dia meneguk ludah kasar. "Tidak tahu apa-apa soal aku." Lelaki itu mengeluarkan tawa miris. "Bahkan kau juga tak mau berusaha untuk cari tahu."

"Oh, jadi sekarang aku harus memahami perasaan penculikku?" balas Arashi berang. "Aku bukan tipe orang yang pandai dengan kata-kata sepertimu tapi aku bisa mendeskripsikan satu kata untukmu, Alvaro." Dia menggertak gigi. "Pecundang," cetusnya. "Aku tidak pernah memintamu untuk menyelamatkanku dari tragedi itu. Kau kira aku senang sekarang? Huh? Aku. Sudah. Mati dan kau!" Arashi menunjuk dada Alvaro. "Yang sudah membunuhku."

𝐌𝐎𝐎𝐍𝐀: 𝐓𝐡𝐞 𝐈𝐧𝐜𝐞𝐩𝐭𝐢𝐨𝐧Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang