S1 Eps. 18 - When the Will Crumbles

189 26 2
                                        

_____________________________

Happy Reading!
_____________________________


Suasana chaos begitu sang Lunar telah mengumandangkan titah. Yang terekam dalam memori Arashi di malam itu adalah Alvaro yang melepas genggamannya untuk maju dan memprotes keputusan Arjun, lalu tubuh Arashi ditarik ke belakang, kedua tangannya dicengkeram kasar. Tanpa persetujuan, Ghara dan Rezkay menyeret gadis itu menjauh dari podium Lunar.

Arashi memberontak di bawah kekangan dua pengawas itu, tapi semakin dia berusaha lepas, semakin mereka berdua menyeretnya kasar. Kaki Arashi berulang kali hampir tertekuk, lecet, bahkan kotor karena sempat tersungkur. Namun, itu semua tidak memberhentikan Ghara dan Rezkay.

Gadis itu terlalu syok dengan keadaan sampai dia tak mengeluarkan suara apapun meski tubuhnya secara impulsif melawan. Tubuh Arashi bergetar kala Ghara menendang pintu bangsal Moonbeam begitu mereka tiba. Jantungnya bertalu-talu ketika tanpa perasaan, dua anjing Lunar itu melemparnya masuk ke bangsal.

"Kau benar-benar tidak tahu diuntung," desis Ghara. "Lunar memberimu kesempatan untuk hidup, tapi kau melawannya? Kau cari mati."

Rezkay mengibas tangan. "Arashi, jangan membantah Lunar. Itu pelanggaran berat di Moona. Bahkan kami yang sudah bertahun-tahun menjadi pengawas, tidak pernah membantah Tuan Arjun sama sekali."

Arashi mengatur napas. Pandangannya tertunduk. Dia tak mengeluarkan tanggapan apapun sampai dua laki-laki itu pergi dari sana. Barulah ketika Arashi mengangkat kepala, dia terperanjat karena ternyata anggota Moonbeam sedang ada di bangsal. Ada dari mereka yang berdiri, duduk, bahkan tiduran di beberapa titik tanpa aturan.

Arashi menyeret tubuhnya ke pojok dekat pintu ketika dua orang wanita kasta Moonbeam mendatanginya. Para wanita itu mengenakan pakaian mirip gaun panjang kebesaran hingga menyentuh lantai, berwarna dasar, dan tanpa motif. Hanya bermodalkan variasi lengan panjang atau pendek dengan kerah v-neck.

Ketakutan menghampiri jiwa Arashi. Teringat akan pria-pria kasta Moonbeam yang pernah memandangnya seperti mangsa, gadis itu seketika sadar akan sesuatu. Arashi meraba leher. Kalung Alvaro tidak menggantung di sana. Mungkin masih disimpan lelaki itu pasca perkelahian dengan para pemburu tempo hari.

"Jangan... jangan dekat-dekat!"

Kedua wanita itu tetap mendekat, hendak menyentuh bahunya tapi Arashi lebih dulu menggelinjang dan memekik. "Jangan!"

"Arashi! Arashi!"

Suara teriakan itu muncul dari sudut bangsal yang jauh dari posisinya. Ketika manik gadis itu bergulir, betapa terkejutnya ia menyaksikan sahabatnya, Bara, berusaha bangkit dari lantai untuk menggapainya.

Arashi berdiri. Mengabaikan dua wanita tadi, dia berjalan cepat membelah kerumunan kasta Moonbeam untuk mencapai tempat di mana Bara terbaring. Kaki gadis itu berhenti kala jantungnya membombardir keras.

Bara babak belur.

"Apa yang terjadi denganmu?!" Arashi berlutut. Tangannya meraih pipi sang sahabat. "Bara, mereka memukulimu?! Siapa yang melakukannya?!"

Bara menggeleng. Napas pendek-pendek meluncur hangat dari bibirnya yang lebam. "Tidak penting...." Dia berusaha menggenggam tangan Arashi. "Bagaimana... keadaanmu? Kau... baik-baik...saja kan?"

Arashi terperangah. Cepat-cepat ia raih tangan lelaki itu untuk ditempelkannya ke pipi. "Iya. Aku baik-baik saja. Kau yang mengalami hal lebih buruk. Apa yang sakit? Dan... dimana Rana?"

Ekspresi Bara berubah drastis. Raut kesakitan lelaki itu surut, berganti dengan tatapan kosong dan sorot hampa. "Rana... dia–"

Brak!

𝐌𝐎𝐎𝐍𝐀: 𝐓𝐡𝐞 𝐈𝐧𝐜𝐞𝐩𝐭𝐢𝐨𝐧Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang