_____________________________
Happy Reading!
_____________________________
•
Untuk pertama kalinya, Arashi mematung di tempat saat suara mengerikan menggaung di camp. Dia tidak panik ataupun berteriak kaget saat laki-laki yang diseret tadi telah diikat di tiang dekat ruang pertemuan, dan tanpa basa-basi langsung dihajar habis-habisan oleh beberapa orang.
"ARGHHHH!!!"
"TIDAK ADA AMPUN UNTUK PENGKHIANAT!"
"HABISI DIA!"
Suara gebukan rusuh terdengar bersahut-sahutan. Hanya dari dentum pukulan yang dilacak melalui radar pendengaran, Arashi tahu bahwa sesuatu yang buruk sedang terjadi. Perlahan, dia menurunkan tangan Alvaro dari wajahnya. Semula lelaki itu bersikeras untuk menghalangi, tapi pada akhirnya ia menarik tangan, membiarkan mata abu indah gadis itu menyaksikan neraka di depan mata.
Napas Arashi tercekat. Lelaki itu~ orang yang dituduh sebagai pengkhianat itu tengah diikat di tiang besi dekat ruang pertemuan. Orang-orang berkeliling. Tangan mereka begitu gencar melempari sang lelaki dengan batu. Sebagian lagi memecut tubuh telanjang dadanya, sementara para wanita—kaum Moonbeam—turut memukuli laki-laki itu dengan rol tepung.
Tidak ada satu inci pun kulit yang luput dari sasaran kekerasan.
"Apa... yang mereka lakukan?" Menemukan suaranya kembali, Arashi berdiri di tempat dengan tubuh gemetar. "Alvaro," dia menoleh, menggenggam lengan lelaki itu. "Mereka akan membunuhnya! Kau harus hentikan–"
"Shut." Alvaro menutup mulut Arashi dengan telapaknya lagi. "Biarkan saja. Memangnya kau kenal dia? Dia bukan siapa-siapa. Itu konsekuensi karena mencoba melarikan diri."
Manik Arashi membelalak.
Alvaro mengangguk. Jarak wajah mereka yang dekat memperuntung keduanya dalam berbisik agar tak terdengar orang lain. "Dia mau lari dari camp. Iqbal marah, menangkapnya, dan... menyuruh mereka mengeksekusi laki-laki itu."
Arashi terdiam. Mungkin syok karena alasan dibalik peristiwa gila di depan mereka adalah konsekuensi atas melarikan diri.
Lalu apa mereka akan menghabisiku juga kalau aku kabur lagi? Arashi bertanya-tanya dalam hati.
Gadis itu menurunkan tangan Alvaro. "Sudah berapa kali dia mencoba kabur?"
"Satu kali."
Arashi tertegun.
Alvaro menatapnya intens sebelum menyampirkan anak rambut gadis itu ke belakang telinga. Suaranya masih pelan, tapi entah kenapa terdengar mengerikan di telinga Arashi.
"Kau bertanya-tanya kenapa dia langsung dieksekusi sementara kau hanya diberi peringatan kecil?" Alvaro melingkarkan lengan di bahu gadis itu, menempelkan hidungnya di pipi Arashi, seolah mencium, tapi ternyata hanya berbisik kecil di dekat telinga. "Karena akulah yang menanggung semua hukuman beratmu, Arashi."
🌙🌙🌙
Waktu masih menunjukkan pukul lima pagi ketika Arashi bangun tidur. Efek kejadian kemarin membuatnya bangkit dalam keadaan kurang gairah dan lemas. Pemandangan sadis sudah biasa ia saksikan selama berbulan-bulan tinggal di sini, tapi ini pertama kalinya sanksi diterapkan untuk mereka yang hendak kabur.
KAMU SEDANG MEMBACA
𝐌𝐎𝐎𝐍𝐀: 𝐓𝐡𝐞 𝐈𝐧𝐜𝐞𝐩𝐭𝐢𝐨𝐧
Romance𝓓𝓪𝓻𝓴 𝓡𝓸𝓶𝓪𝓷𝓬𝓮 𝓢𝓽𝓸𝓻𝔂 [𝗪𝗮𝗿𝗻𝗶𝗻𝗴❗: Mengandung beberapa scene kekerasan] "𝗪𝗵𝗲𝗻 𝘆𝗼𝘂'𝗿𝗲 𝘀𝘁𝘂𝗰𝗸 𝗶𝗻 𝘁𝗵𝗲 𝗰𝗿𝘂𝗲𝗹𝗲𝘀𝘁 𝗿𝗲𝗮𝗹𝗶𝘁𝘆." . Arashi Grace Starvy mengikuti acara tahunan kampus yang diadakan di kaki gunun...
