_____________________________
Happy Reading!
_____________________________
•
Bekapan itu mencengkram erat setengah bagian wajah Arashi. Udara yang semakin menipis akibat diblokir oleh orang di belakangnya membuat Arashi menggelinjang panik. Insting bertahan hidupnya menyala sehingga tanpa menunggu waktu lama, dia menginjak kaki pelaku dan mengigit tangannya.
Dekapan erat itu terlepas. Arashi terdorong ke depan dengan napas tak beraturan. Gadis itu meraup oksigen sebanyak-banyaknya sebelum mengayunkan kepala ke kanan, menoleh pada sosok tersangka yang menyebabkan ia hampir kehilangan kesadaran. Maniknya membulat. "Se-senior...?"
Alvaro berdiri di belakangnya, meringis sedikit sembari menggenggam jari yang tadi digigit Arashi. Sorot mata lelaki itu naik, bersinggungan dengan netra gadis di depannya. "Kau... pandai mengigit, ya?"
Arashi terhenyak. "Kenapa kau melakukan itu padaku?"
Lelaki berambut hitam itu maju selangkah yang otomatis mempermundur Arashi setapak. Ekspresi Alvaro masih datar meski bibirnya terbuka sedikit.
Kecemasan melanda Arashi tatkala suara erangan yang tadi ia dengar dari para mahasiswa kini perlahan meredup, sementara dari arah kanannya, seorang laki-laki yang Arashi ingat mengaku sebagai teman Alvaro, datang sambil mengeluarkan decakan sebal.
"Ck. Kenapa kau lama sekali, Alvaro? Ayahku sudah menunggu. Gadis sebelumnya harus segera dibawa," ujar laki-laki asing itu.
"Iqbal," panggil Alvaro. "Kau bawa saja gadis yang tadi." Maniknya bergulir pada Arashi. "Sementara dia adalah tanggung jawabku."
"Kau yang melakukan ini semua?" tanya Arashi tak percaya. Tangannya menunjuk deretan para mahasiswa yang bergelimpangan di tanah. "Mereka semua... kalian berdua yang melakukannya?"
Senyum terlukis tipis di bibir Alvaro. "Semuanya memang harus terjadi seperti ini," ungkapnya tenang. "Tapi khusus untuk Arashi, ada pengecualian tersendiri." Manik cokelatnya berkilat. "Dan itu atas permintaanku."
"Kau aneh," cetus Arashi murka. "Kau ini orang gila ya?"
Alvaro tak menjawab. Namun, sosok bernama Iqbal tadi berdecak sebal. "Naif sekali." Dia menatap Alvaro kesal. "Cepatlah. Kita harus menyelesaikan semuanya sebelum fajar. Moonbeam dan Devotion akan datang sebentar lagi." Dia berbalik meninggalkan kedua insan itu.
Menyadari ada radar bahaya berbunyi, Arashi mundur. Jantungnya membombardir keras kala tarikan langkah yang ia ambil justru menciptakan sebuah langkah baru bagi Alvaro untuk mendekatinya. Netra mereka masih beradu. Hingga kemudian, mata Arashi berpendar menyorot toilet umum di belakang Alvaro.
"Senior Amelie?"
Saat nama itu disebut, refleks Alvaro menoleh ke belakang. Hanya untuk mendapati bahwa tidak ada siapapun di sana selain dua orang gadis yang terkapar di tanah.
Alvaro berpaling lagi. Arashi sudah lebih dulu mengambil langkah secepat mungkin untuk menjauhinya. Gadis itu membuka gerbang vila dan lari tunggang-langgang ke arah hutan yang lebih gelap.
"Arashi!" teriak Alvaro. Lelaki itu bergerak mengejar sang gadis dengan langkah yang lebih panjang-panjang.
🌙🌙🌙
KAMU SEDANG MEMBACA
𝐌𝐎𝐎𝐍𝐀: 𝐓𝐡𝐞 𝐈𝐧𝐜𝐞𝐩𝐭𝐢𝐨𝐧
Roman d'amour𝓓𝓪𝓻𝓴 𝓡𝓸𝓶𝓪𝓷𝓬𝓮 𝓢𝓽𝓸𝓻𝔂 [𝗪𝗮𝗿𝗻𝗶𝗻𝗴❗: Mengandung beberapa scene kekerasan] "𝗪𝗵𝗲𝗻 𝘆𝗼𝘂'𝗿𝗲 𝘀𝘁𝘂𝗰𝗸 𝗶𝗻 𝘁𝗵𝗲 𝗰𝗿𝘂𝗲𝗹𝗲𝘀𝘁 𝗿𝗲𝗮𝗹𝗶𝘁𝘆." . Arashi Grace Starvy mengikuti acara tahunan kampus yang diadakan di kaki gunun...
