S1 Eps. 22 - Deceit in Bloom

175 20 0
                                        

_____________________________

Happy Reading!
_____________________________

   
Tiga hari kemudian~

   

    
Altorch di pagi hari beraroma lebih asri ketimbang kota lain di daratan Laux. Selain letak geografisnya yang dikelilingi pegunungan dan hutan rimbun, Altorch juga kota yang dikhususkan pemerintah untuk wisata hijau. Program penanaman pohon massal, pengelolaan sampah, dan penggunaan energi terbarukan sangat digalakkan di sana.

Sebagai kota yang menyandang reputasi seperti itu, insiden keracunan yang menimpa banyak mahasiswa Adelaidne saat melakukan family gathering beberapa waktu silam cukup mengguncang nama Altorch.

Apalagi hingga saat ini, ketika waktu semakin menjauh dari hari kejadian, orang-orang mulai melupakannya. Penyelidikan yang tersendat—entah karena apa—telah menjadi indikator kinerja pihak kepolisian yang lambat. Reputasi jelek polisi Altorch sendiri sudah menjadi buah bibir masyarakat sekitar sejak lama.

"Kak, bagaimana perkembangan kasus Adelaidne? Apa mereka sudah menangkap pelakunya?" Seorang gadis muda yang tengah menguleni adonan di suatu toko roti pusat kota Altorch melontar tanya pada rekan kerja di sebelahnya.

"Mereka masih berusaha menemukan mahasiswa yang hilang." Celine Gracier—ibunda Arashi—menjawab. Dia baru selesai mengeluarkan roti-roti dari oven dan meletakkannya di meja. Di balik maskernya, wanita itu lanjut bicara. "Heran sekali. Kalau kejadiannya di Saint Halley, penyelidikan tidak akan selelet ini. Apa para polisi Altorch tidak bekerja, Sani?"

Sani mencibir. Gadis muda berambut cokelat itu memutar bola mata sebal. "Kau pasti tidak tahu ya Kak kalau polisi di sini itu memang jelek kerjanya. Sebagai orang yang lahir di Altorch, sejak dulu sampai sekarang mereka tidak pernah berubah." Sani mendekati Celine, berbisik. "Gosipnya sih, mereka dikontrol oleh beberapa pihak untuk kepentingan pribadi. Jadi kalau tidak menyinggung pihak itu, laporan rakyat biasa akan diabaikan."

Mood Celine berubah jelek. "Pantas saja. Tiap aku ke sana untuk bertanya kelanjutan penyelidikan, mereka selalu saja menyuruh kami untuk sabar. Gila. Padahal sudah berbulan-bulan berlalu. Aku bahkan sampai pindah ke kota ini untuk menemukan putriku tapi tetap saja...." Wanita itu berubah emosional, dia sempat menunduk, berusaha keras menahan tangis.

"Kak!" Sani menghampiri. "Kalau lelah, istirahat saja. Sebentar lagi Ibuku datang. Kakak bisa pulang dan istirahat. Seharian ini Kakak sudah bekerja sangat keras. Pikirkan kesehatanmu."

Celine menggeleng. "Tidak apa-apa. Setelah shift-ku selesai di sini, aku masih punya jadwal menjaga toko bunga di dekat perempatan jalan besar di sana."

Sani membelalak. "Kau tidak lelah, Kak? Kau bekerja di tiga tempat sekaligus loh!"

Celine tertawa miris. Menyadari bahwa jam kerjanya baru saja usai, wanita itu mulai menyingkir untuk membuka apron. "Mau bagaimana lagi? Aku sudah resign dari pekerjaanku di Saint Halley untuk pindah ke sini dan memantau penyelidikan. Tapi, bahan-bahan pokok di sini sangat mahal, tidak sebanding dengan gaji standar para pekerja. Aku juga harus punya banyak dana darurat sebelum Arashi kembali. Kita tidak tahu apa dia akan berurusan dengan hukum atau tidak nanti."

Sani yang simpati, menepuk pundak Celine lalu memeluknya erat. Usia wanita itu tak begitu jauh dari ibunya. Perasaan sedih Celine tentu saja dapat dirasakan oleh Sani. "Kalau nanti butuh bantuan kami, bilang saja, oke? Aku dan Ibu pasti akan membantu Kakak."

Celine tersenyum. Dia telah selesai melipat apron dan meletakkannya di loker. "Terima kasih, San." Dengan tangan yang telah bebas dari sarung tangan, Celine membelai rambut Sani lembut. Gadis ini mengingatkannya pada Arashi.

𝐌𝐎𝐎𝐍𝐀: 𝐓𝐡𝐞 𝐈𝐧𝐜𝐞𝐩𝐭𝐢𝐨𝐧Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang