_____________________________
Happy Reading!
_____________________________
•
Sesampainya mereka di kabin khusus Nightfall, pemandangan yang ada justru memporak-porandakan hati Arashi. Pasalnya, kabin itu diisi oleh beberapa orang yang berpakaian seperti pendaki gunung dan sebagian dari mereka mengenakan kostum tari seperti Lily. Kondisi orang-orang yang mirip pendaki itu nampak miris. Kulit mereka kering, rambut berantakan, dan gejala dehidrasi yang jelas.
Saat memalingkan wajah untuk bertanya pada Lily, gadis itu sudah lebih dulu memotong kerumunan untuk berdiri di tengah-tengah ruangan. Semua orang yang ada di sana mengamati Lily dengan penuh perhatian. Hal itu membuat Arashi curiga, siapa sebenarnya gadis bernama Lily itu.
"Rezkay sedang tidak ada di tempat karena Lunar memintanya untuk mengawasi Adelaidne siang ini, jadi aku sebagai temannya akan menggantikan peran Rezkay di Nightfall," ujar Lily.
Syok mendera Arashi kala kata 'Adelaidne' meluncur bebas dari mulut Lily. Informasi perihal pengawasan Adelaidne entah kenapa membuat sekujur tubuhnya merinding. Apa Moona berniat menghancurkan Adelaidne sekali lagi?
Ucapan Lily selanjutnya tidak tergubris oleh Arashi karena gadis bermata abu itu masih sibuk menerka-nerka tentang apa yang saat ini terjadi di kampusnya. Seharusnya berita tentang tragedi Rosenca sudah menyebar luas apalagi Adelaidne adalah salah satu kampus favorit di Altorch. Sayangnya, Arashi tak memiliki akses informasi yang mumpuni karena gadget miliknya bahkan tertinggal di vila.
Karena terlalu sibuk dengan pikirannya, Arashi terperanjat kaget kala Lily berteriak. "Arashi! Tugasmu mulai sekarang adalah membersihkan rumput yang ada di sekitar bangsal Moonbeam ya? Letaknya ada di sebelah gudang bahan pokok. Di belakang pendopo."
"Bangsal Moonbeam?"
"Iya. Tempat tinggal kasta Moonbeam," balas Lily lagi. Dia sempat melirik kalung bulan di leher Arashi. "Kau kan punya kalung Divine, jadi kalau kau ke sana, kau aman. Kalau Moonbeam nanti pulang untuk makan siang, mereka tidak akan mengganggumu."
Suara Lily ketika menyebut kalung Divine terdengar cukup keras di ruangan itu sampai beberapa orang di sana ikut menoleh pada Arashi, mengamati kalung yang melingkar di lehernya. Ditatap seperti itu tentu membuat Arashi kikuk. Dia hanya mengangguk pelan.
Sembari menunggu briefing dari Lily selesai, Arashi duduk di lantai di bawah jendela. Dia menekuk lutut. Pikirannya berkelana pada Adelaidne, kampusnya yang sekarang ia yakini sedang kacau karena tragedi Rosenca. Apa polisi sudah mencari mereka? Arashi ragu. Dia sendiri tak tahu di mana ia berada sekarang. Apakah dekat atau justru sangat jauh dari vila terakhir yang mereka tempati.
"Kau~ orang kepercayaan Divine ya?"
Pertanyaan ragu-ragu orang di sebelahnya membuat Arashi melirik. Seorang remaja perempuan dengan wajah full make up dan pakaian tari seperti Lily.
Arashi menggeleng. "Tidak juga."
"Lalu kenapa kau memakai kalung itu?"
Arashi kikuk. "Ini... dipinjamkan."
"Kenapa mereka meminjamkannya padamu?"
"Aku tidak tahu," gumamnya.
Remaja itu mengamati kalung di leher Arashi lamat-lamat. "Bolehkah... aku juga meminjamnya? Aku... ingin sekali merasakan bagaimana menjadi VIP di sini."
Keraguan meliputi hati Arashi. Dia menyentuh kalung di lehernya. Sejak tahu bahwa kalung ini adalah sebuah privilege di camp, Arashi jadi takut menyia-nyiakannya. Apalagi dia belum tahu sejauh apa dia bisa memanfaatkan kalung milik Alvaro itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
𝐌𝐎𝐎𝐍𝐀: 𝐓𝐡𝐞 𝐈𝐧𝐜𝐞𝐩𝐭𝐢𝐨𝐧
Romance𝓓𝓪𝓻𝓴 𝓡𝓸𝓶𝓪𝓷𝓬𝓮 𝓢𝓽𝓸𝓻𝔂 [𝗪𝗮𝗿𝗻𝗶𝗻𝗴❗: Mengandung beberapa scene kekerasan] "𝗪𝗵𝗲𝗻 𝘆𝗼𝘂'𝗿𝗲 𝘀𝘁𝘂𝗰𝗸 𝗶𝗻 𝘁𝗵𝗲 𝗰𝗿𝘂𝗲𝗹𝗲𝘀𝘁 𝗿𝗲𝗮𝗹𝗶𝘁𝘆." . Arashi Grace Starvy mengikuti acara tahunan kampus yang diadakan di kaki gunun...
