14. Rencana gagal.

257 14 0
                                        

Dia tertawa melihat reaksi lucu istrinya dan tiba-tiba menggendongnya dari kursi, membuat sang empu terkejut dan segera memeluknya secara naluriah.

Dia memberikan senyuman puas saat menggendongnya pergi.

"Kita mau kemana? Turunkan aku!!." Berontak Zela sambil mengayun-ayunkan kakinya secara brutal dalam gendongan suaminya.

Nathan sedikit tertawa melihat kepanikan yang terlihat jelas pada Zela, lengannya yang memeluk erat lehernya saat dia membawa Zela ke kamarnya.

"Kamu milikku, jadi tentu saja aku akan membawamu." Katanya saat mencapai kamarnya dan menendang pintu dengan kakinya.

Zela pun hanya bisa pasrah menelan ludah dengan susah payah akibat panik.

Sebrutal brutalnya Nathan, ini pertama kalinya ia mengajak dirinya sepagi ini..

****

Nathan duduk di tempat tidur dan berlutut untuk melepaskan sandal Zela dan kemudian sandalnya sendiri, dia melepaskan jasnya dan menggantungkannya di kursi.


"Tidak perlu khawatir, sayang, aku tidak akan menyakitimu," Katanya meyakinkan saat dia duduk dan menarik Zela padanya.

Membuat sang empu duduk di pangkuannya dan Nathan melingkarkan lengannya di sekitar pinggang istrinya.

Sementara itu, sang empu yakni Zela justru melihat ke arah jam dinding.

Waktu yang awalnya pukul 8 pagi sekarang sudah mencapai pukul 11.15 siang, waktu cepat berlalu atau dia sendiri yang lamban?.

Nathan mengikuti arah pandang istrinya, melirik jam dan tertawa sebelum kembali menatap Zela kembali.

"Kita punya banyak waktu, jangan terlihat begitu panik." Dia dengan lembut memegang dagunya dan membuat fokus Zela teralih menjadi menatapnya.

"Banyak waktu? Untuk apa?"

Dia tersenyum sinis dan mendekatkan dirinya pada Zela, membuat napasnya tercekat, matanya yang gelap menatap mata lentik istrinya saat dia menjawab dengan suara serak, "Untuk membuat bayi."

Nathan meraih pinggul Zela dan tiba-tiba menariknya lebih dekat padanya, membuat wanita itu duduk di pangkuannya lebih dekat lagi, dia menyembunyikan wajahnya di leher Zela, meninggalkan cupang disana.

"Tentang bayi lagi?." Zela memutar bola mata malas dan muak dengan gagasan itu, ia belum siap menjadi seorang ibu
Namun disisi lain itu adalah kewajibannya sekarang.. Ia bimbang dengan hatinya.

Nathan mengangkat kepalanya dan memegang pipi Zela dengan tangannya yang besar dan berotot, menggosoknya dengan lembut sambil menatap matanya lekat-lekat.

"Apa masalahnya? Apa kamu tidak mau memberiku bayi yang cantik?"

"I want, but.."

Dia sedikit mengangkat alisnya, menunggu Zela untuk melanjutkan.

"But?" Katanya dengan penuh pertanyaan.

"Nothing."

Nathan memberinya senyum kecil, meraih tangannya hingga perut Zela sambil berbisik, "Apa kamu gugup, sayang?"

Dia bisa merasakan kehangatan dan kehalusan kulit istrinya saat tangannya membuat lingkaran di tubuhnya dan perlahan meluncur naik hingga tangannya mencapai dada Zela.

membuat detak jantung sang empu semakin cepat merasakn telapak tangan suaminya.

"Geli."

Senyum seringai kini terbentuk di bibirnya, perlahan mengangkat pinggiran kemeja Zela untuk menampakkan kulitnya, tangannya membelainya dengan lembut, sentuhan itu membuat Zela sedikit gemetar.

NAZÉL || ENDCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang