"Sayang, lihat. Bukankah topik beritanya adalah orang yang menculikku?"
"Oh, iya sepertinya begitu. Mereka semua sudah mati. Kenapa? kamu mengkhawatirkan bajingan-bajingan itu?"
Nathan berbicara dengan dingin, lalu dengan santai meletakkan lengannya di bahu Zela.
"Um? Tapi aneh... hanya tinggal kepalanya saja, lalu dimana mayatnya? Dan siapa yang membunuhnya? Apakah ini suatu kebetulan atau karma? Aku penasaran"
Nathan mengangkat bahu.
"Itu bukan urusan kita."
Dia berkata singkat, lalu tersenyum. Nathan meletakkan satu tangan di pipi istrinya dan membelainya dengan lembut.
"Jangan terlalu memikirkannya, Sayang. Untung saja mereka sudah mati. Mereka pantas mati atas perbuatannya padamu."
Zela menatap TV dengan tatapan kosong dan mengusap perutnya yang mulai sedikit rata kembali.
"Kau benar. Mereka pantas menerima kematian yang menyedihkan itu."
Senyum Nathan sedikit memudar saat Zela mengelus perutnya, ia kembali teringat perihal keguguran istrinya.
Nathan menarik Zela ke pangkuannya dan melingkarkan lengannya di pinggangnya, wajahnya terkubur di dada istri tercintanya.
"Bajingan itu.."
Katanya dengan dingin. Nathan memeluk Zela di pangkuannya sambil memijat lembut dan membelai perut rata istrinya, ia kembali mengingat bagaimana perut rata yang dulunya membesar itu...
Nathan merasa bersalah karena keguguran tersebut.
"Itu hanya kebetulan sayang, hanya kebetulan saja. Tak perlu khawatir atau terlalu memikirkannya."
Jawabnya setelah lama tak bersuara, "Hm, benar, hanya kebetulan..." Sahut Zela.
Nathan tersenyum tipis saat melihat istrinya bersantai di pangkuannya. Dia meletakkan tangannya di pipi sedikit chubby Zela dan dengan lembut mengelusnya dengan ibu, dia menatap dengan sorot mata bersalah.
"....Maafkan aku..."
Ucapnya pelan dengan nada bersalah sambil membelai eher Zela yang nampak sehalus sutra itu.
"Sayang, aku di sini. Aku tidak akan meninggalkanmu.... Bahkan sedetik pun. Kamu akan selalu menjadi milikku."
"Kenapa tiba-tiba kamu bicara seperti itu?." Ujarnya kebingungan, kenapa suasana tiba-tiba menjadi sedih seperti ini?
Hey, mereka mencoba untuk mengikhlaskan kepergian calon anak mereka beberapa hari lalu.
Nathan menatapnya dengan tatapan lembutnya, lalu dia tersenyum tipis dan mendekat ke arah Zela.
Nathan menempelkan keningnya ke dahi Zela sementara jari-jarinya menyentuh surai rambut panjangnya.
"Aku merasa bersalah karena keguguran itu sayang... Aku sungguh merasa bersalah."
Bisiknya dengan nada lembut. Nathan perlahan membenamkan wajahnya di dada Zela lagi.
"Maaf, aku tidak bisa menahan diri untuk tidak memberitahumu hal ini."
Zela menangkup pipi suaminya dengan sentuhan hangat. Sekarang Zela sudah keluar dari rumah sakit 5 hari yang lalu, dan ia baru mengetahui apa yang terjadi saat masih dalam keadaan koma, kekacauan besar terjadi di negara itu.
"Ya, ya, aku tahu kamu mencintaiku... Tapi aku tidak mencintaimu." Guraunya, ia tak ingin keguguran itu membuat Nathan menyalahkan dirinya karena terlambat datang.
KAMU SEDANG MEMBACA
NAZÉL || END
Misteri / ThrillerNathan yang menyembunyikan identitas sebagai pemimpin gangster dari istrinya.. "tapi aneh. hanya kepalanya yang tersisa, lalu dimana badannya? siapa yang membunuhnya? apa ini kebetulan atau karma? aku penasaran" ujar Zella, istri Nathan yang bingun...
