"Kau tau tentang Jupiter?"
"Planet terbesar di galaksi, kan?" Jawab Zela dengan suara sedikit serak.
"Maksudku tentang kisah cintanya. Pengorbanan besar untuk orang terkasih nya." Decakan halus keluar dari bibir pink alami yang dimiliki oleh Zonan.
"Bagaimana? Aku tidak pernah dengar tuh."
"Jupiter itu mencintai bumi. Entah apa yang membuat Jupiter mencintai bumi. Cintanya begitu besar. Tapi, sayangnya, bumi tidak merasakan sebaliknya. Bumi mencintai matahari yang mana telah jatuh terlebih dulu pada bulan."
Jelas Zonan dramatis namun tetap dengan kewibawaan nya sebagai seorang pria matang mencuat jelas terasa auranya.
"Menyadari hal itu, Jupiter terpaksa memendam rasanya. Dia tidak memaksa bumi mencintainya, tapi dia justru melakukan hal sebaliknya. Jupiter membiarkan bumi memilih atas kehendak hatinya. Jupiter selalu setia mendengarkan cerita bumi."
"Tanpa bumi sadari, Jupiter selalu melindunginya dari asteroid yang ingin menghancurkannya. Jupiter merelakan dirinya dihantam asteroid agar bumi selamat. Dan, menjaganya dari jauh."
"Kisah cinta yang rumit." Takjub Zela sedikit dalam nada suaranya dibarengi kekehan kecil.
"Memang, tapi aku ingin menjadi seperti Jupiter. Melindungi tanpa diminta. Menjaga tanpa di ketahui. Walau pada akhirnya harus merelakan cintanya." Usainya, dalam kalimat terakhir, Zonan bahkan mampu tersenyum meski senyum getir yang ia tampilkan.
"Apa alasanmu menceritakan itu?" Alis yang pada semulanya sejajar kini menampilkan salah satu dari mereka terangkat.
Sementara itu, Zonan terdiam sejenak. Matanya yang seakan terkunci pada sosok ga- wanita didepannya kini hanya bisa menatap sosok tersebut lekat-lekat.
Ia menatap Zela untuk waktu yang lama, sebelumnya menyisirkan rambutnya kebelakang dengan tangan kanannya dan berdehem kecil.
Dia terkekeh pahit sambil mengusap rambutnya, menghindari tatapan Zela untuk beberapa saat. Dia bergumam dan berbicara dengan suara rendah, hampir seperti bisikan.
"Kau tahu kenapa, rusa... Aku ingin menjadi seperti Jupiter bagimu."
Tertegun? Tentu, Zela hanya bisa terdiam mencerna kata-kata yang Zonan lontarkan sejak tadi,
"Wow, aku tau kau orang yang blak-blakan, tapi aku tidak menyangka kau jauh lebih blak-blakkan sekarang dan menunjukkan jika kau benar-benar menyukaiku ya?"
Kaki sejajar itu kini menjadi sebuah lipatan, ya lebih tepatnya kaki kanan yang kini berada di atas kaki kiri. Zela menyunggingkan senyum manisnya, "kau kesini hanya untuk mengatakan itu?"
Zela tau, ia seharusnya tak perlu berperilaku dingin pada Zonan. Bukan hanya rumor yang ia dengar semasa SMP dulu..
Seperti kata pepatah, laju rumor beredar lebih cepat dari laju kuda berlari. Berita itu sudah sampai di telinga orang tuanya.
Orang tua Zela tau jika Zonan berniat akan menikahi Zela saat mereka lulus sekolah, namun Zonan kalah cepat dengan Nathan yang notabenya adalah sepupunya.
Orang tua Zonan masih hidup, naasnya mereka berpisah dan kini meninggalkan Zonan seorang diri. Meski tergolong sendiri, Zonan setidaknya tidak lontang-lantung di jalan, neneknya yang dimana nenek dari Nathan juga lah yang merawat Zonan.
Yap, Zonan tinggal bersama neneknya sekitar 4 tahun, kemudian ia memutuskan untuk memiliki rumah sendiri yang tak jauh dari rumah Nathan.
Zonan tertawa getir dan menggelengkan kepalanya mendengar pertanyaan Zela.
KAMU SEDANG MEMBACA
NAZÉL || END
Mystery / ThrillerNathan yang menyembunyikan identitas sebagai pemimpin gangster dari istrinya.. "tapi aneh. hanya kepalanya yang tersisa, lalu dimana badannya? siapa yang membunuhnya? apa ini kebetulan atau karma? aku penasaran" ujar Zella, istri Nathan yang bingun...
