Altezza yang kelabu (2)

295 9 0
                                        

"Para guru privat memujimu, katanya kau sangat cerdas."

"Bahkan katanya baru-baru ini kau sudah membaca dan menguasai materi pelajaran tingkat lanjut tanpa bimbingan."

Nathan yang sendari tadi duduk diam di atas sofa panjang dengan meja yang berisi minuman beralkohol hanya mampu mendengarkan celotehan ayahnya yang sangat jarang mengajaknya mengobrol.

"Padahal materi itu baru akan dipelajari di sekolah. Lanjut nya berceloteh, pria yang memasuki kepala 4 itu berdiri di belakang ketika memutari sofa panjang yang di duduki anaknya, Nathan.

"Kakakmu juga termasuk anak yang cerdas dibandingkan teman-temannya, tapi sepertinya kau jauh lebih unggul darinya. Kerja terus, Nathan."

Tuan yang terkenal bengis nya itu memiliki sifat yang lembut, I mean sedikit lembut pada anak-anaknya. Dia memberikan pujian kecil seraya mengusap
usap lembut rambut anak bungsunya.

Pujian kecil bisa saja menjadi sesuatu yang istimewa bagi orang yang tidak pernah mendapatkannya..

"Sekarang, jangan buang-buang waktu bermain di luar bersama ibumu lagi. Mulai besok datanglah ke kantor ayah setiap jam 8 pagi."

"Ayah akan mengajarimu cara berbisnis. Apa kau mengerti Nathan?"

▨●○●○●○●○▨

Sejak saat itu dimulailah pendidikan dari ayahnya.

Waktu Nathan bersama sang ibu nyaris hilang-

dan sebagian besar harinya dihabiskan dengan mengikuti ayahnya ke manapun beliau pergi, ke kantor, rumah, dan tempat pertemuan bisnis.

"Saat ini masih ada desa dan penduduk yang tinggal di sini. Tapi dalam waktu 3 bulan, semuanya akan digusur dan diratakan dengan tanah.".

"Rencananya, lima bidang tanah di jalur utama akan di bangun menjadi taman kota yang luas dan megah."

"Lalu di gerbang masuk akan didirikan rumah sakit besar setelah pihak kita mencapai kesepakatan dengan dokter Padre.."

"Ayah. Kenapa belakangan ini Nathan selalu ikut dengan kita?"

"Bukankah ayah bilang hanya akan mengajarkan aku saja?"

Nathan pada saat itu hanya bisa selalu diam dan menoleh ke arah kakaknya dengan sedikit mendongak.

"Hansa, mulai sekarang aku akan mewariskan bisnisku pada putraku yang lebih unggul dan cerdas. Pasar bisnis properti sangatlah kompetitif, hanya mereka yang unggul dan superior sajalah yang mampu bertahan."

"Aku tak akan mewariskan keluarga dan bisnisku pada pecundang yang mudah disingkirkan. Jadi kalian berdua harus belajar dengan serius dan jangan main-main."

NAZÉL || ENDCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang