Nathan yang menyembunyikan identitas sebagai pemimpin gangster dari istrinya..
"tapi aneh. hanya kepalanya yang tersisa, lalu dimana badannya? siapa yang membunuhnya? apa ini kebetulan atau karma? aku penasaran" ujar Zella, istri Nathan yang bingun...
Nathan kini sedang melihat beberapa dokumen, tetapi tiba-tiba ia merasakan getaran ponselnya dan melihat pesan dari salah seorang bawahannya.
Isi pesan membuat ekspresinya berubah menjadi berkerut, kesal, dan kemudian marah.
Dia segera menutup file dokumen dan menelepon seseorang sebelum pergi, langkah kakinya bergema di kantornya yang mewah berdiri kokoh di Italia tersebut.
Nathan sekarang berada di mobil mewahnya yang mahal, jendelanya ditutup membuatnya sulit untuk melihat ke dalam, dan dia duduk di kursi belakang. Dua orang bawahannya ada di kedua sisinya.
Dia duduk di sana dengan diam, mengetuk jarinya dengan tidak sabar di sandaran kursi, mobil bergerak cepat melalui malam dan ramainya jalan raya.
Dia menggigit kuat rahangnya, pikirannya dipenuhi dengan kekesalan dan kemarahan saat ini.
Mobil akhirnya berhenti di depan bar dan dia keluar, matanya memindai sekeliling sebelum melangkah ke dalam bar.
Para pria pengikutnya mengikuti dengan dekat. Bar itu sangat ramai, bising, dan penuh dengan orang minum dan ngobrol.
Dia melangkah melalui kerumunan sesuai petunjuk para bodyguard, sikap dinginnya dan kehadirannya yang menakutkan membuat orang secara naluriah menghindar, memudahkannya mencapai tujuannya.
"Kenapa disana ramai sekali?." Tanya Zela dalam hati sambil meneguk Whiskey nya lagi.
Nathan terus berjalan melintasi kerumunan sampai dia melihat Za duduk di kursi bar, terlihat sedikit kesepian dan sedang meneguk minumannya.
Ekspresinya tetap seperti sebelumnya dan jantungnya berdebar saat melihatnya. Dia segera mencapai bar di mana Zela berada, bodyguards itu tetap selalu mengekori langkah Nathan kemanapun itu.
Ketika menyadari pria yang berjalan semakin mendekat pada dirinya ia melotot tak percaya, "O ow, sepertinya aku harus menulis surat wasiat dan say goodbye pada dunia."
Matanya sedikit menyipit saat ia mendengar kata-kata Zela, ia merasa campuran antara kesal dan khawatir pada saat yang sama.
Ia mendekati dan akhirnya berdiri di depannya, pandangannya yang intens terfokus pada Zela.
"Kau mabuk." Dengan tegas ia menyatakan, suaranya yang keras membuat perhatian Zela tertuju padanya.
"Belum." Cukup mudah untuk menebak apakah Zela mabuk atau tidak, lihat saja sekarang merah pipi dan telinganya.
Nathan menatapnya dan bisa melihat bahwa Zela cukup mabuk dari pipi merahnya dan cara bicaranya.
Nathan menggerutu sebelum tiba-tiba meraih gelas di tangan Zela dan meletakkannya.
"Enough." Katanya, pandangannya terpaku padanya, memperhatikan setiap gerakan Zela saat ia diam-diam memperhatikan.
"Aku ngga mau pulang sekarang, alkohol disini enak. Go away." Usirnya, sebelumnya ia mencoba beberapa alkohol yang terkenal di Italia namun kini ia sedang meneguk minuman favoritnya, yaitu Whiskey.
Nathan sedikit mengangkat alis pada perintah istrinya, namun ekspresinya menjadi gelap saat dia menjawab dengan suara tegas,
"Kau pikir kau punya pilihan untuk tidak pulang? Sayang sekali, karena aku akan membawamu pulang."
Dia mendekatinya, tubuh tingginya menjulang di atas Zela dan dia meraih lengannya, menariknya dari kursi.
"Aaahhh nooo." Nampaknya telinga Nathan seakan tuli, ia terus melangkah keluar dari bar.
Nathan mengabaikan keluhan dan protes istrinya saat ia tetap memegang lengannya dengan erat.
tangannya yang lain tiba-tiba melingkari pinggang Zela saat ia membungkuk dan menggenggam bagian belakang lutut istrinya, lalu ia mengangkatnya dengan gaya bridal style.
"Cukup! Kita pulang."
"Hei, tolong aku." katanya kepada beberapa bodyguard yang mengikutinya.
Dia keluar dari bar dengannya di gendongannya, mengabaikan protes yang Zela bisikkan dan pandangan orang-orang di sekitar mereka.
Ketika anak buahnya melihatnya membawa Zela keluar dari bar, mereka segera mendekat, siap melakukan apa yang Nathan perintahkan.
Nathan melirik mereka dan memerintahkan mereka. "Bawa dia ke mobil."
"Kau mau kemana? Aku tidak mau pulang." Katanya berdiri sambil memegang pintu mobil.
Nathan menghela nafas saat melihatnya memprotes dan keras kepala menahan pintu mobil, kesabarannya mulai menipis dan dia memberinya tatapan tajam.
"Jangan keras kepala. Aku sudah memperingatkanmu sebelumnya bahwa aku tidak suka saat kamu bersikap pemberontak."
Dia berkata dengan tegas dan dingin, engisyaratkan kepada bodyguard untuk membawa Zela masuk ke dalam mobil dan mereka dengan cepat membuka pintu mobil, perlahan meraih lengannya dan membawa Zela masuk.
Nathan menggelengkan kepalanya sedikit melihat ekspresi Zela yang sedang cemberut, sebuah ejekan kecil lolos dari bibirnya.
"Jika kau terlalu cemberut, pipimu akan mengembang." Katanya saat ia duduk di kursi belakang mobil di sampingnya.
Mobil itu kemudian melaju cepat, menuju ke Villa yang mereka tinggali.
🥃🥃🥃
Ketika mobil berhenti di gerbang Villa, dia keluar dari mobil terlebih dahulu dan orang-orangnya membantu Zela keluar.
Dia segera melingkari lengannya dipinggang Zela ketika melihat ia hampir tergelincir akibat kehilangan keseimbangannya.
"Berhenti berjalan seperti itu, kamu hanya membuang-buang waktu," Katanya sambil menggendong Zela menuju pintu masuk Villa.
"Bukannya kamu ke kantor sore tadi?" Nampaknya ingatan Zela ditengah kemabukan itu masih berfungsi sekarang, ia penasaran bagaimana suaminya yang menyebalkan sekaligus perhatian ini tau keberadaannya.
"No! malam ini aku akan menghabiskan waktu untuk menjagamu dan memastikan kamu tidak mencari masalah lain."
Zella melepas sepatu hak tingginya karena merasa sakit karena memakainya terlalu lama, "Kakiku sakit," keluhnya.
Dia melirik ke bawah dan melihatnya mencoba melepaskan sepatu saat di gendongannya, dia mendesah pelan sebelum tiba-tiba berjongkok dan mendudukkan Zela di pahanya.
"Tenang saja, aku akan mengurus semuanya."
Katanya pelan, dia melepaskan heels itu dan kembali menggendong istrinya dengan tangan yang memegang heels.
Setibanya di kamar Zela langsung melompat turun dan berlari ke sofa kemudian berbaring.
Nathan mengikutinya di belakang dan melihat saat Zela jatuh ke sofa dan terbaring di sana dalam keadaan mabuk.
Dia berjalan mendekat dan berdiri di depannya, ekspresinya mempertegas saat melihat penampilan istrinya yang kacau.
"Lihatlah dirimu. Kamu sangat mabuk dan kamu bau alkohol."
Dia berkata dengan suara tegas, matanya penuh ketidakpuasan saat menatapnya.
TBC
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.