29. Pregnant days

346 12 0
                                        

Lima bulan berlalu, dan kehamilan Zela berjalan lancar. Perut nya sekarang terlihat bulat berisi tak lagi ramping, dan ini selalu menjadi pengingat akan pertumbuhan si kecil di dalam dirinya.

Nathan jauh lebih menyayanginya dari biasanya, memastikan Zela merasa nyaman dan dirawat dengan baik.
Mau tidak mau dia merasakan sedikit kegembiraan setiap kali melihat bayi kecil mereka menendang, hatinya berdebar-debar menantikan kedatangan anak mereka.

"Darling." Panggil Zela seraya memasuki dengan lancang ruang kerja Nathan.

Nathan sedang duduk di mejanya, matanya terfokus pada dokumen di depannya.

Saat dia mendengar suara istrinya, dia mendongak dan tersenyum menatapnya. Ia meletakkan penanya dan memutar kursinya menghadap sang istri, ekspresinya hangat dan penuh kasih sayang.

"Hi darling. Ada apa?"

Zela yang tanpa aba-aba bergerak mendekat hingga duduk di pangkuan suaminya, tak puas dengan sampai disana ia melanjutkan mencium-cium leher sang suami.

Nathan pun menerima perlakuan itu dengan sangat terbuka, ia menarik Zela semakin dekat namun kemudian sedikit melonggarkan pelukan itu. Ia takut bayinya kegencet.

"Aku juga merindukanmu, sayang. Maaf aku sibuk sekali dengan pekerjaan."

Nathan menghela nafas kecil, tangannya terus mengusap punggung istrinya dengan lembut.

"Aku tahu akhir-akhir ini aku terlalu banyak bekerja, tapi aku berjanji akan menebusnya. Lagi pula, kamu sedang mengandung si kecil."

"Aku ingin makan sushi sekarang." Inilah tujuan Zela datang ke ruang kerja Nathan.

Nathan terkekeh pelan mendengar permintaannya, terhibur dengan ngidam istrinya, ia tersenyum kecil akan hal itu.

"Kamu ingin sushi? Ngidam ya?"

Dia menepuk perut Zela dengan lembut dan pelan.

"Baiklah, kalau begitu, aku akan minta asistenku memesankan kesukaanmu, oke?"

Nathan mengeluarkan ponselnya dan dengan cepat menghubungi nomor asistennya. Dia menyampaikan permintaan sushi Zela, menentukan menu favorit Zela dan jumlah potongan yang di inginkan.

Nathan segera mengakhiri panggilan dan memasukkan kembali ponselnya ke sakunya, tatapannya kembali pada Zela dengan senyuman hangat.

"Nah, sekarang kita tunggu saja pesanannya. Sementara itu..."

Dia dengan lembut menangkup dagu istrinya dan memiringkan kepalanya untuk menatap Zela.

"Oke" Balas Zela dengan perkataan suaminya sebelumnya.

Nathan terus memegangi dagu Zela, ibu jarinya menelusuri lekuk wajah istrinya dengan lembut, mulai dari rahang hingga bibir lembutnya. Dia menatap dengan kelembutan, hingga beralih mengelus surai panjang rambut Zela dengan hati-hati.

"Kau tahu, kau tampak mempesona saat hamil," gumamnya. "Aku tidak puas melihatmu seperti ini."

Momen dramatis akan segera dimulai namun sayangnya seperti sebuah vidio youtube, iklan pun muncul. Lebih tepatnya suara deringan ponsel bersuara dengan lantang memecahkan suasana tersebut.

Nathan melirik ponselnya yang berdering, senyumnya memudar sejenak saat dia melihat panggilan masuk. Dia dengan cepat menjawab sambil mendekatkan telepon ke telinganya.

"Ya?"

"Siapa?" Tanya Zela berbisik.

Nathan terlihat agak bingung sejenak, alisnya berkerut saat dia mendengarkan orang di ujung telepon. Pertanyaan bisikan Zela membuatnya lengah selama sepersekian detik, sebelum dia berhasil mendapatkan kembali ketenangannya.

NAZÉL || ENDCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang