- 02

1.4K 195 93
                                        

Satu per satu pelayat telah pulang. Pemakaman itu telah sepi pengunjung. Tapi (Nama) tak gentar bersikukuh untuk tinggal lebih lama. Bahkan Gempa telah mencoba membujuk, tetapi (Nama) nyatanya lebih keras kepala daripada Halilintar. Keinginannya tidak bisa dicegah.

Anak-anaknya Amato, dan Amato tidak punya pilihan lain. Mereka juga menunda untuk pulang. Mereka menjaga (Nama) yang berkabung dengan dress putih kepanjangan di sekitar kakinya. Wanita itu berantakan sekali. Amato tidak tega menyeretnya masuk ke mobil dan memaksanya pulang. Jadi, keluarga Blaze memutuskan mengizinkan (Nama) duduk-duduk di pemakaman, di tepi kuburan, merenung sendirian, sedangkan Amato dan anak-anaknya memerhatikan Sang Maestro dari kejauhan.

Halilintar pamit undur diri duluan, karena katanya dia punya urusan mendadak, padahal aslinya, Halilintar mau menangis tanpa dilihat orang-orang. Taufan sempat pergi ke warung kelontong sebentar, membeli kopi, menyesapnya supaya matanya lebih cemerlang. Sedangkan Thorn sesekali menghampiri (Nama), mengajaknya pergi ke tepi makam, duduk di bangku warung makanan. Tapi sayangnya, (Nama) menggeleng penuh keengganan. Pelukis sembrono itu bersikeras ingin merenung, sampai siang beranjak sore, dan bulan bersiap-siap menggantikan peran matahari.

Setelah berunding dengan penuh pertimbangan, Amato dan anak-anaknya juga pulang. Menyisakan Ice, orang yang diberikan amanah di makam. Kalau kata Amato, haram hukumnya bagi Ice untuk pulang, selagi (Nama) belum mau diantar ke rumah. Tadinya Thorn mencalonkan diri, Thorn mau-mau saja diperintahkan menjaga kakak iparnya, tapi Amato pikir, Amato perlu membiasakan Ice supaya ia memiliki tanggungjawab.

Tidak ada alasan, Amato hanya cemas. (Nama) tinggal sebatang kara di tengah kawasan urban, dia tidak punya siapa-siapa kecuali teman-teman senimannya, dan orang-orang dari galeri di kota sebrang. Amato tahu jelas, menantunya cewek necis yang agak frugal kalau soal kesehatannya sendiri.

Pada akhirnya, Ice ditinggal. Ice lagi-lagi, datang pada (Nama).

Langit mulai menggelap, dan Ice berencana untuk tidak mentoleransinya berada di pemakaman lebih lama dari ini.

"(Nama)." Ice berjongkok, dan menyapa Sang Maestro.

Ia mengenakan gaun putih yang tak wajar digunakan pada peradaban ini. Ice sendiri penasaran dimana Sang Maestro membelinya. Gaunnya panjang, berbahan satin, dan menyapu tanah, ternodai oleh cipratan genangan air serta tanah merah dari pijakkan kakinya. Ice jadi tahu, perempuan itu senang sekali kotor-kotoran.

(Nama) tidak menjawab. Pandangannya terpancang pada tanah kuburan yang gembur dan masih basah sekali. Kelopak bunga ditebarkan di permukaannya, sehingga bau seperti asap kemenyan yang merilekskan dapat tercium dari hidung.

Ice memergoki tangan (Nama) terulur pada tanah kuburannya. Gilanya, Sang Maestro menangkup sejumlah tanahnya. Ice ingat, Blaze waktu itu curhat, katanya, istrinya senang sekali memelihara gugusan bunga-bungaan berwarna-warni di pekarangan rumahnya, tanpa menyiramnya dengan teratur. Ice pikir, keluhannya Blaze sebatas sampai di sana. Tapi tidak, masalahnya justru terletak pada alasan di balik Sang Maestro yang kerap membeli tanaman hias. Sang Maestro suka memetik bunga, atau rumput liar di jalanan, atau ilalang di halaman stasiun kota, atau mencuri panenan tomat tetangganya. Sang Maestro akan menghimpun barang-barang itu dan memukulnya dengan lesung. Lalu ia mengaduknya, menuangkannya air keran, dan menjadikannya cat lukis.

Dan termasuk tanah. Kalau kata Blaze, (Nama) sering kepergok meraup tanah di sekitar alun-alun, atau bahkan tanah di depan teras rumahnya sendiri. Sang Maestro membutuhkan tanah untuk mengolahnya ke cat akrilik siap pakai.

Bagi (Nama) sendiri, bagaimana seorang seniman memperoleh catnya, ialah seni lainnya dalam melukiskan karya. Dulu, harga pigmen cat mahal sekali. Orang Tiongkok mengembangkan warna merah terang dua ribu tahun sebelum orang Romawi mengenalnya. Mereka menamainya—kalau (Nama) tidak salah ingat—Vermillion. Warna merah terang, seperti warna mata Blaze, warna kesukaan (Nama). Orang Tiongkok menghancurkan, mencuci, dan memanaskan batu cinnabar, atau ya, orang sekarang sih menyebutnya merkuri sulfida. Atau dapat juga diperoleh dari lelehan belerang. Namun dalam perkembangannya, pigmen-pigmen cat mulai disintetis secara kimia oleh Diesbach entah itu dengan kalium alkali sebagai substrat, dan kadang dipadukan oleh minyak hewani.

Ice x Reader | Mr. IceTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang