Ice menyeringai pada Frostfire yang menangis.
"Apa, Frosty? Nyari Mama, ya?" Senyumnya melebar. "Nanti. Mama lagi sibuk. Frosty, sini lihat sebentar."
Ice menyerongkan badan dan menarik figura foto dari arah meja pajangan. Figura itu bingkainya warna putih, dan dibuat dari kayu triplek. Foto (Nama) mengisi celahnya, fotonya dikemas lapisan kaca, dan terlihat agak berdeli. Itu foto (Nama) yang diambil dari studio foto, foto (Nama) saat mengenakan toga wisuda. Mengingat (Nama) telah lulus dari sekolah seni cukup lama, dan (Nama) jarang bersih-bersih debu sejak kematian Blaze, barang-barang pajangan di rumahnya rata-rata kotor. Tak terurus.
Ice mengusap figuranya dengan lengan bajunya, bermaksud mengelap debu-debunya, menjadikannya lebih baik untuk dilihat oleh si bayi, dan menunjukkan fotonya pada Frostfire di ranjang tidur yang meskipun katanya koleksi toko furnitur bagus—katanya mahal, ini hadiah dari Solar—tapi terlihat seperti kandang ayam berwujud persegi panjang.
Ice menjorokkan figuranya pada Frostfire, dan jari telunjuknya mengetuk-ngetuk permukaan kaca itu.
Ekspresinya khusyuk, lebih khusyuk daripada Halilintar ketika karyawan marketingnya menyewa publik figur problematik dalam pengiklanan produk mereka dan ujung-ujungnya, pemasaran mereka anjlok.
Daritadi, Frostfire menangis. Tapi saat Ice memperlihatkan wajah Sang Maestro, Frostfire menghentikan tangisan tak berkesudahannya.
"Wah, teori Solar benar." Ice bergumam.
Kemarin, ketika Ice mengurusi vendor dengan (Nama), Ice menitipkan Frostfire—tentu saja—pada Gempa. Tapi kata Gempa, Solar dan Thorn, oh ya, dan Taufan, tiba-tiba datang dari arah dapur sambil mengejutkan Frostfire. Muka mereka menyembul di ambang pintu, dan Taufan sekonyong-konyong menyapa, 'Halo, anak ganteng' yang terdengar seperti jumpscare bagi Frostfire. Frostfire menangis, dan Gempa mengusir ketiga saudaranya dari kamar.
Thorn mengabarkan, kalau Gempa dipanggil Amato. Urusan penting, katanya, perkara hidup dan mati. Gempa mau tak mau menitipkan Frostfire ke Taufan, Thorn, dan Solar, lagi. Faktanya, tiga orang itu pergi main PS di rumah tetangga sambil membawa Frostfire.
Si rumah si tetangga edgy, Frostfire, seorang bayi satu bulan, dimintai Solar untuk main Mortal Kombat.
Solar menyimpan Frostfire di sofa, menyandarkannya kepada bantal. Kemudian, Solar meletakkan stik PS ke pangkuannya Frostfire kecil, dan menyuruhnya main. Alhasil, Frostfire hanya menatap televisi dalam pandangan bayi bingung, padahal di sisi lain, Solar tengah membantai avatarnya Frostfire habis-habisan, karena ronde-ronde permainan gim konsol itu hanya penindasan sepihak dari pria tua bangka dua puluh enam tahun melawan bayi satu bulan empat hari.
Forstfire sebatas menyentuh dua analog pada stik PSnya, mengira benda karet itu bisa diemut atau dikunyah. Untungnya, sebelum Frostfire memakannya, Taufan ada di sana untuk mencegah. Karena dilarang, Frostfire menangis. Frostfire menangis, dan tangisannya kali itu agaknya tragis sekali.
Karena Frostfire menangis, Solar punya ide. Solar menyalakan ponselnya, dan menyuguhkan Frostfire foto (Nama) yang didapatnya dari grup keluarga, foto formal berlatar belakang biru tua, foto untuk mendaftarkan pernikahannya kelak ke kementrian agama. Tak disangka-sangka, Frostfire berhenti menangis, dan dia langsung mau menyusu pada botol dotnya.
Teori Solar, benar. Solar jadi menginformasikannya pada Ice, bahwasanya Frostfire bisa dibodohi kalau sedang tantrum, karena temuan ilmiahnya barangkali bisa membantu Ice nantinya, jika dia diminta mengasuh Frostfire, seperti sekarang.
Ice mencoba menjauhkan foto (Nama) dari pengelihatan Frotfire. Hasilnya, Frostfire menangis lembut, ia merengek penuh kecewa karena sosok mamanya tak terlihat di jangkauan pandang. Belum puas sampai di sana, Ice membawa kembali foto (Nama) kepada Frostfire, menyulut ketenangan di benak si bayi.
