- 08

1K 150 99
                                        

"Di bumi ini, cewek ada banyak," Halilintar melanjutkan mengomel. "Tapi kamu malah kesemsem ceweknya Blaze."

Ice semakin menerbenamkan wajahnya di pelukan Thorn. Sedangkan Thorn memilih untuk mengelus-elus punggungnya Ice.

Taufan duduk merapat pada Ice, dan ia memegang pundaknya, "Kasihan Ice. Jangan marah-marah melulu dong, Bang Halilintar!"

"Gimana enggak marah-marah?" Halilintar melanjutkan pergejolakan emosinya. "Blaze nyuruh Ice menjaga istrinya, tapi bocah tengik ini malahan ..."

"Duh, duh, Ice." Solar menjalankan perannya dengan baik. Kompor mulut ember. "Dari sekian banyak cewek, kenapa (Nama), coba? Iya, cakep, sih. Andai masih lajang, gue jug—maksudnya, alangkah lebih baiknya, lo cari cewek lain di luaran sana. Iya nggak, Bang Hali?"

Halilintar makin melotot pada Ice.

"Mana ditolak pula." Solar menambahkan.

Halilintar telah puas memarahi Ice sampai ke inti tulangnya. Halilintar kembali mengusap dada dan mengatur napasnya yang tersengal-sengal, kemudian ia pergi, meninggalkan Ice, Thorn, dan Taufan tetap berada di sofa ruang tamu. Mereka bertiga entah kenapa berkomplot. Thorn dan Taufan saling memeluk Ice, sok melindunginya dari Halilintar bagaikan anggota Justice League. Sedangkan Solar mengikuti Halilintar di belakang, bersikap seperti duo racun pembuli yang baru saja melancarkan aksi kriminalnya.

"Ice, jangan nangis." Taufan ikut merasakan perasaan Ice. Meskipun Taufan tidak berpengalaman mengurus prahara cinta-cintaan, dan tak sebaik Solar dalam praktiknya, Taufan kepengen membantu Ice. Kemarin-kemarin, Halilintar membawa serta Ice dari mobil dengan menarik telinganya sambil marah-marah, tepat sehari setelah (Nama) melahirkan Frostfire, dan Gempa berganti menjaga (Nama) di ruang rawat inapnya.

Taufan bingung, kenapa Halilintar tersulut emosinya, dan main hakim sendiri saat itu juga. Halilintar mempersidangi Ice di depan Solar dan Taufan, sedangkan Thorn kebagian jatah menunggu (Nama), sehubungan dengan Frostfire perlu diurus persyaratan pemeriksaan cek darahnya di rumah sakit. Rupanya, Ice cerita, kalau katanya, Ice naksir seorang elf jadi-jadian yang keluar dari buku dongeng Fairytale. Sebelumnya, Taufan tidak mengerti, Taufan justru menuduh Ice kebanyakan mengonsumsi anime genre Isekai. Tapi setelah Ice menjelaskan panjang-panjang bagaimana segalanya bermula, mengenai ketertarikan tidak sehatnya pada (Nama) semenjak wanita itu entah bagaimana tampil begitu memesonanya kala melukis, Taufan jadi mengerti, Ice kepalang jatuh hati. Intriknya, (Nama) mantan adik iparnya, (Nama) ialah keluarganya, karena (Nama) istrinya Blaze. Baik, katakan saja, (Nama) mantan istrinya Blaze, bukan lagi istrinya, tapi bagi kesemua orang, mereka sepakat untuk menganggap (Nama) sebagai bagian dari personil keluarga ini.

Halilintar jelas mempermasalahkannya. Tidak sulit mencari wanita lain. Wanita yang tak ada ikatan pada persilsilahan keluarga mereka di luar sana. Ice seperti kekurangan stok wanita untuk dicintai. Padahal keluar rumah pun, Ice akan bertemu tukang nail art keliling, si cewek cantik berabut ikal, di sebelah kanan dan kiri mereka pun, tetangga mereka memiliki anak gadis. Belum dinikahkan. Available semua, jadi kalau mau lamaran, tinggal cus, tidak perlu repot. Ice juga punya puluhan karyawan wanita di bawah tim kerjanya. Tidak, Ice tidak tertarik? Oke, Halilintar memaklumi. Tapi, masih ada banyak wanita lain di luar itu semua. Apa susahnya mencari?

Makanya Ice dimarahi habis-habisan. (Nama) masih menjadi keluarga mereka. Statusnya secara hukum memang tak ada afiliasinya dengan keluarga Amato, tapi ikatan batin mereka terhubung; Halilintar dan yang lain menganggapnya adik. Adik perempuan untuk dilindungi, peninggalan berharga dari Blaze. (Nama) seperti guci keramik. Dia dijaga baik-baik. Amato pun telah berulang kali memperingatkan, mereka tidak bisa membengkalaikan istrinya Blaze, karena kekeluargaan tak terpisahkan oleh kematian seseorang.

Ice x Reader | Mr. IceTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang