"CERAIKAN ISTRIKU!" Blaze yang baru saja pulang dari kematian meninju dinding di samping bahu Ice.
Ice menatap Blaze tanpa nyawa. Air matanya merosot turun. Keajaiban ini terasa tidak nyata. Sejak kecil, Ice suka berenang. Ice sempat berlibur ke Okinawa, dan terjatuh dari kapal wisatanya, tapi Ice naik ke geladak kapal tanpa pelampung karena ia mahir berenang. Ice juga hampir tenggelam saat ia memancing sotong di laut Pulau Rintis; Ice berhasil menepi ke pelabuhan sendiri, tanpa luka, tiada sedikit pun cedera. Ice berhasil selamat dari lautan Okinawa dan perairan Pulau Rintis, namun Ice tenggelam di kedua mata Blaze.
Blaze jarang marah. Blaze bukan Halilintar. Tapi sekarang, Blaze mengamuk hebat. Otak Ice membeku seketika. Logikanya bergerak lamban mencerna satu per satu sekenario hidup ini. Pertama, Blaze muncul dari ketiadaan, sekonyong-konyong menampakkan diri di antara keramaian pintu timur rumah sakit, dari lorong lajur darurat kebakaran. Ice mulanya meragukan pengelihatannya sendiri. Tapi tidak. Tidak sebelum (Nama) memanggil nama Blaze, dan menatapnya penuh kalut.
Ada dua hal yang Ice rasakan. Senang, dan sebaliknya. Ice menangis berhari-hari karena saudara yang menjadi idolanya pergi meninggalkan Ice, selama-lamanya. Ice sama sekali tidak mau menafsirkan kehadiran Blaze sebagai kesedihan—tapi mau bagaimana lagi? Ice terjebak. Ice terlanjur menyukai istrinya Blaze. Ice begitu menyukainya. Ice kelewat menyayangi istrinya Blaze dan anaknya.
Rasanya seperti ditodong oleh banyak pisau. Ice bersalah. Ice yakin, bila Ice meminta pendapat Halilintar, pendapat Taufan, pendapat Gempa, pendapat Thorn, dan pendapat Solar, pendapat orang menumpang lewat di trotoar, pendapat artis, atau pendapat orang lain, Icelah yang layak dipersalahkan.
Tapi di depan itu semua, sesungguhnya Ice menahan pekikkan bahagia. Tangisannya bukan dimaksudkan untuk keberdukaan. Si beruang kutub menangis senang. Eksistensi Blaze terasa seperti ketidakwajaran. Dalam arti baik. Setiap Ice mengedip, Ice menjatuhkan bulir-bulir air mata berperisa rasa asin. Air matanya asin. Ice tahu. Ice berpengalaman menangis semalaman dan mengonsumsi air matanya sendiri.
"Blaze ..." Ice memanggil nama saudaranya yang ia sayangi. Jari-jarinya bahkan gemetaran. Ice perlahan mengangkat siku tangannya ke atas. Ice berencana ingin meraba wajah Blaze, dan menyentuhnya. Memastikan Blaze hidup, Blaze ada di sini, ini bukan mimpi, dan Blaze bukan hantu.
Tangan lemah itu hendak menggapai pipi Blaze, namun sebelum tangan Ice menggapainya, dan berhasil bercengkrama dengannya, Blaze duluan mencengkram kuat-kuat pergelangan tangan Ice.
Blaze mendendam begitu banyak amarah pada adik sedarahnya. Pada cengkramannya, Blaze menyalurkan besar tenaga. Blaze memegang tangan Ice, memerasnya, dengan kesadaran penuh. Blaze melotot marah, Blaze meminta pertanggungjawaban Ice dalam ajakan berkontak mata itu. Blaze ingin tahu, kenapa Ice tega berbuat begini padanya?
Blaze menghempaskan tangan Ice. Kali ini saja, Blaze tidak mau disentuh oleh adiknya. Ice terlihat menjijikan di matanya. Laki-laki licik itu mencuri apa yang Blaze miliki. Istrinya. Anaknya. Ice benar-benar biadap.
Ice tidak bermaksud begitu.
Si beruang kutub sepenuhnya sadar, kenapa Blaze mencekal tangannya. Beruang kutub mengintrospeksi dirinya sendiri, beruang kutub mengakui betapa salah dirinya di situasi ini. Segala konsekuensinya, si beruang kutub mau menanggungnya. Beruang kutub bukan orang jahat, dia hanya jatuh cinta.
Tangisan Ice menjadi. Ice sedih, ia telah menyakiti Blaze.
"Blaze, aku minta maaf." Ice merengek. Ice tidak bisa membiarkan Blaze membencinya.
Memangnya apa resolusi dari masalah ini? Ice bertanya-tanya. Ice tidak tahu. Ice berpikir keras. Ice ingin menawarkan perdamaian, tapi timbangannya sama-sama berat. Ice menyayangi Blaze. Tapi Ice juga tidak mau istrinya diambil kembali oleh Blaze.
KAMU SEDANG MEMBACA
Ice x Reader | Mr. Ice
Fanfiction|Ice x Reader| Tadi kakaknya, sekarang adiknya.
