- 14

853 130 69
                                        

Itu malam yang melelahkan, karena dari pagi ke sore, Ice dan istri barunya, sibuk menyusun rumah, dan di malam harinya, mereka perlu menjemput Frostfire dari rumah Amato.

Ketika ditanya, apakah Frostfire menyusahkan atau tidak, Gempa menjawab tidak. Solar juga mengangguk setuju. Omong-omong, Ice penasaran, kenapa mendadak sekali, Solar memiliki noda merah delima di pipinya, dengan diameter cukup lebar. Dan kejanggalan berlanjut ketika Frostfire dikembalikan dalam posisi terbalut tiga lapis kain pernel. Lapisan kain pernel warna coklat, kemudian warna kuning, dan warna hijau.

Tapi, Ice menghiraukannya, karena ia ingin segera pulang, dan mencicip rasanya berumah tangga. Ice sejujurnya grogi. Ice tidak berpengalaman dekat-dekat dengan perempuan, sebab di sepanjang hidupnya, Ice tidak memiliki kesempatan semacam itu. Ice orangnya bertendensi tak punya ketertarikan akan hubungan romansa. Di dunianya, dan di kamus pada dunianya, Ice menyingkirkan kosakata romansa sudah cukup lama.

Cinta pertama Ice, Ice pikir, merujuk pada seorang artis lukis yang kenyataannya baru ditinggal meninggal suaminya. Mengejutkannya, daya magnet (Nama) terasa begitu kentara bagi Ice dan benteng pertahanan dirinya. Titik dimulainya ada pada keadaan rumit dimana Ice mesti bertanggungjawab penuh atas Frostfire dan (Nama). Ice memang kurang ajar. Bukannya menjaga (Nama) dan Frostfire sebagaimana titah Blaze, Ice malah berbuat lebih jauh. Menyukainya. Menyukai (Nama). Persisnya, Ice tidak tahu kapan. Tapi Ice merasakan hatinya bergemuruh sakit ketika melihat (Nama) merintih dalam persalinannya. Tiba-tiba saja, Ice ingin menanggung segalanya.

Ice memandang pada istrinya. (Nama) terlihat sama seperti ketika ia berada di bangsal nifas. Memakai piyama, tanpa riasan, dan terlihat mengantuk. (Nama) baru saja keluar dari kamar mandi. Dan penampilannya langsung berubah santai begitu.

Ice yang sudah mandi duluan menyaksikannya menggosok-gosokkan kakinya ke keset, kemudian meminta Frostfire dari gendongannya Ice.

"Sadar atau enggak, kalau dipakaikan kain pernel dengan warna-warna ini, dia kelihatan mirip alpukat." (Nama) berkomentar.

"Alpukat?" Ice melamun. Alpukat. Buah alpukat. Karena menyebutkan nama alpukat, Ice jadi membayangkan Frostfire dibungkus kain-kain itu, tapi dengan pengaturan lebih rapi. Frostfire menjadi kepompong alpukat, dan menggantung di pohon alpukat bersama alpukat-alpukat lain. Kemudian, Ice, seorang petani alpukat, akan memanen Frostfire dari pohonnya, dan memasukkannya ke keranjang. Ya ampun. Ice sampai berfantasi demikian.

(Nama) duduk di tepi ranjang. Ia menepuk-nepuk punggung Frostfire, kemudian—mata Ice melotot sejadi-jadinya—ia melepas kancing piyamanya. Ice kontan masuk ke dalam selimut, dan pura-pura tidur. Selimutnya menutupi kepalanya, hanya menyisakan ujung-ujung rambutnya di bantal.

Ice diam-diam mengintip keluar, mengawasi keadaan—apakah (Nama) masih di sana? Benarkah (Nama) menyusui Frostfire dan dengan begitu mudahnya membiarkan Ice melihat? Kalau dipikir-pikir, seharfiahnya (Nama) boleh berbuat begitu. Karena ini kamarnya, dan Ice suaminya. Tapi, meskipun demikian, Ice masih malu-malu.

Pelan-pelan, Ice menyibak selimutnya, menyembulkan kepalanya dari samping. Dari sini, pemandangan indah itu tak terlihat begitu eksplisit. Ice malah melihat kaki Frostfire yang menjuntai keluar dari pangkuan (Nama).

Bayi itu, apa-apaan, sih? Ice jadi keki. Kayaknya, jadi Frostfire, enak banget, ya? Ice pikir begitu. Bisa-bisanya Frostfire ada di sana, dan menikmati kasih sayang (Nama). Ice semakin cemberut. Mana pula, (Nama) menyusuinya lumayan lama. Sekitar lima belas menitan. Ice sendiri tidak tahu berapa lama normalnya bayi menyusu, tapi yang jelas, Ice bertanya-tanya, kapan Frostfire berhenti minum? Apa Frostfire enggak mau gantian? Frostfire bisa diajak kongkalikong nggak, ya?

(Nama) menoleh pada Ice, "Ice mau juga?"

Rasanya, jantung Ice akan melompat keluar karena terkejut.

"H-hah?" Masih dengan nada defensif, Ice mendongakkan dagunya sambil bertanya. Ice tahu apa maksudnya, Ice tentu saja paham (Nama) sedang menggodanya straight to the point. Tapi Ice berlagak idiot, dan balik melemparkan pertanyaan.

Ice x Reader | Mr. IceTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang