Ruang tumbuh dan kembang itu lantainya dilapisi oleh karpet berbentuk puzzle warna-warni. Banyak bayi dan balita didampingi ibunya menunggu di sana, entah untuk mengonsultasikan masalah yang pada umumnya dialami bayi, baik diare berujung dehidrasi, demam, pneumonia, batuk tapi bukan pneumonia, atau perdarahan saluran cerna, atau tidak, atau mereka hanya memeriksakan anak mereka ke kunjungan rutin skrining pertumbuhan anak. Begitu juga Frostfire. Dokternya Frostfire di ruang perinatologi dulu sempat mengingatkan (Nama) untuk membawa Frostfire ke rumah sakit, ke poli tumbuh dan kembang, saat usia Frostfire sudah lebih dari satu bulan.
Setelah menjadwalkan agenda temu wicara, (Nama) berangkat dari kediamannya ke sini dan berakhir disuruh menunggu. Sebetulnya, karena Frostfire dan Alodia lahir di detik yang sama, (Nama) berniat mengajak Mamanya Alodia turut serta pergi ke rumah sakit. Tapi usut punya usut, Mamanya Alodia menolak sebab ia sedang berlibur di Bali dengan menyewa—maksudnya—membeli yacht untuk mengarungi lautan Nusantara menuju ke Pulau Nusa Lembongan sampai ke Gili Trawangan di Lombok. Mamanya Alodia bahkan mengirimkan foto sunset party di atas dek sebuah yacht, memamerkan agenda liburannya sembari mengajak (Nama) pergi ke trip selanjutnya. (Nama) mulai mengerti, Mamanya Alodia royal sekali terhadap kualitas liburannya.
(Nama) duduk di sisi tembok, dan mendudukkan Frostfire di atas pangkuannya. Frostfire orangnya tidak sabaran, tapi entah kenapa, Frostfire kali ini tidak serewel biasanya. Frostfire menyembunyikan wajahnya di pelukan (Nama), namun seiring waktu, ketika suara pekikkan gembira anak-anak lain hilir mudik melewati pendengaran Frostfire, Frostfire pelan-pelan mengintip dan mempelajari ekosistem barunya. Habitat Frostfire sejatinya ialah di rumah, dengan boneka paus papanya, di antara bantal-bantal empuknya, di balik selimut wol khas suku Eskimo, dan oleh karenanya, Frostfire butuh beradaptasi mati-matian terhadap lingkungan baru.
Frostfire mulanya merindukan Ice. Frostfire maunya dibungkus kain hangat sesudah mandi sore, dan lekas dipeluk papa beruang kutub yang jaketnya selalu hangat itu.
Perlahan tapi pasti, Frostfire mulai menyimpan ketertarikan pada mainan-mainan di sekitarnya. Frostfire menganalisis keadaan sekitar dengan nalar bayi berumur kurang dari enam bulan.
Lokasi ini baru baginya, tapi tak begitu asing. Ingatan bayi masih belum kuat, tapi jauh di dalam memorinya, tentu saja Frostfire punya pengalaman buruk saat om-omnya membawanya kemari untuk diimunisasi. Frostfire digotong kesana kemari, tanpa tujuan yang jelas. Ada terlalu banyak kesalahpahaman. Frostfire sendiri tahu betapa tidak becusnya om-omnya. Papanya jauh lebih baik dari Om Taufan, Om Thorn, dan Om Solar! Frostfire menjagokan papanya! Frostfire lebih suka Ice ketimbang Taufan, Thorn, atau Solar, padahal muka mereka sama—Frostfire tidak bisa membedakannya, sungguh. Hanya saja, bayi seperti Frostfire bisa sadar akan perihal-perihal kecil, contohnya; Om Taufan, Om Thorn, dan Om Solar tinggal bukan di rumahnya, mereka muncul sewaktu-waktu tapi tidak selalu, sedangkan Ice senantiasa setor muka pada Frostfire di pagi, siang, dan malam hari. Kedua, Frostfire mengasumsikan bau Om Taufan similiar pada bau air toren lumutan, Om Thorn beraroma lidah buaya, ya, lidah buaya, lidah buaya ialah wewangian di sabun mandinya Frostfire, bau Om Solar menyerupai bau bocah kencur pemain layang-layang karena Om Solar berbau mirip matahari, sementara papanya wangi zwitsal. Mereka, secara bau, betulan berbeda. Begitulah Frostfire membedakan papa beruang kutubnya, Om Taufan, Om Thorn, dan Om Solar.
(Nama), Sang Ibu, tenggelam dalam lamunan. Menunggu nomor antriannya dipanggil suara interkom menjadikannya bosan luar biasa, dan menjatuhkan pikiran (Nama) ke jurang perandai-andaian. Mendadak saja, (Nama) mengingat betapa lembutnya dan hangatnya Ice ketika dipeluk. (Nama) gemas dan bergagasan untuk memakannya, memakan Ice seperti 'Hap!'—tunggu? Apa makhluk berjaket wol itu bisa dimakan?
KAMU SEDANG MEMBACA
Ice x Reader | Mr. Ice
Fanfiction|Ice x Reader| Tadi kakaknya, sekarang adiknya.
