- 06

1K 171 65
                                        

Perlu diketahui, kejahatan penculikkan bayi dihindari dengan menjaga ketat-ketat perinatologi oleh keberadaan sekuriti, pintu berkata sandi, dan penyaringan tamu jenguk.

Seperti sekarang, Ice dicegat oleh satpam di depan perinatologi level satu, dia dimintai kartu identitasnya sebagai jaminan kegiatan besuk-membesuk ini. Karena Ice meninggalkan dompetnya di ruangan rawat inapnya (Nama), Ice tak mampu menjenguk Frostfire dan mengurus pembuatan akta kelahirannya.

Ice jadi kembali pulang ke kamar (Nama). (Nama) belum bangun dari tidur panjangnya. Dia mendengkur halus, dan wajahnya nyenyak seperti saat Aurora dikutuk untuk tidur dalam peti berisi bunga-bunga daisy. Wanita itu tidur cukup lama. Hampir sebelas jam. Dia sudah dibangunkan untuk latihan bergerak dan pergi ke kamar mandi. Dan makan sambil mengeluhkan betapa perihnya rasanya melahirkan bayi. Tapi setelahnya, (Nama) tidur lagi. Dia terlihat capek. Setelah keramas dan mengeringkan rambutnya, (Nama) terlelap di kasurnya, memeluk boneka paus punyanya Ice yang dibawa Ice demi menunjang kebutuhan tidurnya, tapi malah dirampas dan diakuisisi oleh (Nama) kepemilikannya.

Setelah lama menunggu, Ice disambut oleh kedua kelopak mata yang mekar. Iris kelelahan itu menatap Ice.

"(Nama)." Ice menyambut putri tidur dari zona realitas. Sang Maestro menguap, dan meringkuk. Ia masih tidak nyaman dengan kondisi tubuhnya yang serba merasa pegal dan linu, terutama karena ketika mengejan, dia hiperaktif sekali.

"Sudah ketemu Frostfire?" (Nama) bertanya. Suaranya serak.

"Belum." Ice menggeleng. "Sebaiknya kamu bangun. Katanya mau menengok Frostfire juga?"

(Nama) baru ingat, dia punya bayi. Bayi yang perlu dikunjungi tiga jam sekali untuk disusui.

Ice membungkuk untuk mencapai kresek putih raksasa yang disimpannya di kolong kasur. Ice menarik pegangan tangan kresek itu, dan memperlihatkan pada (Nama) sebongkah bantal empuk berbentuk setengah gigitan donat.

"Bantal menyusui." Ice menginformasikan.

(Nama) menahan napas sebentar selagi ia berusaha duduk di kasurnya. Dia masih menderita pening luar biasa, dan kelelahan. Tapi sekejap, ketika Ice memamerkan usaha lainnya untuk membalas budi pada Blaze, Sang Maestro lagi-lagi merasa mempunyai hutang besar terhadap Ice.

"Bagaimana aku akan membalasnya?" (Nama) mengutarakan kebingungannya. "Perlakuan ini. Usaha-usahamu. Tolong jangan terlalu merepotkan diri. Aku tidak bisa membayar kebaikanmu dengan apapun."

Ice terlonjak kaget. Ia tidak senang sama sekali dianggap begitu. Ice tidak membutuhkan imbalan. Oh, Ice pikir, ia mau sejumlah imbalan. Seperti contohnya, kebebasan dalam bertemu dan mengasuh Frostfire, karena Ice merasa Ice menyayangi bayi itu dan Ice sangat ingin mencoba menyimpan Frostfire di laci meja kerjanya. Ice penasaran, apakah Frostfire muat di dalam sana? Atau tidak?

"Sudahlah ... tidak apa-apa. Blaze memang meminta kamu menjagaku dan Frostfire. Tapi hanya sebatas itu. Jangan memanjakan kami dengan terlalu banyak kebaikan. Aku tak mau menyusahkan orang." Sang Maestro menyisikan rambutnya ke belakang telinga. Ice benar-benar mengurus segalanya.

Baru setelah ia beristirahat dengan layak dan terlepas dari kekangan rasa sakit ibu melahirkan, Sang Maestro sadar ia perlu membatasi diri. Sang Maestro tidak bisa selalu bergantung pada Ice, dan membebankan Ice seumur hidupnya, seperti sekarang, karena rasanya menyebalkan sekali. Sang Maestro pikir, pria itu juga punya pekerjaan, dan hal lain untuk direncanakan pada akhir pekan. 

(Nama) pikir, Blaze meminta terlalu banyak pada Ice.

Ice menggeleng lemah, "Aku tidak ... keberatan."

-

Ice menunggu di luar bangsal nifas. Katanya, dia perlu berdiskusi soal kepulangan (Nama) dengan salah satu dokter jaga di sana.

Ice x Reader | Mr. IceTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang