- 07

1.1K 158 52
                                        

Pintu eboni itu dibukakan oleh sesosok wanita vampir yang mengenakan tudung transparan berserat merah.

Ice sempat tersentak dan mundur, spontan menghindar karena alarm pendeteksi bahaya pada naluri manusianya berbunyi-bunyi. Ice melihat seorang wanita muda dengan pakaian seheboh Royal Family mau kawinan, tapi dengan setelan ball gown pretensius nan prestisius, sarung tangan satin merah, tudung berenda merah, dan sepatu merah. Gaun itu bahkan tak muat melewati pintu; bung, gaunnya menggembang sebab petticoat wedding gown di lapisan kainnya.

Dia lebih heboh daripada Cinderella ketika menghadiri pesta dansa sang pangeran deuteragonist, Robert.

"(Name)." Tergagap, Ice menyebutkan nama si pemilik rumah. Dia dibungkus oleh gaun yang benar-benar bernuansa mahogany, dan bahkan tidak ada warna lain selain merah di tubuhnya. Sejenak, meskipun Ice tahu dirinya lumayan sinting karena ia memikirkannya, Ice sempat bertanya-tanya apakah (Nama) nyatanya bukan berasal dari ordo manusia. Baiklah, dulu Ice mengiranya sebagai elf, karena pernak-perniknya tidak wajar di era modern, dan gaya busananya retro serta antik. Tapi sekarang, bila (Nama) berpakaian begini dan wajahnya betulan meresap ke dalam perannya, Ice kembali mencurigai (Nama) bukanlah makhluk berdarah manusia. Tapi vampir.

Kristal-kristal yang menjadi tatanan kalung matinee-nya bahkan terlihat seperti batu krimson dari reruntuhan Alhambra. Visualnya spektakuler, juga berlebihan, tapi enak dilihat jika dia berdandan begitu di karnaval orang-orang cantik—tapi tidak di rumah, apalagi jika tidak dalam kepentingan apapun.

"Oh. Ice. Kupikir tukang galon." (Nama) celingak-celinguk, ia memerhatikan jalanan lewat sela-sela pagar rumahnya, memastikan tidak ada tanda-tanda kedatangan kurir pengantar galon yang diestimasikan akan datang jam pukul sepuluh pagi dengan motor supra karbu milik eyang kakungnya.

Setelah melahirkan, dan punya anak, Ice rasa, Ice sudah bisa melepaskan pandangannya dari (Nama) sejenak. Karena Ice mengira, keberadaan Frostfire akan meluruskan disorientasi yang terjadi pada loker-loker pola pikirnya. Tapi tatkala Ice disambut oleh vampir wanita ini di ambang pintu, Ice jadi perlu putar otak untuk tetap mengawasi (Nama) bahkan ketika ia bekerja.

"Kamu? N-ngapain?!" Ice mengusap peluh di dahinya. Wanita itu penuh prahara. Sejak kematian Blaze—semenjak Ice diwajibkan menjaga (Nama), hari-hari Ice yang tenang secara signifikan mulai hilang dari kalender kesehariannya. Kerena (Nama).

Maksud Ice, lihatlah prilaku ibu satu anak itu. Dia mengenakan pakaian antik dan berat saat ia masih berada dalam tahap-tahap pemulihan. Bahkan korset di bagian torsonya tampak pengap dan menyakitkan. Ice tidak tahu jelas dalam tujuan apa (Nama) berdandan seperti vampir penghisap darah di serial dracula orang luar negri, tapi Ice ngeri Sang Maestro akan membengkalaikan konsumsi obatnya, menyayat tangannya lagi agar ia bisa menghasilkan pigmen cat Vermillion, dan ia mengenakan pakaian tak nyaman sehingga proses involusi rahimnya terganggu.

"Aku mau melukis. Aku mengembalikan mood dengan cara ini." (Nama) mengaku. Tak ada sedikit pun rasa bersalah di guratan wajahnya. Emosinya terpantau stabil, tapi wajah itu tetap mengindikasikan adanya kegilaan.

Tak lama kemudian, Ice mendengar suara bayi menangis.

Tanpa menunggu dipersilahkan masuk dan disambut oleh Sang Maestro sebagaimana mestinya seorang tamu berprilaku, Ice mendesakkan diri ke pintu menuju ruang tamu. Ice tidak berbasa-basi dengan permisi, dan ia melenggang pergi ke dalam rumah seperti orang VOC kala mereka menjajah Hindia Belanda. Mata Ice mencari dimana Frostfire berada. Entah kenapa, Ice tidak bisa percaya sepenuhnya pada (Nama). Pertama, karena (Nama) tak berpenampilan seperti seorang ibu, kedua—dan yang paling penting, (Nama) itu jelas gila. Ice tidak bisa membiarkan Frostfire diurusnya sendirian.

Ice x Reader | Mr. IceTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang