[REVISI]
Dendam dan Cinta?
Keduanya merupakan hal yang berbeda. Dua kekuatan yang bertolak belakang namun sama-sama menghancurkan. Mereka seperti dua arus yang berlawanan, namun membawa perubahan yang tidak terduga. Ketika keduanya hadir diwaktu ya...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
" Aku, akan pastikan semuanya setimpal. "
Lirih suara itu bukan seperti ucapan biasa, tapi peringatan. Mata yang menyorot dalam keadaan sekitar, dan deru napas yang teratur. Dia, diam. Dalam keheningan yang menenangkan jiwa.
Malam ini, dunia seakan mendukung. Tidak ada bintang yang terlihat, dan yang ada hanyalah desiran angin malam yang menusuk kulit. Dia menggerakan jari jemarinya dimeja. Tersenyum tipis dan terhanyut dalam pemikiran yang rumit.
Senyuman itu, bukan senyuman manis. Melainkan sebuah senyuman yang memberikan makna terdalam. Sulit dimengerti, dan mungkin rumit untuk dipahami.
" Ini, bukan hanya sebuah pisau yang terkena noda."
" Tapi bagaimana pisau itu terkena noda yang berlumur darah. "
☆
Tepat dalam sebuah ruangan, segerombolan orang tengah berkumpul. Kepulan asap melayang di udara, bau menyeruak dalam ruangan dan kulit kacang yang berserakan. Salah satu dari mereka membuka ponsel. Menyeringit bingung dan terkekeh sinis. Dirinya, seperti tertantang.
" Kenapa? "
Dia menoleh, saat salah satu dari temannya yang bertanya. Tidak menjawab. Dia, hanya memberikan ponselnya yang berisi sebuah pesan.
Unknown
|| Jln. Melati, datang jika kalian bukan pecundang.
??||
||Kami hanya memberikan tantangan kecil. Untuk kalian yang tidak memiliki nurani.
Memberikan ponselnya kembali, lelaki bermata sipit itu tertawa kecil. " Tau apa tentang nurani? "
Pemilik ponsel itu hanya diam. Kembali menatap seseorang didepannya yang sedang bermain game. Tanpa ragu, Alfan mengeluarkan suaranya.
" Sekarang di jalan Melati. "
Tau ucapan itu tertuju padanya, Shaka mendongak. Dia tidak menjawab. Menaikan sebelah alisnya seolah bertanya, siapa.
" Gue nggak tau mereka siapa. Tapi yang jelas, tantangan kecil yang mereka akan kasih. "
" Jalan Melati? Malam ini memang ada balapan liar disana, mungkin itu yang mereka maksud. "
Semua pasang mata menatap seseorang yang berbicara tadi. Dion, dia yang berbicara. Sebelum datang ke markas dia sudah lebih dulu mendapatkan berita itu. Dia memiliki banyak relasi, jadi tidak heran jika informasi itu diketahuinya.
☆
Sebuah pintu terbuka perlahan. Menampilkan seorang gadis dengan setelan tidurnya. Ia melirik sekeliling, mencari keberadaan seseorang yang akan dikunjunginya. Menyeringit bingung. Ia tidak menemukan seorangpun disana.